close

[Movie Review] Toni Erdmann

Toni Erdmann

Review overview

WARN!NG Level 8.6

Summary

8.6 Score

 

Director: Maren Ade

Cast: Peter Simonischek, Sandra Hüller

Production: Coop99, KNM, Missing Link Films

Year: 2016

Membahas hubungan orang tua dan anak memang bukan perkara yang mudah. Ada semacam gelombang psikologis besar yang turut menyertai di belakangnya. Lebih-lebih jika sang orang tua sudah berumur dan sang anak mulai menjajaki masa keemasan di usia matang. Pembicaraan seputar karir, pernikahan, serta hal-hal duniawi lainnya menjadi topik utama yang menyentil sisi sensitif. Di lain sisi intensitas bertemu tatap muka kian menyempit. Waktu berubah langka dengan segala kesibukan yang menemani hari-hari. Akhirnya, kekecewaan akan menghantui sisa tenaga yang tak lagi punya kuasa.

Melalui film terbarunya yang bertajuk Toni Erdmann, Maren Ade berupaya mengangkat relasi seorang ayah dengan putri semata wayangnya. Konflik personal begitu terasa ketika jurang lebar memisahkan kedekatan batin bagi keduanya. Usaha demi usaha dilakukan agar eksistensi tetap berdiri dan keterikatan bukan sebatas pengakuan lisan belaka. Sikap menerima beralih fungsi sebagai suatu pemaksaan dan memori masa silam hanya bumbu pelengkap yang tak mengesankan.

Winfried Conradi (Peter Simonischek) merupakan sosok yang eksentrik. Ia menyukai kekonyolan yang diciptakannya sendiri dengan alter ego bermacam rupa. Terkadang memancing tawa, terkadang memicu umpatan tanda tak lucu. Biarkan. Kekosongan yang menjalar di sekujur tubuhnya selepas perceraian serta rentangan jarak bersama putrinya menuntun ke pelampiasan bernama penghiburan diri.

Sedangkan buah hatinya, Ines (Sandra Huller) berbaris di deret pekerja profesional. Kehidupannya ditelan habis untuk urusan pembahasan kontrak maupun tenggat perjanjian bernilai milyaran. Ia fanatik, garis keras, serta militan dalam menyayangi dunianya. Kata normal dianggap tabu. Kiranya perlu lebih dari 24 jam guna merampungkan berkas-berkasnya; berpindah negara, presentasi, cek e-mail, hingga menemani klien membuang lembaran uang kertas di galeri kapital.

Mulai dari sini, Maren Ade menarik sumbu permasalahan; Winfried merasa seperti tak memiliki putri dan Ines menganggap hubungan dengan ayahnya tak ubahnya cuma formalitas. Ketebalan prinsip serta sulitnya membuka diri satu sama lain diduga menjadi faktor mengapa fase harmonis muskil diwujudkan. Hingga datang suatu momen di mana Ines melancong ke Bucharest dan Winfried menyusulnya diam-diam tanpa sepengetahuan. Menggunakan karakter lain beridentitas Toni Erdmann—pebisnis dengan wig aneh dan tempelan gigi menyeringai maju—hubungan keduanya dipenuhi pergulatan yang kocak, satir, sekaligus menyentuh perasaan.

Toni Erdmann menggambarkan suatu film yang sempurna. Maren Ade menyajikan realitas yang sering terlihat dalam kehidupan bermasyarakat bagaimana hubungan antara orang tua dan anak menjadi langka seiring berkembangnya waktu dan tuntutan. Anak hanya menghubungi untuk menanyakan kabar orang tua yang tanpa disadari semakin dilumat kesepian. Susahnya menemukan titik tengah yang menyeimbangkan permasalahan tersebut. Walapun demikian, Winfried tak patah arang untuk meraih kesempatan dekat dengan anaknya yang berujung menguntit di belakang bak stalker tanpa undangan.

Kekuatan Toni Erdmann terletak pada penulisan naskah yang baik serta ditunjang kemampuan kedua aktor utama dalam merefleksikan kerapuhan hubungan anak dan orang tua. Mereka seolah paham betul bagaimana menciptakan kondisi tatkala hubungan anak dan orang tua hanya sebagai perhiasan belaka yang perlahan demi perlahan digerogoti penurunan kualitas.

Penampilan terbaik saya tujukan kepada Peter Simonischek yang tanpa cela memerankan tokoh multi talenta. Kekonyolannya dalam meramu tingkah laku maupun jokes—yang kadang basi—membuat sosoknya begitu disayangi. Ia juga mampu memberikan penguasaan emosi saat dirinya mungkin tak dianggap lagi; simak ketika Winfried disalahkan karena tidak membangunkan Ines. Atau saat memberikan hadiah ulang tahun yang sederhana, upayanya membuatkan spaghetti, maupun tak diberi tahu saat Ines merayakan ulang tahun di rumah ibunya.

Banyak yang berujar bahwa Toni Erdmann termasuk kategori film komedi. Tak masalah. Tapi sebetulnya Toni Erdmann hanya film drama dengan bumbu komedi yang dibiarkan mengalir tanpa panduan. Tema keseluruhan tetap menyoal hubungan Ines dan Winfried. Jika di sepanjang adegan muncul narasi komedi, percayalah itu berarti bonus. Hitung-hitung pelipur lara di tengah durasi yang teramat panjang dan menimbulkan efek kebosanan akut di kepala.

Entah apa lagi yang dapat melukiskan betapa menyentuhnya film ini. Toni Erdmann secara lugas menyediakan dua pukulan dalam satu serangan. Membuat tertawa saat menonton Winfried menyanyikan lagu Whitney Houston, mengobral lelucon tentang dirinya yang membutuhkan anak angkat karena kegilaan jadwal Ines, dan secara bersamaan mampu membuat hanyut begitu jauh untuk mengulang masa silam bersama orang tua.

Lalu seketika saya memutuskan mengirim pesan WhatsApp kepada Ibu dan berkata, “Ibu apa kabar?” [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response