close

[Movie Review] Guardian of the Galaxy

Guardians_of_the_Galaxy

Guardians_of_the_GalaxyGuardian of the Galaxy

Director : James Gunn

Cast : Chris Pratt, Zoe Saldana, Vin Diesel, Dave Bautista

Suksesnya Guardian of the Galaxy merajai bioskop seantero dunia membuktikan bahwa karakter superhero tidak mesti dibuat latar belakang untuk mampu memenangkan hati penonton. Bagi seorang awam yang bukan penikmat komik terbitan Marvel tentu saja nama-nama seperti Peter Quill, Groot, Rocket Raccoon, Drax the Destroyer dan Gamora adalah sesuatu yang baru. Kelimanya bukan karakter dengan cerita panjang mengenai asal-usul berbentuk kronik seperti superhero pada umumnya. Keberanian Marvel untuk mengorbitkan tokoh-tokoh yang kurang familiar tersebut tak disangka mendapat antusiasme yang tak kalah besar dari penggemar yang kiranya masih menanti kelanjutan seri The Avengers.

Sedari awal menonton, Guardian of the Galaxy terkesan sangat ringan dan menyenangkan. Saking entengnya, kursi-kursi bioskop banyak diisi oleh rombongan keluarga beserta anak-anak mereka yang gaduh. Dibuka dengan aksi Peter Quill mencuri batu abadi di sebuah planet tak berpenghuni dilatari melodi khas 70’an milik Redbone dengan “Come and Get Your Love”. Susah untuk tidak membenarkan posisi duduk menjadi jorok ke arah layar, atau sekadar angguk-angguk santai mengikuti gerak dansa Quill. Soundtrack menjadi salah satu kelebihan film ini. Suatu strategi menetralisir sisi kekanak-kanakkan sekaligus membius para orangtua untuk rela duduk manis menemani si anak tenggelam dalam imajinasi soal perang antar alien. Awesome Mix Vol. 1, adalah sebuah kaset pita peninggalan ibu Peter Quill yang senantiasa diputar dengan walkman Sony klasik. Berisi lagu-lagu pilihan dari musisi 60-70an macam David Bowie, The Runaways, Blue Swedes, Jackson 5, semuanya terasa begitu pas mengiringi laga sci-fi yang spektakuler.

Pada wawancara via twitter dengan E! Online terkait Guardian of the Galaxy, James Gunn, sang sutradara mengakui bahwa Tarantino adalah inspirasinya. Terang saja, gaya-gaya Tarantino terasa sangat kental di filmnya kali ini. Dramatisasi scene yang jenaka mengingatkan saya pada film Django Unchained, begitupun dengan lelucon-lelucon yang konsisten disisipkan di beberapa adegan. Bayangkan saja betapa menyenangkannya melihat film Tarantino lengkap dengan kegilaan serta selera humornya ditambah aksi-aksi perang bintang di luar angkasa. Meskipun begitu, James Gunn bukan berarti tidak memiliki keotentikan yang mencirikan dirinya, ini bukan masalah membandingkan namun justru melahirkan bukti bahwa Gunn mampu mengelola inspirasinya dengan baik. Coba lihat Raditya Dika yang konon memfavoritkan komedi ala Woody Allen, tetapi ketika tiba pada produk film buatannya? Seujung kelingking pun tidak ada unsur cerdas seperti film-film yang ia jadikan inspirasi.

Jika berbicara mengenai selera humor, James Gunn tidak lagi hijau. Gunn pernah memproduksi web series komedi semiporno yang disiarkan di situs spike.com pada bulan Oktober 2008 hingga Juli 2009. Serial yang juga pernah menampilkan bintang porno kenamaan seperti Sasha Grey ini memiliki tagline yang tak kalah nyeleneh, “For people who love everything about porn, except the sex.” Dan selera humor yang dimiliki tadi ia tuangkan dengan sangat bijaksana dalam Guardian of the Galaxy sehingga tetap aman dinikmati dan ditertawai oleh semua umur.

Segi cerita Guardian of the Galaxy tampak biasa saja seperti selayaknya kisah kepahlawanan yang sudah banyak dirilis Hollywood. Namun apabila kita berkontemplasi sedikit saja—mari ber-pseudo-intelektual-ria—ada secercah pesan moral untuk dibawa pulang selain remah berondong jagung. Yang menarik adalah ketika kelima tokoh utama dengan kepentingan masing-masing mulai merasa peduli untuk menyelamatkan galaksi, meski tidak lagi dibayang-bayangi imbalan materi. Sekelompok pecundang yang diremehkan di sana-sini tersebut akhirnya memutuskan “to give a shit, for once and not run away”. Ini sedikit mengingatkan pada sabda seorang filsuf Prancis, Emmanuel Levinas, bahwa sebagai subjek, manusia—atau bahkan alien?—haruslah tidak mementingkan diri sendiri serta adanya tanggung jawab terhadap the other (orang lain) yang datang sebelum kepentingan pribadi.

Latar belakang Levinas sebagai korban selamat dari holocaust masa Perang Dunia Kedua membuatnya menjadi sangat humanis. Pemikirannya meliputi bagaimana relasi antara individu sebagai subjek dengan eksterior di sekitarnya. Levinas menganggap bahwa sebagai individu, manusia tidak lagi hidup menjadi subjek yang terpisah dari apa yang ada di luar dirinya—tapi lebih seperti senyawa yang terikat dengan tanggung jawab yang harus dipenuhi karena kehadiran yang lain (the other).

Dan saat Rocket Raccoon mempertanyakan kenapa harus repot-repot jadi pahlawan, “Why would you want to save the galaxy?” Jawaban Peter Quill bisa menjadi sederhana saja, “Because I’m one of the idiots who live there!” Mereka bisa saja diam seperti miliaran penghuni galaksi lain atau menyerah terlibat lagi karena toh tidak ada keuntungan riil yang didapat. Ya, karena rasa peduli muncul bukan karena kita menginginkannya atau kita dituntut untuk memilikinya, namun sesederhana karena kita adalah makhluk bernyawa. [Warn!ing/Adya Nisita]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response