close

[Movie Review] – Ziarah

ziarah-2016

Review overview

WARN!NG Level 8.5

Summary

8.5 Score

 

Ziarah berbicara layaknya pitutur alias nasihat kehidupan dari tradisi Jawa yang luhur, misalnya seperti kalimat pendek “Urip Iku Urup” yang punya arti sangat luas. Sederhana namun menyimpan banyak makna, memendam kekuatan dalam kebersahajaannya. Narasi dan bentuk film Ziarah yang  cenderung sepi ternyata membawa penonton pada kontemplasi yang padat tentang cinta, kematian, tanah dan sejarah.

Setelah scene pembuka yang menohok dengan menempatkan penonton dalam liang kubur, kita akan berkenalan dengan Mbah Sri. Seorang perempuan tua yang bersikeras mencari kuburan suaminya, Prawiro Sahid. Suaminya ini pamit untuk ikut berjuang pada Agresi Militer II Indonesia tahun 1948 dan tak pernah pulang sejak itu. Mbah Sri yang tidak percaya pada nisan tak bernama di Taman Makam Pahlawan memutuskan memulai perjalanan mencari informasi kesana-kemari. Ia tak punya harapan romantis-utopis macam-macam, Mbah Sri hanya ingin agar nanti ia dimakamkan di samping kuburan suaminya.

Dari pemilihan karakter dan teknis, sebenarnya Ziarah sudah menang banyak. Budaya layar Indonesia yang biasa dijejali dengan sesuatu yang serba modern, dinamis, urban, banal, dan heboh membuat apa yang tersaji di Ziarah terlihat asing, dan karena itu terasa baru. Dan BW Purba benar-benar mewujudkan keinginannya untuk membuat film realis. Mbah Sri, sang karakter utama benar-benar diperankan oleh perempuan berumur 95 tahun, dengan segala keriput dan tremornya. Begitu juga dengan karakter-karakter pendukung yang didominasi oleh orang-orang yang telah berumur. Tak ada kebingaran juga karena film ini minim scoring, banyak menggunakan long take dan dialog yang lamat-lamat. “Film ini dibuat untuk orang-orang yang betah nonton wayang kulit,” ujar BW Purba saat diskusi paska pemutaran perdana Ziarah di JAFF 2016.

Lewat narasi film ini, BW Purba tengah megajak kita untuk memikirkan kembali relasi manusia dengan tanah. Mbah Sri dan cucunya menunjukkan bagaimana pemaknaan terhadap tanah itu berbeda untuk tiap generasi. Untuk Mbah Sri yang sudah sepuh, tanah punya makna spiritual. Dari tanah kembali ke tanah, darinya kita hidup dan kepadanya kita kembali. Ketika berhadapan dengan Mbah Sri, urusan tanah jadi tidak bisa lepas jauh dari kematian, seperti adegan yang ditunjukkan berulang kali di Ziarah. Tanah adalah tempat berpulang setiap yang hidup. Untuk Mbah Sri, yang terpenting adalah menyiapkan tempat terbaik untuknya pulang nanti, yaitu di samping makam suaminya.

Meskipun banyak adegan pemakaman, Ziarah tidak memposisikan kematian sebagai sesuatu yang selalu kita takutkan karena berbagai sebab. Berpisah dengan kehidupan duniawi, belum lagi citra bentukan agama tentang dunia paska-kematian yang penuh dengan ganjaran yang seringnya membuat kita merasa ngeri. Dalam Ziarah hidup-mati adalah siklus, dan Mbah Sri nampaknya paham betul dengan itu. Untuk Mbah Sri, justru kematian mungkin adalah caranya untuk menuntaskan rindu pada suaminya setelah puluhan tahun menunggu tanpa kepastian. Persis dengan salah satu dialog, “Ora saklawase pati kuwi gawe pisah, iso ugo malah kosok baline,” (kematian tidak selalu memisahkan, bisa juga justru sebaliknya).

