close

[Movie Review] Turah: Kematian dan Amarah yang Tak Sudah-Sudah

019884000_1505968265-film_turah

Review overview

WARN!NG Level 8.7

Summary

8.7 Score

Wajah biru—ombak tak menentu

Pada tepinya pasir yang terkancah air

Menggeliat tubuh telanjang anak nelayan

Dingin—lapar—dalam penantian

 

…Kapan kan jalan jadi milik yang kerja

Kapan laut ini tak dikuasai

tuantuan pemilik sampan

 

Dan biru laut adalah jawaban

Terangnya hari datang adalah miliknya”[1]

 

Puisi Laut dari Sri Isni adalah memoar tentang runyamnya kehidupan nelayan di Indonesia. Bekerja sebagai nelayan, mungkin, sama halnya dengan menyerahkan batang leher pada pisau bernama kabar buruk yang memiliki beragam wajah: kemiskinan, kekalahan, dan kematian. Nelayan gurem (yang tak memiliki modal, tak punya kapal) hampir dipastikan terjerat hutang yang beranak pinak dari tuan-tuan “pemilik sampan”: juragan pemilik kapal, pemasok solar, penguasa tempat pelelangan ikan, dan pengepul ikan. Harapan Sri Isni tentang “terangnya hari depan” sepertinya masih terlampau jauh digapai oleh nelayan hingga hari ini.

Relasi patron-klien yang kelewat mengakar hampir di sepanjang pesisir laut yang ada di Indonesia adalah salah satu prasyarat yang memungkinkan kemiskinan yang mendera kehidupan nelayan menjadi sebuah keniscayaan; bahwa relasi eksploitatif itu dilakukan dengan sengaja dan berulang-ulang agar terjadi upaya pemiskinan yang tak berkesudahan. Dan, kabar buruk tak berkesudahan itu kembali menyeruak melalui Turah, film debut sutradara Wicaksono Wisnu Legowo.

Turah dibuka dengan kematian seorang anak berusia 9 tahun di Kampung Tirang. Duka yang menyelimuti Kampung Tirang—sebuah kampung yang berdiri di atas tanah timbul di pesisir pantai utara Tegal—karena kematian dan kemiskinan adalah rangkaian kabar buruk yang menjadi jalinan cerita Turah. Duka demi duka tak lelah menghajar Kampung Tirang, yang karena saking sering dan terjadi berulang-ulang, memunculkan pilihan-pilihan moral yang kelewat rumit bagi tokoh-tokohnya: Turah dan Kanti yang memilih tak punya anak dan nrimo terhadap nasib, Jadag yang menyerahkan hidupnya ditelan amarah karena kemiskinan, Darso dan Pakel seperti pasangan mesra tuhan-malaikat yang berlaku seolah-olah memiliki hak atas hidup warga Kampung Tirang.

Kepasrahan Turah adalah bentuk pasif manusia menjalani kehidupan, yang selalu merasa “masih untung”—masih untung diberi pekerjaan oleh tuan pemilik lahan, masih untung bisa makan, masih untung bisa tidur. Sikap preventif a la Jawa yang kemudian diartikulasikan secara semena-mena oleh “gusti-gusti Jawa” untuk mengeksploitasi kawulanya, sikap yang sebenarnya digunakan untuk mencegah kerusakan terhadap keberlangsungan hidup pada sebuah ekosistem justru dijadikan modus penundukan penguasa-penguasa lokal terhadap orang-orang yang lemah. Sikap Turah ini, bisa jadi, adalah bentuk kepasrahan mayoritas kita dalam mengamini segala bentuk penundukan dan penindasan atas nama budi baik kepada orang-orang yang telah memerah hidup dalam ritus ekonomi yang eksploitatif.

Heroisme Jadag adalah wajah optimisme ugal-ugalan sebagian dari kita yang menelan bulat-bulat imajinasi kemenangan kebaikan atas keburukan, yang relasinya hampir selalu antagonistik—belum melampaui narasi moral atas peleburan keduanya. Atau bisa jadi heroisme Jadag adalah cermin yang menohok bagi kelas menengah yang mabuk bacaan dan doyan melontar kutipan-kutipan di laman sosial media tentang kehidupan yang lebih baik pasca kesusahan demi kesusahan yang melanda manusia. Masalah yang tak kalah pelik, ketika kita berhasil membaca kontradiksi internal dari modus eksploitasi, ternyata perubahan tak kunjung terjadi.

Bisikan maupun ceramah Jadag kepada Turah dan warga Kampung Tirang tentang akumulasi ketimpangan ternyata tak membuat hidup warga Kampung Tirang menjadi terang benderang, justru makin rentan melarat. Lantas apakah Jadag yang sepenuhnya menanggung beban kesalahan dan kegagalan atas proses penyadaran relasi eksploitatif itu? Dari semua tokoh yang ada di film Turah, Jadag yang paling menyita perhatian saya; ia adalah martir sekaligus biang sial.

Keberadaan juragan Darso beserta Pakel—sosok tangan kanan yang terdidik, seorang sarjana—tak lain adalah hubungan mesra nan koruptif antara rezim kekuasaan dengan pengetahuan. Menariknya, untuk menghadirkan sosok antagonis bernama juragan Darso, kita benar-benar tak disuguhi gimmick menjengkelkan yang berlebihan, yang oleh karenanya efek traumatis yang dihasilkan lebih halus, samar, terkesan baik-baik saja, tapi di saat yang sama justru jadi lebih mencekam.

Sensasi kolaboratif kekuasaan dan pengetahuan melalui personifikasi Darso-Pakel, mungkin, merupakan bentuk perampasan hak hidup yang semakin samar, santun, tapi semakin massif dan sistematis; yang tak memberikan kita jalan keluar dari isolasi sistem kecuali dengan membiakkan amarah atau dengan kematian.

Turah berhasil mengisolasi kita lewat pendekatan areal yang benar-benar terfokus pada Kampung Tirang yang secara geografis juga cukup terisolasi. Tawaran lain Turah yang tak kalah absurd adalah menyediakan jalan keluar agar terbebas dari isolasi itu: melarikan diri. Turah dan Kanti memilih mencukupkan diri mereka menerima duka demi duka dengan melarikan diri dari Kampung Tirang, membiarkan amarah dan kematian kembali memenuhi udara melalui kabar yang disebar lewat toa. Terdengar kelewat pesimis memang, tapi itu adalah apologi eskapik paling mudah. Apakah masalah menjadi selesai? Tentu tidak. [WARN!NG/Reno Surya]

Sutradara: Wicaksono Wisnu Legowo

Pemain: Ubaidillah, Slamet Ambari, Yono Daryono, Rudi Iteng, Firman Hadi, Bontot Sukandar, Narti Diono, dan lain-lain

Produksi: Fourcolors Film (2016)

 

[1] Laut, November 1962. Pramoedya Ananta Toer menyanjung tinggi Sri Isni sebagai suara generasi baru sastra Indonesia yang memiliki mata dan perasaan tajam, memiliki acuan moral sosial, dan belum mengidap infeksi sentimen-sentimen melankolik masa penjajahan. Bisa dibaca di karya Pramoedya yang berjudul Realisme Sosialis dan Sastra Indonesia, hal 160.

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response