close

[Movie Review] Warkop DKI Reborn: Jangkrik Boss! Part 1

warkop-dki
warkop-dki

Director                : Anggy Umbara

Cast                       : Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, Vino G. Bastian, Ence Bagus, Nikita Mirzani

Durasi                   : 100 menit

Studio                   : Falcon Pictures (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Sebelum memulai ulasan, saya merasa perlu meluruskan satu hal, rating ½ yang diberikan pada Reborn Part 1 tidaklah berarti apa-apa. Pasalnya, tidak ada skala penilaian dalam bentuk apapun yang bisa memberi ukuran pasti mengenai seberapa buruknya film ini, kalau memang masih bisa dianggap sebagai film. Namun, supaya gampang, dan supaya ada alasan untuk lanjut menulis artikel ini, saya berpura-pura menganggap Reborn Part 1 sebagai film. Saya juga bersikeras untuk mempersingkat judulnya menjadi Reborn Part 1. Karena mengasosiasikan nama Warkop DKI, termasuk catchphrase yang mereka populerkan lewat Chips, dengan film ini adalah sejadi-jadinya penghinaan.

Pada taraf tertentu, serendah-rendahnya memandang Warkop DKI adalah sebagai pusaka kebudayaan bangsa. Klaim yang rasanya tidak berlebihan. Bersama tokoh-tokoh lain seperti Ateng, Benyamin Sueb, para anggota Lenong Bocah, dan Mpok Nori, mereka adalah jawaban lokal atas legenda komedi macam Marx Brothers atau Monty Python. Lalu muncul sebuah pertanyaan retorik, apakah bijak untuk mewariskan Warkop DKI kepada seorang sutradara yang paling pantas dideskripsikan sebagai Adam Sandler versi Indonesia?

Jika sampai sini anda merasa ulasan ini kurang berimbang atau tidak objektif, maka persetan dengan diri anda. Setidaknya, saya tidak berlaku seperti para Nolan Fanboys yang datang menonton Batman v Superman dengan prasangka buruk, keluar bioskop sebelum film usai, dan melabelinya sebagai film terburuk sepanjang masa.

Tentu saya bersikap subjektif terhadap Warkop DKI. Mustahil untuk berlaku objektif pada entitas yang menjadi perwujudan nyata dari berkah Hari Raya Idul Fitri, kepada orang-orang yang membuat lagu “Libur Telah Tiba” milik Tasya terasa lebih bermakna. Tidak ada satu tahun atau satu liburan yang terlewatkan tanpa maraton film Warkop DKI di layar televisi. Walaupun selalu dipotong puluhan menit iklan dan sedikit terganggu dengan aspek rasio yang tidak sesuai, sehingga mantra andalan mereka biasanya terbaca “…RTAWALAH SEBELUM TERTAWA ITU DILAR…”

Di awal film terpampang foto almarhum Dono dan Kasino. Untuk sesaat, merinding menjalar ke seluruh tubuh. Bukan dalam artian menakutkan, tentunya. Merinding seperti ini biasanya cuma bisa didapatkan misalnya saat menonton rekaman peluncuran Apollo 11 dan pendaratan pertama di Bulan. Perasaan yang didapat ketika merenungi individu-individu tertentu yang mampu melampaui mortalitas melalui pencapaian dan karyanya. Lalu bersambung pada scene yang ditujukan sebagai homage kepada Setan Kredit, Indro mewartakan berita nyeleneh sekaligus menyentil.

Sisanya, tidak ada yang patut dibicarakan. Hanya potongan daur ulang film Warkop DKI yang dirajut berantakan, tanpa muatan ataupun sekedar kejelasan, kemudian dipadukan dengan materi stand-up comedy kekinian yang kian garing dan cenderung menyebalkan.

Tidak ada niatan pula untuk membahas editing yang terlalu memusingkan. Shot demi shot silih berganti hampir setiap satu karakter mengucapkan empat atau lima kata. Sulit dipercaya saya harus mengeluarkan puluhan ribu rupiah hanya untuk merasa marah dan depresi usai menonton film ini.

Tidak perlu menjadi penggemar Warkop DKI garis keras untuk memahami potongan mana yang diambil dari film mana. Abimana Aryasatya, Tora Sudiro, dan Vino G. Bastian akan mendiktenya secara paksa kepada tiga juta penonton di bioskop, plus 300 ribu sisanya yang memilih untuk streaming gratisan.

Mumpung teringat, melalui artikel ini pula saya secara pribadi ingin menyampaikan rasa hormat dan apresiasi tertinggi kepada Rini Orin, yang melalui akun Bigo Live pribadinya membocorkan Reborn Part 1 kepada masyarakat internet. Panjang umur kreativitas!

Generasi kita, atau dengan istilah yang sekiranya lebih tepat sasaran, generasi millennial, dewasa ini mendapatkan banyak kesempatan untuk menyaksikan kebangkitan film-film yang sempat berjaya di masa lampau. Kita akhirnya mendapatkan film Star Wars yang layak ditonton. Daniel Craig rupanya menjadi James Bond terbaik. Mulholland Dr dinobatkan sebagai film terbaik abad 21 oleh BBC Culture. Jangan lupa pula Mad Max: Fury Road, yang menetapkan standard baru untuk film aksi.

Kemudian apa yang didapatkan dari Reborn Part 1? Sebuah film yang mencantumkan sederet iklan sebelum filmnya dimulai. Bukan dimaksudkan sebagai parodi seperti pembuka Tropic Thunder, namun sebagai sarana promosi betulan. Kalau Reborn Part 1 disetarakan seperti sebuah album musik, maka film ini akan menjadi album greatest hits Warkop DKI terburuk.

Sembari saya berselonjor lesu di dalam bioskop, penonton lain masih bisa tertawa terbahak-bahak hingga kursi yang saya duduki turut bergoyang. Dari situ saya menarik dua kesimpulan. Entah bagaimana caranya, salah satunya harus benar. Pertama, mungkin bencana bernama Reborn Part 1 bukan sepenuhnya salah Anggy Umbara dan kawan-kawan. Mungkin, komedi seperti ini yang bisa memuaskan pasar sekarang, tidak jauh-jauh menyinggung rayuan gombalan atau gojekan patah hati, dikemas tanpa sedikitpun otoritas artistik dari sang kreator.

Atau kemungkinan kedua, sederhananya mereka adalah penonton yang lebih baik, lebih mampu mengapresiasi dan menikmati apapun yang disajikan di depan mereka. Kalau benar begini adanya, saya merasa sangat iri. Karena setelah saya menonton Reborn Part 1, saya hanya bisa duduk di Seven Eleven, ngemut permen Kopiko, sambil merasakan kekuatan hebat jaringan internet Tri.

Tanggal 8 September 2016 akan selamanya diingat sebagai hari dimana Reborn Part 1 seorang diri membunuh apa yang tersisa dari komedi Indonesia. [WARN!NG/Kevin M.]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.