close

[Movie Review] The Square

the-square-the-square-film-the-square-film-review-1

Review overview

WARN!NG LEVEL 8.9

Summary

8.9 Score

Ruben Ostlund

Drama

“Jika kami mengambil tasmu, lalu kami taruh di museum, apakah itu disebut sebagai karya seni?” tanya Christian, seorang kurator seni kepada wartawan yang mewawancarainya.

Apa itu karya seni?

Makna ‘karya seni’ bergeser bersama kemajuan teknologi. Walter Benjamin telah menyimak sejak era Perang Dunia II bagaimana karya seni mulai tereduksi esensi seninya akibat memungkinkan direproduksi besar-besaran secara mekanis, termasuk lewat visual (foto) dan percetakan. Di satu sisi, ini menghilangkan kesakralan dalam objek seni itu, namun di sisi lain ini memberikan akses lebih besar bagi masyarakat luas untuk berinteraksi dengan karya seni, baik sebagai produsen maupun konsumen.

Arthur Danto dan George Dickie beropini bahwa sebuah benda menjadi karya seni karena diakui demikian oleh konsensus di kalangan publik seni. Pemaknaannya pun kemudian mulai lebih mengarah pada sifat-sifat sosial. Karya seni tak lagi terpusat semata dalam benda seni itu sendiri. Sistem kerja dan hubungan-hubungan sosial di balik perwujudan benda itu juga menjadi bagian dari  karya seni. Kesadaran tentang akar sosial dalam karya-karya seni mulai tumbuh di kalangan publik seni.

Begitu juga subjek seni atau sosok yang sering disebut sebagai seniman. Menurut Martin Suryajaya, pergeseran makna “karya seni” akhirnya juga turut mengubah definisi terkait seniman. Jika seniman dan karya seni begitu dimuliakan dan disakralkan pada era Romantik, maka praktik seni kontemporer mulai mempertimbangkan juga relasi-relasi sosial di baliknya. Masyarakat atau publik seni bersama-sama menciptakan karya seni. Benda yang diciptakan seniman hanya akan menjadi benda aneh biasa tanpa konsensus publik yang mengakuinya sebagai karya seni.  Pemaknaan dari publik menjadi kian penting. Secara radikal, pandangan ini mengartikan bahwa setiap orang adalah seniman. Peran seniman profesional dalam konteks pandangan ini kemudian adalah sebagai organisator. Tugas mereka hanya menjadi penghubung yang mengkoordinasikan massa–para pencipta karya seni—untuk bersama-sama membangun relasi sosial dan realitas sosial yang baru.

Gagasan ini lalu diolah oleh Nicolas Borriaud menjadi sebuah teori bernama ‘estetika relasional’. Teori ini mengatakan bahwa praktik kesenian tak harus tercipta secara eksklusif di dalam relasi sempit seniman, kurator, dan kolektor, melainkan hadir dalam ruang sosial sehari-hari. Praktik kesenian kontemporer yang partisipatoris muncul di ranah umum seperti acara kampung, komunitas D.I.Y bawah tanah, atau bahkan pentas sekolah. Martin Suryajaya kembali memaparkan bahwa ada atau tidaknya benda seni tak lagi menjadi tujuan dari praktik kesenian relasional sebab praktik ini dilandasi oleh kemawasan bahwa seni pada dasarnya adalah hubungan sosial dan karenanya tak bisa direduksi pada benda.

Estetika relasional ini kemudian yang menginspirasi seniman Argentina, Lola Arias untuk menggarap karyanya, “The Square” dalam film yang berjudul sama ini. Pernyataan resmi Lola Arias dalam karya tersebut adalah, “The Square is a sanctuary of trust and caring. Within it we all share equal rights and obligations

Ini penting, jadi saya terjemahkan ya bro:

“The Square adalah tempat suci untuk kepercayaan dan kepedulian. Di dalamnya kita saling berbagi hak dan kewajiban yang setara”

