close

Musik Sebagai Jembatan Kosmik

music-vibration

Modernisme menyeret peradaban manusia terlampau jauh dari akar keilahiannya. Alam dan manusia diceraikan agar keduanya dapat dieksploitasi demi Tuhan baru yang bernama “progresivitas”. Kehidupan berjalan menjadi sangat mekanik dan teknokratik. Tidak sebagaimana dalam dunia tradisi dimana manusia dan alam melebur dalam kesatuan kosmos, era modern yang begitu mengagung-agungkan ilmu pengetahuan, menyulap alam sebagai objek yang dimaknai oleh sang subjek (manusia) sejauh ia dapat dibuktikan kebenarannya melalui metodologi ilmiah. Sesuatu yang dikatakan “konkret” atau “real”, apabila itu memang hadir berdasarkan fakta visual dan sentuhan. Sehingga apapun yang tidak mampu diukur oleh kategorisasi itu berarti berada di luar jangkauan nalar manusia, dengan kata lain di luar peradaban itu sendiri.

Elemen suara, pun sama halnya dengan rasa, menjadi sesuatu yang asing karena ketidakmampuannya untuk mewujud dalam bentuk tertentu. Sehingga manusia yang cara berpikirnya telah terpenjara oleh doktrin Pencerahan (Enlightment) tidak akan sanggup memahaminya. Dahulu alam masih menjadi panggung orkestra musik semesta lewat minimal dengung serangga atau desir dedaunan, namun kepintaran manusia sekarang dalam mencipta bunyi-bunyian telah mengubah kodrat musik dari sifatnya yang alami menjadi kultural. Dari sinilah pengkerdilan makna terhadap musik berlangsung sangat kejam. Musik dinamakan musik sebatas pada aksi performatif—manusia memainkan alat untuk menghasilkan bunyi atau irama tertentu—bukan dari inti kelahirannya bahwa ia berperan menjembatani manusia pada semestanya. Musik yang mengalir di dalam gelombang udara, akan diserap ke dasar batin manusia melalui proses ‘rasa’. Pada intensitas ini, denyut manusia menemukan peleburannya dengan denyut kosmik. Sebuah momen spiritualitas yang begitu dalam dan memabukkan.

 

Virus-Setan
Virus Setan: Risalah Pemikiran Musik

Tidak mudah untuk mencapai pemahaman musik dengan kedalaman seperti penyair saat memetik kata dari jiwanya, kecuali seseorang itu telah berdamai dengan nada kehidupannya, nada dimana musik merupakan hikmah universalitas dari harmonisasi semesta yang melingkupinya, Slamet Abdul Sjukur mungkin salah seorang di antaranya. Dari kuliahnya yang terjabarkan di dalam buku Virus Setan: Risalah Pemikiran Musik”, dapat disimpulkan bahwa pemaknaannya terhadap musik tidak semata penguasaan teknik atau kecanggihan format pementasan, melainkan lebih mendasar dari itu semua yakni pada dimensi penghayatannya. Musik bukan sebuah hiburan waktu senggang atau industri penghasil uang sebagaimana fenomena pasar musik yang banyak berlangsung di masa Kerajaan Kapitalisme ini, akan tetapi inti terdalamnya merupakan zat yang memanusiakan manusia. Sebab bila tak sekadar didengarkan tapi juga diselami, zat bernama musik itu menjadi sumber kerinduannya pada yang azali serta agen suci pembebasan jiwa manusia. Slamet A.Sjukur menyebut peranan mulianya sebagai media penyembuhan psikologis. Musik harus dikembalikan pada kuasa takdirnya, bahwa ia memiliki dirinya sendiri yang mempertautkan antara manusia—alam—dan Yang Ilahi seperti pada kegiatan ritual, sehingga tidak hanya sebatas pelengkap untuk mengiringi tari, puisi, atau drama tertentu. Kemampuannya membedah substansi dari musik dan mengangkatnya ke level tertinggi dari sebuah elemen kehidupan, menunjukkan kecerdasan seorang Slamet A.Sjukur dalam menarik sumbu korelasi di antara keduanya.

 

Words: Sarah Monica

Sarah Monica
Sarah Monica
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response