close

Musikimia Live In Concert Tour 2016: Mengetuk Pintu Rindu Satu Dekade Silam

IMG_6337

 

musikimia
musikimia

Apakah yang membuat antusiasme berdegup keras selain menyaksikan kembalinya salah satu band besar dalam balutan konser pelipur kerinduan?

Hanya ada dua band yang ingin saya saksikan keberadaannya untuk melakukan reuni: Dewa 19 dan Padi. Band pertama, rasanya susah terwujud. Selain karna faktor sentimen terhadap Ahmad Dhani yang kian waktu kian menyebalkan, juga soal timing. Mengundang Dewa 19 apabila tidak memiliki kocek tebal, jangan harap mampu untuk melakukannya. Contoh saja Soundrenaline yang kita tahu siapa (atau apa) yang berdiri di belakangnya. Tak hanya menyoal finansial, perkara reuni juga membahas tentang sanubari dimana mempunyai kesakralan pada titik tertentu. Pastinya dalam setahun tidak akan ditemui intensitas “Dewa 19 Reunion” selama lima belas kali pertemuan. Namanya reuni, dilakukan sekali-dua kali. Apabila lebih dari itu, mungkin sedang kejar setoran. Berangkat dari alasan di atas, saya berkesimpulan jikalau menyaksikan Dewa 19 reuni cuma bersifat terka-menerka dan berbau spekulasi. Lalu beranjak ke band kedua, Padi. Jika dianalisa dalam pendekatan komparatif, naga-naganya tidak sesulit Dewa 19. Satu, Fadly bukan Ahmad Dhani. Hingar bingarnya sebagai vokalis band besar jauh dari urusan tak mutu dan cenderung tenang menghanyutkan. Kedua, meski hanya soal waktu kapan Piyu akan kembali bergabung untuk reuni, menyaksikan Padi bisa kita nikmati lewat Musikimia. Minus Piyu yang digantikan Stephen Santoso (produser di beberapa album Padi terdahulu), Musikimia menawarkan geliat baru yang sudah lama terbenam.

Musikimia adalah entitas baru; meletakkan nama besar Padi lalu berdiri kembali membawa spirit era renaissance. Fadly, Rindra, Stephen, juga Yoyok kiranya sepakat bahwa Musikimia ada untuk tidak diperbandingkan dengan Padi. Karena keduanya, walaupun dipelopori dedengkot yang sama, berjalan di pelataran berbeda. Tanggal 1 Februari 2016 jadi hari penting bagi Musikimia. Album debutnya bertajuk Intersisi resmi dirilis ke pelbagai sudut keramaian. Fadly, dalam acara perilisan Intersisi di Hard Rock Café beberapa bulan silam mengatakan bahwa dibalik perbedaan yang muncul dalam proses pembuatan album, itu pula yang akhirnya juga menyatukan satu sama lain sebagai kolektif Musikimia. Tidak bisa dipungkiri corak musikalitas ala Padi memang masih terdengar; namun bukan lantas dapat disandingkan. Nama-nama popular seperti Bondan Prakoso, Eben ‘Burgerkill’, Muhammad Gugun, Nikita Dompas dan Stevie Item digandeng untuk berperan dalam co-produser lima lagu di Intersisi. Bukti akan munculnya ragam segar dari hasil penantian.

musikimia
musikimia
musikimia
musikimia

Selepas merilis karya perdana, Musikimia dihadapkan pada agenda tur album 19 kota. Disponsori salah satu produsen tembakau dalam negeri, saya girang bukan kepalang ketika melihat Kota Solo dicantumkan dalam tempat pemberhentian. Menyaksikan Musikimia secara langsung berarti mendapati dua hal sekaligus; mendengar Intersisi dan bernostalgia akan aroma Padi. GOR Manahan yang bertindak menjadi tuan rumah disulap secara artistik; di samping panggung terdapat instalasi layar berukuran panjang sekitar 100 meter, berdiri kanan-kiri saling memantulkan cahaya bias. Dalam lawatannya kali ini, Endank Soekamti membuka penampilan sebelum Musikimia beraksi. Para Kamtis Family ramai berjejalan di tengah suasana malam yang usai diguyur hujan sembari menikmati band pujaan menggeber lagu-lagu bertempo kencang.

