close

[Movie Review] Whiskey Tango Foxtrot

Whiskey Tango Foxtrot

Whiskey Tango Foxtrot

Directors: Glenn Ficarra dan John Requa

Cast: Tina Fey, Margot Robbie, Martin Freeman, Billy Bob Thornton, Christopher Abbot

Durasi: 112 menit

Studio: Paramount Pictures (2016)

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Dalam dunia jurnalistik, nama-nama seperti Brian Hanrahan, James Cameron, hingga Alissa Rubin menjadi terkenal salah satunya lewat laporan brilian yang mereka buat dari pusat peperangan. Bukan sekedar statistik jumlah korban berjatuhan dari masing-masing pihak yang disampaikan, integritas dan pemahaman mereka turut membantu kita, orang biasa-biasa saja, merasakan sedikit absurditas perang. Memang, hanya individu-individu terpilih yang bisa bertahan di tengah perang, terlebih lagi piawai menerjang bermacam resiko dan keterbatasan untuk mengabarkan berita.

Tapi, sebagaimana yang ditunjukkan MASH atau Good Morning, Vietnam, masih ada gelak tawa yang bisa diambil dari suramnya peperangan. Kim Barker agaknya mengambil perspektif serupa ketika menulis The Taliban Shuffle, memoir yang mendokumentasikan pengalamannya menjadi seorang koresponden perang di Afghanistan dan Pakistan. Begitu pula dengan Tina Fey, yang kembali membenamkan diri ke dalam pesona eksentrik ala Liz Lemon di Whiskey Tango Foxtrot, adaptasi lepas dari buku Kim Barker.

Kondisi Irak yang semakin kisruh di tahun 2003 memaksa banyak media untuk memusatkan sumber daya terbaiknya kesana. Alhasil, tidak banyak perhatian yang diberikan pada Afghanistan. Salah satu media mencari personilnya yang belum menikah atau tidak memiliki anak untuk mengisi kekosongan tersebut. Kim Baker, seorang copywriter 40-an tahun yang bekerja di media tersebut, mengambil kesempatan itu agar bisa keluar dari rutinitasnya yang membosankan.

Kegaduhan yang sehari-hari terjadi di kediaman sekaligus kantor biro Kim bersama para koresponden asing lainnya seakan menertawakan hendam-karamnya Kota Kabul. Sama sekali tidak tergambarkan suasana dapur redaksi yang selalu dikejar waktu, pesta liar sering digelar, dimeriahkan konsumsi alkohol dan narkoba berlebihan. Begitulah cara mereka membunuh waktu di tengah perang yang mulai terlupakan.

Jangan langsung menghakimi mereka sebagai sekumpulan wartawan Bodrex. Sekalipun bom mulai berjatuhan dan deruan senjata mesin terdengar dekat, tak ada yang bisa menghentikan mereka untuk turun lapangan, lengkap dengan helm dan Kevlar. Dengan dukungan Tanya Vanderpoel, rekan sejawat yang kompetitif dan penuh semangat, Kim tidak butuh waktu lama untuk menyesuaikan diri. Hubungan baik juga terbangun antara Kim dan Fahim, seorang fixer lokal yang ditugaskan untuk memenuhi kebutuhannya selama di Afghanistan.

Setiap karakter dan predikat yang bersangkutan telah digalakkan dengan kuat di sepertiga awal film. Anehnya, sampai titik ini belum ada kulminasi atau corak besar yang bisa mengikat keseluruhan narasi Whiskey Tango Foxtrot. Rasanya film ini terlambat berkomitmen pada satu jalur dan berfokus untuk menyampaikannya dengan menarik, dan lucu tentunya.

Satu scene yang menyandingkan penggerebegan markas teroris oleh Marinir Amerika Serikat dengan balada “Without You” milik Harry Nilsson merupakan cara cerdas untuk mengundang tawa. Tapi kemudian, stereotip keturunan timur tengah yang menggemari pornografi keledai bukanlah contoh dagelan rasial yang segar. Meski tidak sepenuhnya garing dan tetap bisa dinikmati, canda gurau Whiskey Tango Foxtrot tidak cukup slebor dan kurang memenuhi ekspektasi. Rupanya, film ini memang tidak mau terus-menerus dianggap ringan.

Lewat sebuah percakapan, Kim menjabarkan alasan mengapa ia mengambil pekerjaan ini. Cukup menyentuh dan penuh ilham. Sialnya, percakapan itu hampir saja menjerumuskan Whiskey Tango Foxtrot ke dalam teritorium Eat, Pray, Love yang terlalu ‘kulit putih’ dan penuh pretensi. Kehadiran karakter Martin Freeman yang mulai menjalin hubungan romantis dengan Kim juga tidak membantu. Untungnya, Fahim memberikan perspektif baru sekaligus mempertegas atmosfir yang dicari-cari sejak film dimulai, setidaknya satu benang merah yang layak diulur sampai akhir.

Akhirnya, konklusi emosial didapatkan ketika Kim kembali menjumpai tentara yang ia wawancara saat melakukan laporan pertamanya di Afghanistan. Seandainya Glenn Ficarra dan John Requa bisa mempersempit cakupan filmnya, bagian itu pastinya meninggalkan bekas yang lebih dalam. Naskah rapih Robert Carlock secara marjinal bisa menyelamatkan Whiskey Tango Foxtrot dari klise lakon pencarian jati diri. Pengalamannya bersama Tina Fey di 30 Rock dan Unbreakable Kimmy Schmidt juga menjadi modal penting untuk menciptakan karakter-karakter yang mampu mendorong narasi.

Sebagai Kim baker, Tina Fey menelusuri resahnya pikiran yang tidak pernah mudah dipuaskan, hingga merelakan diri untuk bergantung pada riam euforia peperangan yang sejatinya tidak memberikan solusi. Di saat yang sama, karakter itu tetap mencurahkan keluwesan khas Tina Fey yang kita kenal dan sayang. Walaupun tidak selancang sketsa Sarah Palin, tidak juga memikat hati layaknya Liz Lemon yang serba ganjil. Bermodalkan hal tersebut, ia sukses memberikan seuntai ikatan personal ke dalam cerita, sekaligus mendampingi kita menelusuri bermacam “kabubble” di tengah medan perang minim relevansi. [WARN!NG/Kevin M.]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response