Wujud benda “The Square” sendiri hanyalah instalasi berupa area-area kecil berbentuk bujur sangkar di lantai museum. Ketika menginjak area itulah pengunjung “saling berbagi hak dan kewajiban yang setara”. Seperti model seni partisipatoris dari Borriaud, “The Square” adalah karya yang mencoba mengkritisi relasi kultur masyarakat kontemporer. Sebuah karya seni yang kaya akan unsur-unsur sosiologis dan menonjolkan relasi sosial dari mereka yang berinteraksi dengannya. Pamerannya sendiri mencoba melihat kode moral para pengunjung. Memungkinkan bagi pengunjung untuk memilih jalur memasuki pameran secara berbeda berdasarkan apakah mereka menganut prinsip mempercayai orang lain atau tidak di era modern kini. Ada juga adegan di mana Christian (Claes Bang) selaku kurator pameran itu menyuruh putrinya meninggalkan ponsel dan dompetnya di dalam area “The Square” untuk menguji apakah nantinya ada pengunjung lain yang melanggar “kepercayaan” dengan mengambilnya diam-diam.

Pada dasarnya, relasi sosial yang ingin diujikan oleh “The Square” mirip seperti ide anarkisme. Bahwa semua insan setara dan tak perlu ada paksaan untuk membangun masyarakat yang saling percaya dan peduli. Saya menafsirkan “The Square” sebagai karya eksperimen untuk menunjukan bahwa gagasan utopis itu sebenarnya bisa saja sesuatu yang sederhana, cukup saling memposisikan satu sama lain punya hak dan kewajiban yang sama. Seperti lirik lagu “Pulau Biru” dari Slank: “Nggak perlu senjata / Nggak perlu penjara”

Namun, dunia ternyata tidak cukup dibangun dengan senyum dan logika balas budi.

Tokoh utama di film ini adalah Christian, dan ia menemukan jawaban atas harapan “The Square” dalam kehidupannya sendiri. Apa yang dialami oleh Cristian baik di dalam maupun luar kegiatan pameran ternyata ironis dengan konsep karya seni itu. Hidup tak sesederhana penyelesaian konflik pengendara dan pejalan kaki di persimpangan jalan, seperti analoginya ketika memberi sambutan pameran. Ia dicopet ketika menolong orang, memberi makan pengemis yang kemudian justru ngelunjak, dan sebagainya. Film ini dari awal juga telah mengambil banyak adegan terabaikannnya pengemis, orang cacat, serta aktivis yang sibuk bertanya “do you want to save human life?” di tempat umum. Apakah orang-orang yang lalu lalang itu tidak peduli dengan mereka? Belum tentu. Mereka bisa jadi peduli, hanya saja belum tentu percaya.

Ini mengingatkan saya pada perdebatan menarik antara analisa Sigmund Freud mengenai kondisi alamiah manusia dengan pandangan Thomas Hobbes. Freud beranggapan bahwa ada kondisi alami untuk merasa tidak aman dengan betapa kuatnya insting manusia untuk berperilaku jahat. Manusia punya kecenderungan alamiah menjadi antisosial dan menzalimi orang lain. Sikap saling memusuhi dalam diri manusia ini mengancam rusaknya relasi-relasi manusia beradab. Freud masih percaya bahwa nalar meminta kita untuk bekerjasama, namun ada unsur-unsur psikologis lain yang melanggarnya.

Beda lagi dengan pandangan Hobbes. Ia beranggapan bahwa nalar sejak awal tidak mengarahkan manusia untuk menghasilkan inisiatif membantu sesamanya. Justru sebaliknya, manusia cenderung punya rasa curiga satu sama lain. Dalam suatu kondisi tanpa aturan, seseorang tak punya jaminan bahwa yang lain akan menaati kesepakatan. Manusia terdorong untuk bersikap ofensif terhadap lainnya hanya demi mencari rasa aman. Hobbes menilai bahwa rasa curiga adalah alamiah. Kita mengobjektifikasi orang lain tidak selalu karena kita butuh mengobjektifikasi orang lain, melainkan itu cara kita melidungi diri dari aksi objektifikasi orang lain. Meminjam teori prisonner’s dilemma, bila seorang terdakwa menduga rekan kriminalnya akan bersaksi memberatkannya, maka ia pasti terdorong untuk bersaksi memberatkan rekannya itu juga. Joseph Heath dan Andrew Potter lalu percaya bahwa ini bukannya membuktikan adanya insting keji yang melampaui perangkat rasional kita, melainkan respons rasional atas situasi yang tidak saling percaya. Makanya Lambe Turah itu laris, karena mengakomodir naluriah masyarakat untuk suuzan.

