close

[Movie Review] The Wolfpack

Wolfpack
The Wolfpack
The Wolfpack

Director                : Crystal Moselle

Durasi                   : 90 menit

Studio                   : Magnolia Pictures

[yasr_overall_rating size=”small”]

Apa yang anda lakukan jika bisa tumbuh dan tinggal di New York? Banyak pilihan. Menghabiskan pagi dengan jogging atau bermain catur di Central Park, menyaksikan teater di Broadway, atau sekedar menumpangi Subway seharian. Ah, atau menceburkan diri dari atas Brooklyn Bridge. Terserah, semua itu pilihan pribadi. Tapi, sepertinya tidak akan ada yang mau terkurung di sebuah apartemen empat kamar di Lower East Side selama belasan tahun. Itu adalah bentuk penyiksaan.

Bagaimanapun, Oscar Angulo, seorang imigran Peru, memaksakan nasib itu kepada istri dan ketujuh anaknya lantaran takut akan dunia luar. Ketakutan itu didukung pula dengan kepercayaan butanya terhadap ajaran Hare Krishna, entah itu nyata atau tidak. Ketika melihat kehidupan mereka di sebagian awal The Wolfpack, anda akan terheran. Keluarga Angulo membuat kaum hippies terlihat sebagai panutan masyarakat yang berguna. Ketujuh anaknya dididik sendiri oleh sang ibu dan menghabiskan waktu menonton film. Hal ini yang mulai membangun kedekatan emosional, terlebih jika para penonton tahu kekuatan sebuah film dalam melepaskan kita dari realitas. Mereka mereka ulang adegan-adegan berbagai film, dari Pulp Fiction hingga The Dark Knight. Tidak tanggung-tanggung, mereka membuat propertinya sendiri dan mencatat ulang setiap dialog kata per kata. Sinema seakan menjadi satu-satunya kenyataan yang mereka yakini bersama.

Sampai akhirnya di tahun 2010, Mukunda, anak pertama keluarga Angulo, menyelinap keluar dari rumahnya. Ia berkeliling di sekitar blok mengenakan topeng yang menyerupai Michael Myers dari Halloween. Tidak lama setelah itu, Mukunda ditangkap polisi karena banyak menimbulkan curiga. Mulai saat itu, saudara-saudaranya turut mencoba membangun koneksi dengan dunia luar.

Crystal Moselle mendokumentasikan cerita mereka yang aneh dengan sederhana dan penuh empati. Lewat The Wolfpack, mudah untuk menyudutkan Oscar Angulo karena telah merenggut masa kecil yang normal dari anak-anaknya. Ya, Oscar Angulo adalah bapak terburuk yang pernah hidup. Tapi Anda bisa memperlajari hal lain dari Mukunda dan keenam saudaranya.

Seperti anak-anak lain, yang mereka inginkan sebenarnya sederhana. Yaitu untuk mengetahui dan melibatkan diri dengan dunia luar. Setiap film yang mereka tonton tidak semata melumpuhkan kapabilitas mereka untuk membangun relasi dengan kenyataan. Justru, sinema telah membuka jalan dan pilihan baru. Mempengaruhi setiap tindakan dan cara mereka berkehendak. The Wolfpack, dari satu sisi mengangkat cerita tumbuh kembang anak-anak di tengah keluarga yang “disfungsional” dan tidak wajar. Disamping itu, The Wolfpack memberikan kesan romantis akan seberapa besar pengaruh sinema dalam kehidupan seseorang. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.