close

[Movie Review] The Jungle Book

The Jungle Book
The Jungle Book

Director: Jon Favreau

Cast: Neel Sethi, Bill Murray, Idris Elba, Scarlett Johansson, Ben Kingsley, Lupita Nyong’o

Durasi: 107 menit

Studio: Walt Disney Company (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Apabila ingin jujur, sebenarnya saya tidak terlalu suka dengan film berkonsep remake dari yang sudah ada sebelumnya. Selain alasan cerita mudah ditebak juga penambahan inovasi yang tak semenarik wacananya, ia cenderung main aman agar fondasi awal tetap natural. Lagipula terkadang yang ditonjolkan hanyalah bumbu pemanis hambar, pun tidak membantu meningkatkan kualitas sinema yang dibawa. Beberapa kali saya cukup kecewa dengan formulasi seperti ini sampai akhirnya The Jungle Book mematahkan ucapan yang kadung terlontar.

The Jungle Book merupakan fantasi klasik yang berkisah tentang petualangan anak rimba dengan hewan-hewan di dalamnya. Sebuah sajian dimana lanskap hutan lebat berisi beragam komunitas alam yang tunduk pada norma hukum rimba sebagai undang-undang dasar. Pada hakikatnya The Jungle Book terinspirasi oleh nota perjalanan yang disusun Rudyard Kipling. Kemudian di tahun 1967, Walt Disney membuat versi lengkap bertajuk animated musical comedy yang disutradarai Wolfgang Reitherman. Hasilnya? Disney mengeruk keuntungan besar; menyentuh angka 205,8 juta dollar. Empat dekade berselang adaptasi naskahnya dibuat kembali. Kali ini Jon Favreau (Chef, Iron Man) yang bergerak di kemudi belakang layar mengubah bentuknya menjadi live-action berbasis CGI. Penunjukan Favreau sendiri bagi saya cukup mengejutkan tapi di lain sisi memicu antusias berlebih; akan seperti apa ia menghidupkan kembali franchise yang lama tertidur?

Secara plot cerita The Jungle Book tidak mengalami banyak perubahan.  Alkisah, terdapat anak bernama Mowgli (Neel Sethi) yang tinggal di pedalaman rimba. Ia ditinggalkan orang tuanya dan kemudian dirawat kawanan serigala. Seiring berjalannya waktu, keberadaan Mowgli mendapatkan ancaman dari sang raja hutan. Bahwa kehadirannya akan memberikan ketidakseimbangan yang kelak membahayakan keutuhan ekosistem. Mowgli adalah malapetaka yang musti disingkirkan, pikir sang raja. Ia manusia yang cepat atau lambat mempunyai jalan pikir perusak meski sedari kecil menempati rimbunnya hutan tropis.

Favreau menguatkan karya ini dari dua aspek. Pertama soal pemilihan cast yang mengisi suara di tiap tokoh. Nama-nama yang tidak dapat diragukan lagi pesonanya diajak turut serta. Ada Bill Murray yang memerankan Baloo; beruang cerdik dari wilayah timur yang di pikirannya hanya berisi madu untuk musim dingin. Scarlett Johansson memberi sentuhan sensual pada Kaa; ular phytoon yang hampir merenggut nyawa Mowgli sebelum akhirnya diselamatkan Baloo lewat terkaman gagahnya. Raksha, ibu dari Mowgli yang berwujud serigala dimainkan begitu lembut oleh Lupita Nyong’o. Ben Kingsley menjadi mentor bagi Mowgli untuk mengarungi kehidupan lembah; berbentuk macan kumbang yang bernama Bagheera. Lalu Idris Elba bertransformasi ke tubuh Shere Khan; sang raja hutan yang berambisi menancapkan jemari kekuatan. Serta Christopher Walken yang berusaha menyerap nilai-nilai kebesaran King Louie; kepala suku dari kuil simpanse. Kedua, adalah menyoal sisi grafis animasi yang dikerjakan dengan tingkat detail tinggi. Dari sini Favreau berhasil menghidupkan atmosfir riil luasnya panorama rimba; melingkupi setting adegan serta hal-hal yang nampak kecil sekalipun. Penggunaan metode CGI menorehkan warna yang khas bagi identifikasi karakter. Sesuatu yang biasanya tidak tersampaikan begitu apik ketika teknik semacam itu marak dipasarkan bagi konsumen layar perak.

Dari sekian banyak adegan, saya merasa pertemuan Mowgli dengan King Louie di kuil kera adalah yang terbaik. Perbincangan yang tercipta di antara keduanya merupakan perundingan semu; hanya menampakan sifat manusia dalam balut tamak serta nafsu angkara. King Louie menawarkan perlindungan untuk Mowgli yang tak tahu harus berlabuh kemana; asal Bunga Api dapat digenggamnya. Jelas bukan jalan diplomatik yang bijak. King Louie paham betul bagaimana memanfaatkan bocah ingusan untuk memenuhi hasratnya sebagai raja yang ingin selalu diagungkan. Dan Favreau mengemas dialog dalam negosiasi ini secara magis, tentang sekat dilematis Mowgli dan rumahnya yang tak pasti.

Tangan dingin Favreau semakin menegaskan bahwa The Jungle Book berkembang menjadi legenda yang bermutu. Ia tidak sekedar menyempurnakan apa yang sudah termaktub tapi juga memoles dengan eksekusi brilian. Menyaksikan garapannya ibarat sekali dayung dua-tiga pulau terlampaui; mendapati visual yang menyegarkan serta merasuk kalbu nostalgia. Karena sejatinya menggarap ulang sepucuk cerita merupakan perihal menyediakan ruang bagi mereka yang ingin dan juga mampu melebur jadi satu tanpa harus membunuh identitas aslinya. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.