Hasil gambar untuk the square

Menjadi lebih rumit lagi tatkala masing-masing orang memiliki status sosial dan latar belakang yang berbeda-beda. Kepentingan yang beragam itu menumbuhkan syak wasangka yang lebih kompleks dan bertingkat. Salah satu contohnya adalah adegan Christian dan Anne (Elisabeth Moss) selepas berhubungan seks. Anne menawarkan diri untuk membantu membuangkan kondom yang selesai dipakai Christian, namun sang kurator menolak. Ia khawatir Anne akan memanfaatkan bekas kondom beserta spermanya di dalamnya untuk menjebaknya di situasi-situasi sulit. Tentu saja ia segan mengutarakan kecurigaannya secara terus terang, tapi tetap saja Anne tersinggung karenanya. Bisa ditelisik adanya perbedaan latar belakang yang membuat keduanya bisa ada di posisi tidak enak ini. Anne mengajukan kepedulian dengan menawarkan bantuan, tapi Christian meresponsnya dengan negatif gara-gara sebuah ketidakpercayaan. Alasannya, ia merasa dirinya punya kedudukan sosial di atas Anne berkat reputasinya sebagai penggiat seni kondang. Mungkin ia sudah biasa tidur dengan wanita-wanita yang mengaguminya sebelumnya. Christian selalu was-was jika relasi ini dijadikan kesempatan bagi wanita yang ia kencani untuk melakukan hal yang lebih jauh. Status sosialnya yang lebih tinggi menjadikannya lebih mudah merasa terancam.

Sejak awal, Christian tidak melihat dirinya setara dengan Anne dan kebanyakan orang lainnya. Ini terjadi juga tatkala ia membujuk seorang anak buahnya untuk rela beraksi diam-diam menyebarkan surat anonim di sebuah apartemen demi memancing keluarnya pencopet dompet dan ponselnya. Christian bilang, “You are aware that i’’m sort of semi-public figure?” Dari hematnya, tak patut jika ia turun sendiri melakukan aksi ini secara langsung. Konsekuensi jika aksinya ketahuan orang lain akan lebih besar dibanding jika yang melakukannya adalah anak buahnya selaku “bukan figur publik”.  Gagasan “saling berbagi hak dan kewajiban yang setara” tak berlaku di luar area “The Square”.

Saat ia memberikan klarifikasi dalam rekaman video yang akan diberikan untuk seorang bocah yang dimarahi orangtuanya karena penyebaran surat anonim itu, Christian sempat melantur—tapi benar juga—dengan mengakui adanya permasalahan struktural masyarakat yang lebih besar di masyarakat. Ia sadar bahwa ada kesenjangan dan kelas dalam dunia ini, melahirkan adanya prasangka-prasangka buruk antara satu golongan ke golongan lainnya. Ketika seorang borjuis berhadapan dengan seorang fakir miskin, apa yang dipertaruhkan satu sama lain adalah berbeda. Ini yang memberatkan Christian memenuhi tuntutan untuk datang dan meminta maaf secara langsung dengan orangtua sang bocah.

Perasaan peduli terintangi oleh minusnya perasaan percaya. Keduanya harus hadir serentak, seperti yang diidealkan oleh “The Square”. Karenanya sistem yang diinginkan “The Square” memerlukan kerjasama relasional, ”saling berbagi hak dan kewajiban” yang tentu saja sukar diwujudkan tanpa adanya kepedulian dan kepercayaan. Salah satu solusinya adalah tindak represi. Untuk bisa percaya, orang harus diyakinkan adanya jaminan (berupa sanksi atau pengawasan) bahwa orang lain tidak akan melakukan hal-hal buruk kepadanya. Maka akhirnya orang-orang membuat aturan.

Dibutuhkan tatanan institusional agar kita bisa yakin bahwa orang lain tidak akan berbuat yang tidak-tidak karena ada hukum dan sanksi yang mengawasi mereka. Pada dasarnya kontrol sosial selalu ada di sistem masyarakat, entah yang sifatnya formal yang termaktub dalam undang-undang maupun informal seperti budaya antri atau kesadaran untuk tidak berisik di bioskop. Ekspresi ketakutan masyarakat modern terhadap ketiadaan aturan terwakilkan oleh performa Oleg Rogozjin dalam adegan paling epik di film ini yang bahkan sampai dibungkus menjadi poster.

