close

MUCH: Menyemat Distingsi Romantisme dalam Indie Rock

Processed with VSCO with a6 preset
much
much

Modernitas linimasa sosial media menghadapkan kita pada konten keseharian sepasang kekasih yang pada umumnya cukuplah membosankan. Hal-hal yang diunggah kepada publik tidaklah lebih dari sekadar kegiatan nonton bareng di bioskop, check-in di cafe/tempat makan, selfie ketika sedang berlibur, (dan apalagi?). Berbeda dengan pasangan pada umumnya, Dandy dan Anggi mengejawantahkan kegiatan yang dihabiskan bersama oleh sepasang kekasih ini ke tingkat produktivitas selanjutnya: membuat proyek musik bersama.

Mungkin, Endah N Rhesa dan Indie Art Wedding bisa jadi menjadi nama yang akan Anda sebut jika seseorang menanyakan kepada Anda perkara band dengan format sepasang kekasih. Dari Malang, MUCH dengan mantap berjalan tegap seraya membawa sekoper berisi celoteh keseharian mereka menuju sela-sela daftar tadi. Dimulai dari buah keisengan Dandy yang ingin membuat proyek dengan pengisi vokal utama seorang wanita –di tengah-tengah kebuntuan pengerjaan album Write The Future (band pop-punk Dandy), Anggi hadir menjawab kekosongan lini depan MUCH.  Di awal tahun 2015, “Singled Out” & “Carried Away” –dua buah nomor dalam EP Closest Things I Relate to kemudian diunggah lewat kanal soundcloud mereka di bawah nama MUCH –tanpa embel-embel domisili maupun nama personil di dalamnya. Nama MUCH muncul ketika terlalu banyak nama berseliweran di kepala mereka,  “banyak kepikiran nama, saking banyaknya sampe kayak “its too much,” trus kita kepikiran kenapa ga MUCH aja karena terlalu banyak nama yang mau dipakai, dan MUCH kedengeran lebih enak, lebih simpel,” ucap Anggi.

Berangkat dari format akustik, kini MUCH mengaku lebih nyaman bermain dalam format full-band dengan additional tetap seperti: Vino, Risang, dan Pandu, dengan motor penggerak dominan tetap; Dandy dan Anggi. Bermula selepas menonton Lemuria diakui menjadi life changing experience yang dialami Dandy dalam menentukan selera musik yang kini diterapkan dalam MUCH. “Beberapa tahun yang lalu sempet dengerin Lemuria, lama-lama bosen,terus dateng ke Jakarta Itu langsung ‘wah Lemuria, favoritku’,” ucap Dandy. Unit indie-rock dengan garda depan perempuan di bawah naungan Bridge Nine Records yang kental dengan influence hardcore dan punk ini menjadi role-model bagi MUCH karena musiknya yang lugas. Selain itu, dalam perjalanannya hingga kini, MUCH mulai menambahkan referensi bermusiknya, seperti: Joyce Manor, dsb.

Selera musik berbeda Dandy dan Anggi tak menjadi aral bagi proses bermusik MUCH. “Awalnya aku respon dari materi yang dikasih Dandy, masih kaget karena materinya bukan aku banget. Gara-gara itu lanjut mulai cari-cari referensi musik kayak gitu juga,” jawab Anggi perihal proses awal membuat musik di MUCH. Kini, untuk album kedua yang direncanakan akan rilis tahun ini mulai dikerjakan secara bersama-sama dari materi, lirik, hingga referensi musik.

Mengenai EP Closest Things I Relate to yang rilis bertepatan dengan Records Store Day 2014 lalu, baik dari CD maupun kasetnya, album dengan kesamaan kover visual bunga matahari ini sekarang telah menginjak second press. Anda akan menemukan diberi pemandangan cerah American indie-rock bernuansa jangly dalam kesatuan yang berisi enam trek berbahasa Inggris ini.

Tahun lalu, MUCH juga berplesiran ke ibu kota dalam lawatan gig kolektif we.hum, mereka mendapati keunikan dalam dinamika kancah barat dan timur. Kunjungannya kala itu diakui sangat berbeda dengan kali biasa mereka bermain di Malang, kota asalnya. Mereka mengira gig-goers Jakarta belum tahu lagu-lagu mereka, namun “ternyata ketika main sambutannya hangat, bahkan mereka sing-along,” jawab Anggi. Sedang Dandy tidak menyangka akan mendapat sambutan yang bagus oleh orang-orang yang meski hafal maupun tidak namun tetap menyanyi –hingga cenderung ramai. Dandy mengutarakan keresehannya akan crowd dari kota asalnya yang dinilai ‘alot’ –dengan penonton yang cenderung diam dan duduk “crowd di sini (Malang) kurang hidup, memang pendengar ingin menikmati musik senyaman mereka, dengan cara masing-masing. Tapi, penampil tetap mengharapkan respon, entah baik atau buruk dari penonton, baik di lokasi maupun sosial media,” ucap Dandy.

Jakarta dinilai Dandy lebih ‘lepas’,berbeda dengan di Malang yang cenderung‘diem-dieman’. Lawatan kala itu lalu digunakan sebaik mungkin oleh MUCH untuk menunjukkan jika musik Malang punya potensi lebih,“kita coba buktiin kalo musik Indonesia nggak selalu berkiblat ke barat. Di sini (Malang) pun banyak band-band berkualitas. Cuma kita juga harus menampilkan kualitas di sana. Apalagi media di sini (Malang) jarang, venue juga mulai kesusahan. Padahal semangat main bandnya tinggi,” tutup Dandy. [WARN!NG/Dwiki Aprinaldi]

find more about them:

soundcloud

twitter

instagram

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response