close

[Movie Review] The Founder

a76ca829629993.5878f81b2caa1

Review overview

WARN!NG Level 8.1

Summary

8.1 Score

The Founder

Director: John Lee Hancock

Cast: Michael Keaton, Nick Offermen, John Carroll Lynch, Laura Dern

Production: FilmNation Entertainment, The Combine

Year: 2017

Film yang mengulas perjalanan kesuksesan seseorang dalam meramu brand kiranya membutuhkan kalkulasi dan perencanaan matang. Biasanya para sineas hanya berpaku pada metode usang serta pengambilan sudut pandang yang itu-itu saja. Tanpa disadari hal tersebut menjadi kesalahan elementer yang menjerumuskan standar pencapaian. Alhasil, efeknya mudah ditebak: degradasi kualitas. Memang tak gampang menggambar konstruksi film yang melibatkan langsung ekspedisi keberhasilan. Mengartikan substansi pengalaman hidup ke dalam tumpukan naskah nyatanya bukan perkara sederhana. Variabel penunjang patut dicantumkan agar keluarannya tak kelewat klise nan murahan.

Dalam perkembangannya film yang mengusung tema semacam ini banyak muncul di pasaran. Ada yang berhasil menuai pujian, ada juga yang terjerembap kritikan. Tak semua berujung respon positif. Namun bagi saya, Steve Jobs (2015) arahan Danny Boyle mampu meninggalkan kesan yang menyenangkan. Kolaborasinya bersama Aaron Sorkin selaku penulis naskah melahirkan permadani yang tersusun atas dialog-dialog cerdas dari eksplorasi lain sisi. Dipaparkan secara tajam dengan topik yang mungkin bakal memantik sumbu kontroversi.

Pelbagai anak dari perkawinan globalisasi bergantian mengunjungi layar perak. Narasi tentang Apple, Disney, hingga Facebook adalah contoh terkini yang dipoles tak hanya lewat transkrip baca tulis. Lantas dalam pikiran sekelebat timbul pertanyaan; bagaimana dengan McDonald’s? Bukankah ia pantas disandingkan sejajar dengan rakitan Silicon Valley yang menghasilkan dampak berskala luas untuk tatanan semesta? Rasanya kurang berkah apabila untaian tentang McDonald’s cuma direpresentasikan melalui dokumentasi Super Size Me (2004) yang menggeletik itu. Dengan jutaan pegawai dan ratusan ribu gerai yang tersebar di penjuru dunia, berandil satu persen dalam memberi makan populasi bumi, hingga lancarnya trilyunan pendapatan, semakin memenuhi persyaratan untuk lolos uji kompetensi. Ditambah, apa yang sebetulnya menghilhami McDonald’s sampai seperti sekarang menarik untuk diterjemahkan dalam konklusi visual.

Hingga tiba akhirnya wacana yang berkeliaran menjadi kenyataan. Menggandeng John Lee Hancock serta Michael Keaton sebagai motor utama, film yang mengisahkan sepak mula berdirinya McDonald’s rilis dengan judul The Founder. Tidak jauh beda dengan kisah sukses lainnya, kemustahilan dan keputusasaan membuka tirai permulaan. Ray Kroc (Michael Keaton) awalnya hanya penjual mixer yang rela berkelana sampai penjuru timur Amerika untuk menawarkannya di gerai-gerai makanan setempat. Dengan strategi marketing ataupun kelincahan lidah dalam membingkai kata-kata ajakan, hasilnya tetap nihil: tak menarik minat pembeli. Menyerah sempat hinggap di otaknya sebelum telepon pesanan dari San Bernardinho mengubah garis takdirnya.

Tanpa pikir panjang, Kroc menempuh perjalanan darat untuk memastikan sekaligus memenuhi rasa penasarannya kepada pemesan. Sesampainya di sana, ia menyaksikan pemandangan yang belum pernah terlintas di pikirannya. Gerai makanan siap saji bertuliskan McDonald’s dengan antrian panjang, kebersihan yang terjaga, pelayanan memuaskan nan terpadu, ketepatan penyajian dan kelezatan burger tiada dua. Ia terperanjat. Seumur-umur belum pernah kiranya mendapati fakta semacam itu di tengah kondisi memprihatinkan sebagian besar kedai makanan Amerika; standar pelayanan yang rendah berupa keterlambatan serta pengembalian menu tidak sesuai pesanan. Seketika Kroc memperoleh wahyu yang paripurna.

The Founder memaparkan alih cerita yang menarik. Konsep fast-food dengan penataan dan pengaturan pelayanan sedemikian rupa ditambah ide tentang perluasan wilayah bisnis melalui franchise menjadi sumber informasi mencerahkan. Keduanya saling berhubungan dan menjalin ikatan bertaraf mutualisme. Kontrol kualitas, pengawasan, serta reaktif dalam revolusi pasar memaksa sepasang kepentingan musti bersatu. Maurice (John Carroll Lynch) dan Richard McDonald (Nick Offerman) bersaudara yang penuh kehati-hatian, konservatif serta berpikir bisnis tak melulu urusan untung-rugi. Menganggap McDonald’s ciptaan mereka merupakan embrio kesayangan yang sepatutnya dijaga. Sedangkan Kroc berorientasi pada hasil dan keyakinan untuk tumbuh hebat. Kesempatan emas ada di dalam tubuh McDonald’s, maka ia sekuat tenaga akan mengeruknya demi ambisi nomor satu dan pengakuan publik atas kontribusinya.