Adegan itu berupa sebuah performa seni pertunjukan yang ditampilkan di tengah-tengah para undangan pameran “The Square”. Selama 10 menit penuh, Rogozjin yang bertingkah laku seperti binatang buas muncul dan berinteraksi dengan mereka. Punya tubuh berotot, bertelanjang dada, dan berbahana menyerupai kera, tindak tanduk Rogosjin menjadi teror bagi para tamu itu. Aturan dari performa ini untuk partisipasi para tamu adalah jangan menunjukan rasa takut supaya justru tak memancing naluri Rogozjin untuk mendekat. Lebih baik bersikap tenang dan anteng, salah satu caranya dengan membayangkan bahwa ia sedang sibuk menyerang tamu yang lain.

Selain unsur estetis dalam konsepnya, adegan ini menjadi monumental karena performa dahsyat dari Terry Notari yang memerankan Rogozjin. Ia memang terbiasa menjadi aktor untuk tokoh binatang, termasuk sebagai Rocket di Planet of The Ape. Perannya itu pula yang kemudian menjadi pakem penampilannya di The Square. Bahkan, ia memang ditemukan Ostlund setelah sang direktor mengetik “actor imitates monkey” di mesin pencari Google. Berkatnya, saya seperti menonton sebuah pertunjukan seni secara langsung.

Rasa tegang juga benar terasa. Apalagi ketika Rogozjin akhirnya betul-betul menyerang beberapa tamu. Kekacauan ini terinspirasi dari performa nyata dan kontroversial oleh Oleg Kulik, seniman tenar yang berpura-pura menjadi seekor anjing dan menyerang para pengunjung pameran di Stockholm pada tahun 1996. Dalam performanya, ia dirantai di sebelah marka bertuliskan “berbahaya”, lalu menyerang para pengunjung yang mengabaikan marka itu, hingga menggigit seorang pria. Makin menjadi-jadi, ia juga menghancurkan artworkdari seniman-seniman lainnya yang sedang dipamerkan di sana. Ini adalah bentuk luapan amarahnya terhadap krisis budaya yang sedang berlangsung. Maka, bagi Oleg Rogozjin, aksinya menyerang para tamu undangan sepertinya adalah bentuk murkanya terhadap masyarakat kontemporer yang makin apatis dan kehilangan harmonisasi sosial. Terbukti butuh waktu lama untuk para tamu berinisiatif menolong seorang wanita yang dijambak dan dianiaya olehnya. Orang-orang ini terlalu menaati usulan penyelenggara untuk menjadikan pengorbanan sesamanya sebagai jaminan keamanan diri sendiri.

Ketakutan pada sosok Rogozjin menunjukan bahwa mereka takut pada barbarisme atau ketiadaan aturan. Sebagaimana binatang buas, Rogozjin dalam perannya memang tidak kenal kontrak moral, sehingga tak ada jaminan bahwa ia tidak melakukan sesuatu yang mengerikan. Teror muncul dari persepsi ini. Jika terhadap pengemis saja orang-orang merasa tak menemukan keamanan, apalagi dengan seekor hewan.

Sebabnya, di luar kekaguman terhadap film ini, sebenarnya saya agak mempertanyakan gagasan utama di balik karya “The Square”—yang diangkat dari karya serupa yang dipamerkan di Museum Vandalorum, Swedia di tahun 2014. Apa yang sejatinya coba dibuktikan olehnya? Pun jika terbukti relasi sosial yang harmonis bisa terwujud dalam area buatan “The Square” itu, tak membuktikan bahwa kesetaraan dan keadilan bisa tercipta begitu saja tanpa payung institusional. Pada akhirnya batasan area dan pernyataan “Di dalamnya kita saling berbagi hak dan kewajiban yang setara” itu sendiri adalah sebuah wujud regulasi. Bahkan, merupakan sebuah regulasi yang menjadi ketat—meski informal–karena hadir dalam skala yang kecil dan eksklusif, sebatas ruang dan waktu pameran itu berlangsung.

Saya tidak mengamini ini, namun film ini—sengaja atau tidak–memberikan pandangan menarik untuk mendukung asumsi Andrew Potter dan Joseph Heath  dalam Rebel Sells:

Kita butuh lebih banyak aturan.

[Soni Triantoro / WARN!NG]

Tags : andrew potterfilm senifilm seni instalasifilm swediajoseph heathorganisator senipameran instalasipameran museumpameran seni rupaseni pertunjukan
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response