close

[Movie Review] The Gift

The Gift

The Gift (2015)

Director                : Joel Edgerton

Cast                       : Jason Bateman, Rebecca Hall, Joel Edgerton

Durasi                   : 108 Menit

Studio                   : Blumhouse Productions, Blue-Tongue Films

[yasr_overall_rating size=”small”]

the gift
the gift

 

Tahun ini, anda (mungkin) sudah dipuaskan oleh lanjutan prahara Avengers dan dibukanya kembali Taman Safarinya Steven Spielberg. Sebagian lainnya masih berliuran menunggu kejutan apa yang disiapkan Quentin Tarantino di Hateful Eight dan tentunya, babak baru dari hikayat Star Wars. Tiba-tiba, paman Owen menggarap directorial debut yang begitu memikat berjudul The Gift.

“Paman Owen siapa?” Barangkali anda bertanya. Ia adalah saudara tiri Anakin Skywalker di Attack of the Clones. Masih lupa? Wajar, tidak ada alasan bagi anda untuk mengingat karakter itu. Ingat saja nama Joel Edgerton, aktor yang memerankannya. Aktor yang sama juga beradu akting dengan Johnny Depp sebagai John Connolly di Black Mass. Memang, Joel Edgerton bisa dibilang tidak masuk dalam jajaran aktor A-list Hollywood. The Gift juga menjadi kesempatan pertamanya untuk duduk di kursi sutradara. Tapi, jangan biarkan popularitasnya yang tidak seberapa membuat anda memandang sebelah mata The Gift. Segera beli tiket bioskop untuk menontonnya.

The Gift mengambil premis di California, dimana Simon (Jason Bateman) dan istrinya, Robyn (Rebecca Hall) baru saja memulai lembaran baru dalam hidup mereka. Mereka adalah pasutri yang bahagia. Hampir terasa membosankan, jujur. Hidup mereka, meski sejahtera, terlalu biasa-biasa saja. Sampai suatu hari mereka berpapasan dengan Gordon “Gordo” Mosley (Joel Edgerton), seorang figur dari masa SMA Simon.

Tampang hambar Gordo tidak sedikitpun menuai rasa cemas atau waspada. Dia bukan setelan orang yang akan menggedor pintu rumah anda dengan kapak atau parang. Tapi, jelas ada yang aneh dari dirinya, dan bukan sekedar aneh lantaran Gordo canggung dalam bersosialisasi.

Hanya dari pertemuan yang tidak direncanakan itu, rasa gelisah dan penasaran langsung terbangun dalam The Gift. Setelah itu, Gordo makin sering menyambangi rumah Simon dan Robyn. Terkadang membawa bingkisan, ketika Simon bekerja dan meninggalkan Robyn sendirian. Tidak seperti penonton yang dibuat terus penasaran akan niatan Gordo, Robyn tidak merasa aneh dengan kehadirannya. Justru ia mempertanyakan sikap kasar yang ditunjukkan Simon kepada Gordo.

Semakin jauh ke dalam durasi The Gift, pertanyaan-pertanyaan akan semakin menumpuk. Satu yang paling menonjol, mengenai masa lalu kelam Gordo yang melibatkan Simon. Tapi Joel Edgerton, yang juga menulis naskah filmnya sendiri, tidak bertele-tele memberikan penjelasan. Bahkan tersirat sedikit keraguan mengenai ada atau tidaknya masa lalu yang buruk di antara keduanya. Hubungan pernikahan Simon dan Robyn pun ternyata tidak semulus yang terlihat di awal film. Namun, sama saja, entah apa alasannya. Ambiguitas akan masa lampau karakter-karakter ini justru menjadi elemen yang cerdas dalam The Gift. Film ini berfokus pada ketegangan dan ketidakberdayaan karakternya untuk bertindak.

Ya, rumah Simon dan Robyn memang terlihat apik. Di sisi lain, rumah itu terasa hampa dan rapuh. Mengekspos penghuninya ke dunia luar yang begitu mengancam. Sementara di dalam hanya ada koridor gelap tak berujung dan jendela besar yang begitu mudah untuk dijebol. Tidak meninggalkan sedikitpun ruang untuk intimasi dan kehangatan. Coba sana bangun keluarga yang bahagia dan sejahtera dalam atmosfir seperti itu.

The Gift memang banyak menggunakan trik lama film-film thriller. Tapi tidak sedikitpun ada kesan repetitif apa lagi menjiplak. Joel Edgerton berhasi membangun dunia yang begitu efektif untuk menanam ketakutan hingga ke ranah psikis. Kejutan selanjutnya datang dari Jason Bateman yang sebelumnya banyak mengambil peran komedi. Aktingnya memperlihatkan keseimbangan antara suami yang khawatir pada keluarganya dan di sisi lain orang yang patut dipertanyakan moralitasnya. Rebecca Hall juga patut diapresiasi karena berhasil menjembatani rasa penasarannya kepada penonton.

Bingkisan terakhir yang diberikan film ini memberikan notasi kelam di penghujung durasi. Dalam sisi tertentu, The Gift adalah mimpi basah yang begitu voyeuristic. Dengan sadis dan perlahan melucuti emosi seseorang hingga tinggal menyisakan ketakutan yang terus melekat. Joel Edgerton berhasil meninggalkan penonton untuk berkutat pada keresahan yang mereka rasakan. Tidak ada cara yang lebih baik baginya untuk memulai karir sebagai sutradara. [WARN!NG/Kevin M.]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response