Intrik dan konflik mulai bermunculan setelah nota kesepakatan ditandatangani di atas lembar hitam putih. Perbedaan, bukannya menghadirkan keragaman justru menyimpan bom atom yang siap meledak di antara ideologi bagaimana menjalankan entitas McDonald’s. Lihat ketika mereka berdebat tentang penggunaan bubuk milkshake yang menodai definisi milkshake sebenarnya. Bagi Kroc, langkah memakai bubuk dianggap mampu menghemat pengeluaran operasional. Akan tetapi bagi McDonald bersaudara, pemakaian bubuk tidak bisa ditolerir karena tidak mengandung objek susu yang mencederai standar kualitas konsumen. Atau dalam ukuran lebih signifikan, simak saat Kroc menggeser ketukan franchise dengan membeli tanah tidak lagi sebatas menyewa, yang mana menetapkannya di atas pucuk kewenangan. Perlakuan Kroc tersebut pula yang menandai terkikisnya hubungan McDonald bersaudara bersama buah kerja keras mereka.

McDonald’s dibentuk atas kemungkinan Dick dan Mac, lantas diteruskan oleh keinginan kuat Kroc dalam mewujudkan semangat American Dream. Kepercayaannya menguatkan sikap optimis bahwa McDonald’s mampu berlari cepat dan tak terkejar. Menggadaikan rumah untuk jaminan, menceraikan Ethel (Laura Dern) yang diasumsikan tak mendukung karirnya dan melenyapkan logika serta nalar yang termakan dominasi ketamakan maupun pemenuhan balas dendam. Dari pecundang dan tamu yang disambut hangat oleh McDonald’s berubah menjadi penguasa cum si picik asal Illinois. Siapa yang menghalangi gebrakannya, ia tak segan menyingkirkannya termasuk McDonald bersaudara (bagian di mana Kroc melemparkan cek kosong semasa Mac dirawat di rumah sakit, royalti mereka tak pernah dibayar maupun pembangunan franchise berhadapan dengan gerai asli McDonald’s di San Bernardinho memantapkan opini betapa agresifnya Kroc).

Apabila ditelisik lebih seksama, cerita yang membelakangi McDonald’s hampir sama dengan kemunculan Facebook di The Social Network. Ide perihal McDonald’s dengan segala atribut inovasinya yang menginspirasi banyak gerai untuk berlaku serupa, bukan berasal dari kepala Kroc melainkan McDonald bersaudara. Sama halnya dengan ide Facebook yang berawal dari Cameron-Tyler Winklevoss dan Divya Narendra lantas disempurnakan menjadi mesin pelebur global oleh Mark Zuckenberg. Baik Kroc maupun Zuckenberg merupakan pihak yang memanfaatkan peluang sebaik-baiknya. Mereka berhak untuk berkata tidak pernah mencuri ide. Tak salah memang. Tatkala pihak lain tidak bisa mengoptimalkan, tekad Kroc dan Zuckenberg mengambil alih ruang di bawahnya.

Rasanya kurang lengkap jika tak menyertakan apresiasi dan kredit bagi penampilan Michael Keaton yang mengkilap bak permata. Ia berhasil memberikan nyawa kepada sosok pebisnis, penangkap peluang, maupun pekerja kelas menengah yang mencerminkan secara utuh retorika tentang Amerika; dilindas keraguan, menuju kebangkitan, terbutakan naluri kemudian menahbiskan diri sebagai penguasa berkocek tebal. Setiap gerak-geriknya memerankan tokoh Ray Kroc dilandasi pemikiran dan keputusan untuk menjadi besar. Pembuktian yang mengesankan selepas kegemilangannya di Birdman ataupun Spotlight.

Menonton The Founder, selain melihat perkembangan sejarah juga persoalan menyikapi dengan kebijaksanaan. McDonald’s lahir, tumbuh dan berdiri tegak membawa cap bernamakan produk besar. Tak cuma dalam lingkup makanan cepat saji, tapi bergulir menjadi keturunan kebudayaan. Sejarah McDonald’s mungkin membuat kita marah atau bahkan menyesal atas seluruh konflik yang mengikutinya. Ambisi memang mengerikan. Ia dapat menghilangkan apa saja yang sudah tertanam di sekitar kita tanpa pandang bulu. Akal sehat musnah tergantikan nafsu yang menguasai pikiran seraya menegaskan tak ada celah untuk kegagalan.

Dengan cermat, John Lee Hancock menjahit diorama tentang McDonald’s secara elegan. Dibantu Robert D. Siegel selaku penulis naskah, Lee menyediakan keutuhan The Founder yang menawan. Ia menghindari kesan menggurui dalam babak demi babak, fragmen demi fragmen. Membebaskan penonton mengambil dan mengartikan ulang ungkapan kata yang termaktub sepanjang menit berjalan. Entah mengasihi Mac dan Dick, mengutuk penuh umpatan, memakluminya, atau mengagumi etos Kroc yang gigih. Tak ada yang memaksa dan menjerumuskan pandangan. Sering kita mencela sikap buruk, memuji sifat baik. Menghakiminya dengan argumen sendiri. Tapi sesungguhnya Lee hanya ingin menjelaskan; terkadang baik dan buruk dapat berandil dalam perubahan besar. Lewat The Founder, Lee menggariskannya dengan kekhidmatan. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response