Kembali ke pemaknaan terhadap tanah, cucu Mbah Sri di Ziarah menunjukkan sesuatu yang lain. Di Ziarah, ia menjanjikan sepetak tanah untuk dijadikan rumah kepada sang calon istri. Tanah jadi memiliki nilai tawar, modal untuk relasi sosial dengan wanita yang dicintainya. Cucu Mbah Sri yang masih muda, (begitupun kita) melihat tanah sebagai modal secara ekonomi dan sosial. Sikap ini mungkin telah terbentuk sejak sangat lama. Jika boleh berteori, kepemilikan tanah ini menjadi penting sejak adanya pembagian antara masyarakat (menetap) madani dan nomaden. Masyarakat madani yang menetap otomatis membutuhkan tanah sebagai modal untuk hidup. Tanah yang selalu terbatas itu jadi punya nilai tawar tinggi, apalagi ketika manusia semakin banyak. Saya yang lahir dalam budaya Jawa dari dulu juga akrab dengan keharusan orang Jawa untuk memiliki rumah dan tanah. Kepemilikan terhadap tanah-rumah seolah jadi standar apakah seseorang itu sukses atau tidak.

Entah sang sutradara memang bermaksud untuk itu atau tidak, yang jelas film ini mengingatkan bagaimana tanah itu menjadi vital untuk manusia. Dalam konteks masa kini, Ziarah jadi seperti pengingat kecil di tengah konflik pertanahan atau agraria yang sedang menjamur dan makin mendesak. Para petani sedang dipisahkan dari lahan garapannya, kesuburan tanah akan dikeruk oleh pabrik semen, lahan untuk rumah makin sempit, pembangunan menghabiskan air dalam tanah, dan entah apa lagi. Mungkin nanti untuk pulang ke tanahpun, kita sudah tidak punya barang sepetakpun. Sedang tanpa tempat berpulang, manusia hanya pengembara kesepian yang tersesat dan babak belur dihajar kehidupan.

Dari Mbah Sri yang keras kepala BW Purba juga seperti tengah menyentil kita tentang sejarah. Dalam film ditunjukkan bagaimana Mbah Sri harus berletih-letihan menemui banyak orang. Dari situ Mbah Sri mendapat banyak versi cerita tentang kematian suaminya, ada yang bilang ditembak, ada yang bilang dimakamkan di tempat yang sudah jadi danau, ada yang bilang suaminya adalah antek kumpeni, dan lain-lain. Pencarian kejelasan itu juga diburu waktu karena narasumber yang ditemui Mbah Sri dan cucunya sudah tua. Sejarah, jika tidak dibunuh lupa, ya dibunuh mati. Bukankah perjalanan yang membawa Mbah Sri tersebut adalah sebuah bentuk usaha rekonstruksi sejarah?

ziarah
ziarah

Lalu ketika ditarik ke konteks masa kini lagi, sekali lagi film ini berhasil menjadi ironi untuk kita yang masih segar bugar, tapi menyerah pada ketidakjelasan sejarah. Walau akhirnya pun fakta yang ditemui Mbah Sri terasa pahit, dengan kepasrahannya Mbah Sri masih menjadi ideal bagaimana seharusnya kita menghadapi realita. Dalam hal ini, apalagi yang lebih kontekstual daripada sejarah negara kita sendiri, sejarah Indonesia yang tidak jelas itu.

Sebagai sebuah film, saya mendapatkan drama yang cukup membawa perasaan pada bagian ending.  Twist yang membuat saya bingung memutuskan harus merasa bagaimana ketika membayangkan perasaan Mbah Sri. Perihal cinta yang dikhianati mungkin bisa menjadi drama super heboh ketika dibawa ke generasi muda. Namun ketika dibawa ke setting setua Mbah Sri, saya jadi membayangkan relasi antara cinta dan waktu ini jadi urusan yang begitu abu-abu. Mungkin pahit, mungkin lucu, mungkin sedih, tapi yang jelas realita memang tidak seindah itu.

Ziarah, berhasil menjadi penghantar kontemplasi padat isi dengan kemasan sederhana yang apik. Tak ada yang heroik ataupun terlalu naif. Lewat film feature pertamanya ini, BW Purbanegara juga telah membuktikan kemampuan penyutradaraannya lewat pembentukan karakter Mbah Sri dan kawan-kawannya yang tentu dalam proses syutingnya lebih menantang. Dengan kesederhanaan yang segar, semoga Ziarah segera bisa diputar di lebih banyak layar. [WARN!NG/Titah AW]

Director: BW Purba Negara

Cast       : Ponco Sutiyem, Rukman Rosadi, Ledjar Subroto, Vera Prifatamasari

Year       : 2016

Tags : BW Purba Negaraziarah
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.