close

[Movie Review] The Diary of A Teenager Girl

the-diary-of-a-teenage-dream
the-diary-of-a-teenage-dream
The Diary of a Teenager Girl

 

 

Director: Marielle Heller

Cast: Bel Powley, Kristen Wiig, Alexander Skarsgård

Production: Archer Gray Production

Running Time: 102 minutes

Year: 2015

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Jangan terkecoh dengan penampakan poster utama yang memancarkan aura harmonisasi keluarga; terlihat satu sama lain lekat dalam bilik kehangatan. Background foto yang memantulkan warna cerah, sesosok pria dan wanita yang masih berusia matang, serta gadis belasan tahun yang mungkin dipandang khalayak ramai sebagai anak tunggal bergelimang kemewahan materi. Potret sebuah keluarga minimalis bergaya metropolis. Pastinya, bahan pembicaraan tak akan jauh berpendar dari pertentangan opini antara subjek-subjek bersangkutan; pemilihan jenjang karir akademis di universitas ternama, memapankan diri kepada pekerjaan hingga perjodohan yang dipaksakan. Maka, jika Anda berpikiran film ini akan berjalan seperti itu, silahkan buang jauh-jauh ke tong sampah yang disediakan di pojokan taman.

The Diary of a Teenage Girl merupakan paradoks yang penuh lekuk kontroversi. Ini bukan sekedar cerita yang mengisahkan problematika klise dari anak usia kencur: ingin jadi idola nomer satu di antara rekan-rekan sejawatnya. Akan tetapi pembawaan yang diusung dalam narasi fiksi menitikberatkan pada garis pengantar kompleks; mengarahkan persona Minnie Goetze (Bel Powley) untuk merajam gairah seksualitasnya ke ranah yang tidak terprediksi sebelumnya.

Minnie berumur sekitar 15 tahun. Jalannya masih terbentang panjang di sela-sela kehidupan normal. Memilih menjadikan diri sebagai civitas academica unggulan atau menggoreskan tinta bakat kesenian pun masih bisa dikejar spartan. Meski demikian, kendala utamanya terbesit lewat arus gelombang labil dan prahara menstruasi yang menyita pikir hingga menyusun rencana menyingkirkan kepala pemandu sorak di sekolahnya. Seharusnya pusaran permasalahannya tak jauh dari runtutan tersebut. Namun apa yang dihadapi Minnie bakal membuat tamparan keras bagi generalisasi lingkungan sosial. Sampai titik dimana ia terjebak romansa pelik dengan lelaki ibunya bernama Monroe Rutherford (Alexander Skarsgård)

the-diary-of-a-teenage-dream-scene
Minnie Goetze

Apa yang terpampang di depan Minnie melecutkan kegetiran absurd manakala remaja seusianya memperoleh pengalaman kompleks berupa hubungan intim dengan sosok pria yang usianya berada dua kali lipat di atasnya. Sesuatu yang sangat wajar apabila dalam fase pendewasaan diri, setiap gadis mempunyai tokoh penahbisan idola abadi. Semacam role model yang digilai setengah mati.  Tak hanya sebatas mengagumi dan terpasung perasaan, hasratnya menggebu, meluap, dan meletus berhamburan demi meraih keutuhan klimaks yang teramat. Pernah suatu masa ia mencoba untuk meniduri teman sekolahnya. Bukan kepuasan yang muncul melainkan sikap was-was cenderung terintimidasi.

Agar tak kehilangan antusiasme momen itu, Minnie merekamnya ke dalam cangkang audio-diary; sebongkah tape recorder yang ia pakai untuk menyimpan kalimat pertama setelah melampiaskan rongrongan birahinya. Seiring berjalannya waktu, kondisi yang dihadapi Minnie semakin berkubang pelik. Selepas dikeluarkan dari pekerjaannya, suasana batin Charlotte (Kristen Wiig) kian mengharu biru. Sisi emosionalnya kembali ke dasar nadir akibat keterpurukan karirnya. Akhirnya, Charlotte mengetahui tautan terlarang yang dibina Monroe dan Minnie. Merasa terkejut, Charlotte meminta Monroe untuk mengambil keputusan krusial; menikahi Minnie.

Marielle Heller selaku sutradara berhasil menangkap realitas aneh dan rumit dari seorang remaja yang tumbuh pada postur Minnie Goetze. Ia tak segan-segan dalam mengekspos ranah seksualitas untuk mengambil nilai-nilai yang sebenarnya muncul atas alasan norma dan susila. Di samping juga dapat menimbulkan afeksi-afeksi yang berujung dilema, depresi hingga kegundahan bak lorong labirin di tepian Berlin. Coba tengok saja bagaimana Minnie, Monroe dan Kimmie (saudara Minnie) menjalankan aksi threesome secara polos tanpa merasa harus menutupi segala bentuk urat kebingungannya. Sekilas, asumsi mengenai tingkat keprihatinan masalah ini sering luput dari pandangan mata. Apakah yang dialami Minnie membuktikan bahwa dampak dari ketiadaan sosok penjaga integritas tumbuh kembang anak mengakibatkan pergeseran filosofis, atau memang terdapat dorongan kuat yang memicu gairah tersendiri, bahkan bagi Minnie berujung teka-teki?

Film yang diadaptasi dari novel grafis berjudul The Diary of A Teenage Girl: An Account in Words and Pictures ciptaan Phoebe Gloeckner tersebut tak cuma menyajikan pertentangan emosi Minnie semata. Terdapat pula penggambaran latar San Fransisco medio pertengahan 1970 dengan segala kemeriahan bohemian, kultur hippies yang tersebar seantero kawasan serta distorsi rock bising yang terlampau sendu dibalik gaharnya Iggy Pop dan The Stooges. Brandon Torst yang bertanggung jawab dalam memegang kemudi layar sinematografis memenuhi layar perak dengan ingatan tentang area urban; menjajah tiap belokan sempit yang tersusun atas kepulan asap ganja maupun melodi ritmis yang membelah konstruksi bangunan baru di pertigaan Avenue. Sekaligus melengkapi kepingan fragmen yang terbuai sarkasme konyol.

Kredit khusus saya berikan kepada Bel Powley. Aktingnya sungguh memukau dengan segala gestur dan isyarat tubuh seakan di benak pikirannya terdapat seribu jaring masalah yang melekat otak. Pada suatu adegan ia sukses menunjukkan raut kekalahan atas kesakitan kuasanya, tetapi di lain waktu ia menunjukkan kharisma seorang remaja berusia tanggung yang masih mempunyai angan untuk menjadi figur laiknya Aline Kominsky. Singkat kata, Bel Powley mampu menyuguhkan keterpukauan di atas sajian drama yang melantun lara dan tawa. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response