Dalam pertunjukan, saya merangkum ke dalam tiga fragmen: Musikimia memainkan lagu-lagu Intersisi, Musikimia menyanyikan cover-song band legendaris dan Musikimia membawakan komposisi lama era Padi. Cukup kompleks, memang. Fragmen pertama adalah Musikimia dengan lagu-lagu Intersisi. Album ini bisa dibilang album kerinduan. Materi-materinya tidak terlalu berat, tetapi juga tidak nampak lemah. Musikimia menggabungkan platform pop dengan banyak unsur demi menunjang kekuatan musikalitas. Gebukan drum Yoyo masih bertaji; ia pandai menjaga ritme meski kurang berani berimprovisasi secara liar. Cabikan bas Rindra belum hilang sihirnya. Begitu tenang dalam mengatur harmoni. Sedangkan Stephen berhasil mengisi celah kosong secara rhtym dan melodi sehingga riff-riff yang keluar tidak dapat ditebak ujungnya. Lantas bagaimana Fadly? Vokalnya tetap bertenaga semenjak kemunculannya di Lain Dunia (1999). Di antara repertoar Intersisi yang lain, “Bertahan Untukmu”, “Dan Bernyanyilah” juga “Sebebas Alam” jadi favorit bagi penonton untuk memicu koor massal. Konser ini juga menyuguhkan sound dan tata visual yang maksimal. Pencahayaan dilakukan menyeluruh, menguasai tiap ruang gelanggang. Semacam instalasi semi-modern yang digarap penuh kehati-hatian pada rancangan detail. Menghidupkan suasana di tiap bait dan nada Musikimia. Kemudian persoalan audio berjalan tanpa masalah; mampu menutup celah kekurangan venue yang sejatinya tidak dibuat untuk pertunjukan musik.

Fragmen kedua berbicara mengenai Musikimia menyanyikan cover-song band legendaris. Menggarap medley tiga lagu Metallica “Master of Puppets”, “Seek and Destroy” serta “Enter Sandman” dengan mengajak Buluk ‘Superglad’ dan Stevie Item untuk memeriahkan suasana. Panas! Fragmen terakhir merupakan fragmen istimewa tatkala Musikimia mencoba memanggil sebagian kecil memori dengan membawakan repertoar klasik Padi macam “Begitu Indah”, “Kasih Tak Sampai”, dan juga “Sobat” yang berkolaborasi bersama Erick-Dory Soekamti. Momen terbaik jatuh saat “Kasih Tak Sampai” dilantunkan. Fadly bernyanyi seorang diri, hanya ditemani ukulele coklat muda miliknya. Intro sendu pun keluar selepas kemudian. Tanpa dikomando, penonton yang malam itu rata-rata sudah tidak muda lagi menggemakan seisi gelanggang dengan nyanyian sentimentil. Ditambah lagi pengkondisian visual yang menciptakan hamparan warna biru luas bak sabana pada malam hari, semakin menghanyutkan suasana batin. Namun beberapa kejadian sebenarnya tidak perlu terjadi tetapi muncul mengaburkan kedekatan yang dijalin. Misal kolaborasi antara Ari Soekamti dan Yoyo sewaktu memukul perkakas perkusi atau pesta lempar bola yang dilakukan para bintang panggung ke arah penonton yang sarat kepentingan pihak sponsor dalam menyambut riuh Euro 2016.

Pada akhirnya saya mendapati keintiman nostalgia saat menyaksikan Musikimia. Materi musik mereka di album Intersisi tak perlu ditepikan. Akan tetapi ketika Fadly, Rindra, Stephen dan Yoyo memainkan lagu-lagu klasik Padi, hal itu yang justru membuat saya dan (mungkin) juga pembeli tiket lainnya bergetar. Antara takjub juga sangsi apakah romantisme ini akan berlangsung lama atau sebatas pemanis belaka.[WARN!NG/Muhammad Faisal]

photo by: Reza K. Darmawan [contributor]

Event by              :               Megapro Communications

Date                      :               19 Mei 2016

Watchfull shot   :               Gegap gempita “Kasih Tak Sampai” dan Intensitas Tinggi “Sobat”

[yasr_overall_rating size=”small”]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response