close

Navicula : 17 Years Of Green Grunge!

WARNINGMAGZ_ANDITYA_EKA_08

Navicula, salah satu pionir grunge tanah air ini, sempat mendapat banyak sanjungan publik Jogjakarta akhir Mei lalu. Alih-alih batal perform, mereka justru menjadi penampil pamungkas di acara Locstock fest #2.  Band yang eksis sejak 1996 ini juga dikenal sebagai “Green Grunge Gentlemen” karena sering membalut isu lingkungan lewat music grunge.

Tak hanya bicara, band yang digawangi Robi (vokal, gitar), Dankie (gitar), Made (bass), Gembull (drum) ini tak jarang  melakukan aksi langsung. Mereka turut memberikan kontribusi nyata bagi lingkungan, di saat yang lain hanya ngetweet bahkan tak peduli. Terkait perjalanan bermusik, mereka sempat menang di kompetisi Planetrox, yang memberikan  kesempatan untuk manggung di festival internasional “Envol et Macadam” di Quebec, Kanada. Tahun lalu mereka juga sempat merasakan hangatnya Gilman Street di Amerika, sembari membuat 5 lagu. Tanpa perlu introduksi lagi, simak wawancara yang dijawab sang vokalis, Gede Robi Supriyanto aka Robi Navicula.

 

Navicula © Warningmagz
Navicula © Warningmagz

 

tomi

Oleh : Tomi Wibisono & Soni Triantoro

 

Halo, bagaiamana kondisi kesehatan?

Baik, thanks. Lagi rutin ke gym dan main squash, plus nyangkul di kebun.

 

Terlepas kekacauan, respon penonton tidak mengecewakan di Locstock fest #2, jadi tidak kapok kan main ke jogja?

Kita selalu gembira jika dapat tawaran main di Jogja. Jogja salah satu kota favorit kami.

 

Tragedi Ini kembali mengingatkan bahwa pertunjukan musik modern berkonsep festival kini tak lagi jaminan superior untuk menarik animo masyarakat. Bagaimana taggapannya?

Masih kok. Cuma masyarakat kita aja udah kadung adiksi akibat dicekoki pertunjukan gratis dan murah bikinan produk rokok, sehingga saat membayar tiket untuk mendukung event lokal demi keberlanjutan acara-acara yang serupa di kemudian hari, jadi kurang antusias karena harus merogoh kocek yang sudah dianggarkan untuk beli rokok. Acara-acara seperti ini seharusnya tidak harus 100% bergantung pada sponsor, kalau biaya produksi bisa terbantukan dengan penjualan tiket.  Semoga bisa berjalan lebih baiklah di kemudian hari. Hehehe, scene kita kan masih berproses, masih belajar. Festival-festival gede di luar negeri masih marak kok.

 

Baiklah kita move on, Navicula telah membagikan sample album terbaru lewat majalah Rolling Stone, bisa ceritakan lebih detil tentang album baru nantinya?

Ada 15 lagu. Double album. 5 lagu dibikin di US, 10 lagu dibikin di Bali. Kemasannya unik, karena memakai bahan recycle dari tetrapack dan ban bekas, kolaborasi kita dengan komunitas Sapu, di Salatiga.

 

Apa ada perubahan yang signifikan dibanding album sebelumnya? Baik lirik maupun musikalitas?

Mungkin sound aja sedikit beda. Tapi masih bisa di rasakan kalau ini produk khas Navicula.

 

Mengenai Alain Johannes. Adakah ciri, kelebihan atau olah sound tertentu yang tidak ditemukan di produser-produser album-album kalian sebelumnya?

Dulu, sebelum kenal dengan Alain Johannes, kita sering rekaman di studio di Bali, dengan membawa beberapa album yang Alain terlibat di dalamnya (baik sebagai produser maupun musisi) sebagai referensi sound. Misal, album Chris Cornell yang Euphoria Morning, Album dari Queens Of The Stone Age, atau supergroup Them Crooked Vultures. Kita menebak-nebak seperti apa kira-kira cara mendapatkan sound tersebut.

Nah, Begitu ketemu dan bekerjasama dengan Alain langsung, doi sendiri yang kasi tau bagaimana cara sound itu dibuat. Dan dengan menggunakan fasilitas/alat-alat yang sama dengan yang doi pakai di project-project yg digarapnya.

 

Dalam video dokumenter yang kalian bagikan, beberapa kali kalian memuji mantapya alat-alat di studio Record Plant. Bisa dijelaskan secara spesifik alat-alat yang kalian maksud?

