close

Musrary #2 Umar Haen: Sembilan Fragmen Rasa Kaya Makna

a-0422

Review overview

WARN!NG Level 8.1

Summary

8.1 Score

Di tengah situasi sosial yang kian riweuh dan tergesa, barangkali keberadaan konser-konser mini seperti Musrary dapat member kesejukan tersendiri: rumah kayu, perpustakaan serta buku-buku, ruang manggung yang intim dan nyaman. Indonesia Visual Art Archive (IVAA), Yogyakarta masih menjadi lokasi acara, dan kali itu, seperti sebelumnya pula, seorang musisi dihadirkan untuk membagikan komposisi berikut cerita-cerita di balik karyanya.

Adalah Umar Haen yang malam itu mengenakan kemeja abu-abu, celana kain longgar, dan topi lebar: sungguh sebuah tampilan edgy yang enak dipandang. Sepertinya ia tahu benar cara membuat penonton enggan berpaling, selain tentu saja dengan musikalitasnya. Visual yang menyenangkan terlihat dari kostum maupun latar panggung. Tidak perlu bermegah-megah, namun total dan pas; karpet motif, tiang gantung dan lelampuan mesra yang menggelungnya, meja yang sesungguhnya kursi, tanaman sebagai pemanis, buku catatan, mug, dan lalu sudah. Tinggal seorang Umar Haen dengan gitar serta perkusinya yang bernama Arok, siap membunyikan kisah-kisahnya.

“Racau di Malam Kacau” menjadi sajian pembuka. Setelah kalimat pengantar singkat, “lagu ini saya tulis di usia dua puluh dua…”, Umar Haen langsung memetik gitarnya. Intro teduh namun “riuh” terdengar; bahkan sebelum sempat lirik lagu diucap, penonton yang hayat akan menemukan kegelisahan di dalamnya.“Hei otakku yang baik, berhentilah berpikir… hei mataku yang baik, terpejamlah…,” refrain berkumandang, dan seketika saya turut merasakan bagaimana “suara-suara” didalam kepala itu mengusik—mungkin karena apa yang dialami Umar adalah juga apa yang saya alami sebagai manusia berusia dua puluh dua.

Lagu selanjutnya, “Tentang Generasi Kita”, adalah rangkaian cerita lainnya. Irama mayor bersemangat mengiringi kalimat-kalimat deskriptif akan generasi milenial yang serba ingin instan: makan instan, pasangan instan, hingga tenar secara instan. Berbeda dengan “Racau di Malam Kacau”, perkusi cukup banyak dimainkan di nomor ini, ciptakan suasana ramai menggembirakan. Penonton di venue pun tampak menikmati tempo, tersenyum kecil sembari menggoyang kaki dan kepalanya sedikit, barangkali merasa tergelitik oleh lirik yang disuguhkan.

Setelah mengobrol sejenak, giliran dua lagu bertema asmara yang mengudara. “Terungku Rindu” dan “Kisah Tentang Baju” dibawakan dengan syahdu dan penuh biru. Atmosfer menghangat, penonton berdatangan, Umar meraih topi dan mengenakannya. Sebelum “Kisah Kampungku” diperdengarkan, video tentang desanya di Temanggung tampil di layar. “Hidup bukan tentang menjawab kuis… Mengapa sekolah ajarkan kita jawab pertanyaan… yang tak guna untuk cari makan,” demikianlah melalui lagu kelimanya, Umar mengkritik beberapa hal, di antaranya tentang pemuda-pemuda desa berimpian kota, atau pola ajaran sekolah yang selesai di teori saja.

umar haen
umar haen

Sampai di lagu kelima, akan sadarlah kita bahwa lagu-lagu yang dibawakannya sesederhana kegelisahan pribadi, namun sekaya cerita yang mewakili isi kepala banyak orang—khususnya mereka yang berada di angka dua puluhan. Menonton Musrary #2 sejak awal hingga nomor-nomor berikutnya kemudian tak ubahnya menyaksikan fragmen-fragmen kehidupan seorang Umar Haen: beberapa bagian menyoal idealismenya —apa yang ia pikirkan sebagai seorang mahasiswa yang merantau ke Jogja, beberapa lainnya muncul atas perasaannya sebagai seorang manusia dan laki-laki—kerinduan, kenangan, cinta dan sedikit luka barangkali.

Beberapa lagu setelahnya kemudian mengajak lagi penonton untuk berkeliling mengitari isi kepalanya. Sama seperti lagu-lagu sebelumnya, kisah itu mengalir begitu saja, saya seperti mendengarkan seorang teman lama bercerita banyak soal kehidupannya belakangan ini. Saling bertukar pikiran, kemudian tiba-tiba teringat tentang “Nasehat Kakek”nya agar jangan menjual tanah. “Ojo didol tanahmu,” katanya member wejangan. Penonton tampaknya setuju, dan lalu menirukan ucapannya: iya, “jangan jual tanahmu”.

Selayaknya kerisauan banyak kaula muda, topic beralih kepersoalan kematian melalui “Dalih”, serta roman luput nalar dalam “Tak Ada Nalar Menuju Rumah”. Dua lagu yang secara music cukup berlawanan —satu lebih ballad dengan not-not minornya, satu cenderung bersemangat dengan bunyi-bunyian padat. Keduanya sama memikat dengan masing-masing cara, kecuali dalam lirik. Saya kira, adalah lirik yang menjadi benang merah paling kasat telinga antar semua lagu-lagu Umar. Kesembilan lagu yang dibawakan membentuk satu kesatuan cerita yang menggambarkan sang pencipta karya: idealis, kritis, agaknya romantis.

umar haen

Umar Haen menutup Musrary #2 dengan “Di Jogja Kita Belajar” yang dengan sukses meruangkan koor “tipis, tipis, air menipis…”.Kiranya pilihan yang tepat untuk mengakhiri; seperti ada sebuah kesimpulan cukup penting terkandung di dalamnya, seperti ada benang merah yang kini tak hanya memolakan fragmen hidup si pelantun, namun juga penonton. Kemudian selesai. Acara berjalan dengan ringan dan ramah—seperti mengobrol dengan kawan lama—tapi barangkali, dalam perjalanan pulang kerumah atau kos masing-masing, bakal ada sekian nada dibarengi kalimat lebih dari sederhana yang tercantol di kepala: membuatmu berpikir untuk sejenak, atau setidaknya senyum-senyum sendiri. [WARN!NG/Christina Tjandrawira]

Gallery             : Musrary #2

Event by          : Indonesia Visual Art Archive (IVAA)

Venue              : Indonesia Visual Art Archive (IVAA)

Date                : 28 April 2017

Man of Match : Umar Haen saat membawakan “Kisah Kampungku” selepas pemutaran video dan refrain “Di Jogja Kita Belajar” yang kemudian diikuti oleh penonton

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response