close

[Movie Review] The Lobster

The Lobster
the-lobster

Director: Yorgos Lanthinos

Cast: Colin Farrell, Rachel Weisz, Jessica Barden, Olivia Colman, Ashley Jensen

Durasi: 113 Menit

Studio: Picturehouse Entertainment (2015)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Lewat debut film panjang berbahasa Inggris yang mengambil konteks dunia pseudo, Yorgos Lanthimos sangat sukses menyajikan main-course satir kepada yang-diprediksi-akan-menjadi dinamika hubungan antar dua sejoli di masa depan. Label comedy yang dimaksud dalam genre The Lobster adalah dark comedy, dan mungkin, trigger warning ini akan sangat membantu Anda untuk membaca plot dalam film ini. Tidak akan ada tawa ketika menonton adegan hukuman telapak tangan yang dipanggang selepas masturbasi, atau pegawai hotel yang menggesek-gesekkan pantatnya ke pelanggan dalam rangka tes kualitas ereksi penis–kecuali jika memang Anda memiliki fetish tertentu.

Dalam tatanan paling ringkas, kerangka film ini terbagi menjadi tiga bagian: kumpulan manusia yang berusaha mendapatkan pasangan dengan mengikuti program absurd dari sebuah hotel, kawanan penyendiri pengikrar janji anti-cinta yang hidup di dalam hutan, dan kehidupan ‘normal’ berpasang-pasangan di kawasaan urban. Plot mengambil porsinya secara maju dan rata, dari kiri ke kanan. Karakter sang aktor utama, seorang pot-bellied David dengan muka murungnya, dieksplor lebih lewat tatanan lagak-lagu aparelnya: kumis tebal konservatif, potongan rambut ala pria pekerja kantoran, dan kacamata nirtrendi. Dari sini, modernitas sudah menapaki alur awal lewat konstruksi mulanya. Mungkin Yorgos Lanthimos merupakan hamba seorang Habermas. Konsepnya mengatakan jika apa yang kita alami sekarang ini dan nantinya adalah bentuk modernitas yang terdistorsi secara sistematis. Terdapat buah-buah dari konsep normatif mengenai modernitas yang kemudian secara faktual disimpangkan oleh tendensi historis tertentu, ia menemukan bagaimana modernisasi merupakan proses rasionalisasi dengan paradigma tunggal ‘rasionalitas-tujuan’ yang padatnya: membuat kita, manusia, menjadi masyarakat yang pragmatis. Dan menyindir kapitalisme–lewat scene kehidupan urban–yang membuat modernitas lalu berciri patologis, karena terjadinya erosi makna, alienasi, psikopatologi, dll.

Kembali lagi ke The Lobster, saya lalu teringat oleh potongan lirik FSTVLST di salah satu nomor “Hal-Hal Ini Terjadi” yang berlatar masa maha palsu: “Daging bertemu daging tidak lagi penting, hati bertemu hati tidak lagi sejati.” Sebelum masuk ke situ, pertama-tama penonton akan diberitahu mengapa judul film ini The Lobster. Konsekuensi absurd harus diterima oleh mereka yang tak kunjung mendapatkan pasangan selama 45 hari dalam program sebuah hotel, mendatangkan konsekuensi berwujud sebuah pertanyaan: “ingin jadi hewan apa kamu nantinya jika tak berhasil berpasangan?” karena kelak akan dilepas ke dalam sebuah hutan belantara, mayoritas jawaban merujuk kepada anjing, merpati, serigala, hingga kuda poni. Tetapi David justru memilih lobster dengan alasan: bisa hidup hingga 100 tahun, berdarah biru laiknya aristokrat, dan secara personal suka pada laut. Namun bukan kebetulan semata pilihan tersebut muncul lantaran makhluk ini adalah maskot dari gerakan surealis sejak tahun 30-an ketika Salvador Dali membuat sebuah karya seni mixed-media bertajuk Lobster Telephone/Aphrodisiac Telephone (1936)–sebuah telepon model lama bergagang lobster panggang. Aspek bawah sadar irasional manusia yang terwujud lewat citraan dalam tiap montase film ini tidak semerta-merta disajikan secara literer. Adanya kausa yang memunculkan motivasi menonton film ini dari tiap personal selalu jadi alasan yang nantinya berimpak kepada penerimaan masing-masing, anggap saja jika film ini cukup filosofis, atau paling tidak bagi saya sendiri.

Kisah dimulai dari monolog oleh seorang wanita tanpa nama-–diperankan Rachel Welsz–yang menceritakan awal pertemuannya dengan David (Collin Farrell). Hingga pertengahan film, narasi menggiring sang wanita masuk ke dalam hidup David, atau mungkin sebaliknya. Susah untuk mendefinisikan hubungan antara kedua manusia ini. Masuk ke dalam sebuah ironi dimana manusia diharapkan mampu menyesuaikan diri ke dalam sistem rancangan masyarakat secara rapi, efisien, namun sonder rasa. Definisi akan ‘kecocokan’ antara satu dengan yang lain sebagai sepasang kekasih yang bermakna pendek dan banal menjadi indikator bagaimana ide ‘pasangan ideal’ dalam latar dunia sureal film ini terbentuk. Tersebutlah mental dengan absurditas tinggi, seperti ketika pertama kali David tiba di hotel lalu ditanyai perihal ukuran sepatunya yang berujung kepada sebuah kebingungan. Hotel hanya memiliki ukuran sepatu 44 dan 45 sedang ukuran sepatu David adalah 44,5, sehingga ia harus memilih salah satu dari dua pilihan agar ringkasnya: cepat selesai. Secara habitual jika kita menyangkutkannya dengan realitas kini, begitulah yang terjadi di balik mentalitas left-swipe-right-swipe dari Tinder. Mungkin gaya hidup praktis nan primitif lain yang sangat terlihat adalah wujud jalan pintas untuk mencapai sesuatu. Pada The Lobster, antara lain: membenturkan kepala ke meja/tembok sekeras-kerasnya agar mendapatkan hati seorang wanita yang menderita mimisan setiap saat, rela menjadi manusia tanpa perasaan agar bagaimanapun bisa mendapat pasangan, atau yang paling epic justru di akhir film, sebuah adegan mind-blowing yang membuat benang merah cerita dari awal sampai akhir semakin terlihat dari guratan-guratan benangnya yang saling berkelindan. [WARN!NG/ Dwiki Aprinaldi]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response