Ruangan/studio, pre-amp studio, microphone, team (kita bekerja dengan orang-orang yang hebat di bidangnya; baik sound engineer, creative advisor, hingga kru studio), dan cewek-cewek sexy yang bergantian melayani kita di artist room, yang tiap hari berbeda-beda dan rajin memastikan agar kulkas di artist room selalu terisi minuman dan makanan kesukaan kita, hehehe. Ini bagus untuk menjaga mood, hihihi.

 

Menurut kami, dibanding Nirvana yang agresif dan bernafas punk rock, karakter music Navicula lebih terhidupi Soundgarden, atau Alice In Chain yang mengandung lebih banyak varian dan terkadang disusupi aura psychedelic. Ada tanggapan?

Banyak yang bilang begitu. Kita sih oke-oke aja. Bebas!

 

Haha Oke, kita mundur sejenak. Kalian memainkan grunge sejak 1996 dan kini era keemasan grunge sudah lewat. Mengapa tetap memainkan musik ini?

Karena kita suka. Sebenarnya, yang bilang ‘grunge’ kan dari teman-teman, fans, dan media. Kalau kita sih cuma memainkan apa yang sesuai selera kita aja. Mungkin influence dari era grunge lebih dominan kerasa di materi-materi yang kita buat. Dan kalau dipikir-pikir, era 90-an memang banyak memberi sumbangan yang signifikan ke music rock dunia, termasuk Indonesia, kan?

 

Setuju. Bagaimana dengan scene grunge Bali ? selain polah Navicula skena grunge kurang terdengar. Ada apa disana?

Ada komunitas Grunge juga di Bali. Namanya Bali Total Grunge. Sudah rilis album Kompilasi juga. Aktivitasnya bisa diikuti di group FB dengan nama yang sama. Mungkin sama dengan di kota-kota besar lainnya, di Denpasar scene music (beragam genre) sudah cair dan membaur.

 

Lalu siapa sih band grunge indonesia yang kalian anggap berbahaya? selain Navicula tentunya 😛

Banyaaak!! Besok Bubar, Cupumanik, Alien Sick, Mushafear, Coburn, The Bolong, Klepto Opera, dan kalau aku sebutin nanti page ini penuh. Di Jogja kan juga ada Illegal Motives, yang sekarang jadi Alterego.

Band-band yang kita anggap ‘berbahaya’ karena banyak hal, selain bikin karya bagus, mereka juga aktif memajukan scene, kayak bikin event, bikin zine, menulis, rajin manggung, diliput media, dll.

 

Oh iya, berarti tahun ini 17 tahun eksistensi navicula, apa ada perayaan khusus tiap tahunnya?

Gaak! Sering kelewat malah ultahnya. Perayaan khususnya paling masak-masak dan minum-minum sama band atau teman-teman terdekat. Tahun ini agak seru karena kita di perayaan ultah band sekalian bikin gig kecil dan launching produk merch baru kita, kacamata dari frame kayu rosewood. Kolaborasi Navicula dengan label lokal Eastwood.

 

Navicula sangat dekat dengan lingkungan hidup. Tak hanya dinyanyikan, lagu-lagu kalian juga direpresentasikan dengan aksi langsung. Bisa ceritakan tentang aksi-aksi Navicula yang menurut kalian cukup urgent

Aksi langsung yaaa, yang masih berkaitan dengan porsi kita sebagai musisi. Apa yang kita bisa lakukan dengan peran sebagai musisi, yaitu bikin lagu, video, media boosting, bikin merch, dll.

Siapa saja bisa terlibat di isu sosial dan lingkungan ini dengan cara yang mereka bisa, dan kita terlibat dengan cara yang kita bisa. Kalo di ceritakan banyak makan page ntar, aku bagi link-nya aja ya:

Navicula – Busur Hujan (Rainbow Warrior) : http://www.youtube.com/watch?v=pD5N2RS9tVk

Navicula – Orang utan song : http://www.youtube.com/watch?v=B4m5b5DJtBU

Navicula – Mafia Hukum : http://www.youtube.com/watch?v=yzZ61SuHYwo

Navicula Tour Borneo – Mata Harimau/Kepak Sayap Enggang with Greenpeace: http://www.youtube.com/watch?v=6FYpoDNYztM

 

Lalu apakah wisatawan yang sangat melimpah di Bali misalnya, benar-benar memberikan dampak buruk bagi sosial-lingkungan tanah asal kalian tersebut?

Dimana-mana pariwisata selalu akan memberi dampak kerusakan lingkungan, kalau cuma mengejar keuntungan jangka pendek saja. Di Bali itu banyak terjadi, apalagi di saat idealisme udah diganti jadi materialisme.  Disini dua pihak yaitu : Tempat/objek/orang Bali sendiri, maupun turisnya, mesti sama-sama sadar bagaimana menjadi ‘bertanggungjawab’; Keseimbangan antara ‘take’ and ‘give’.

Di Bali sudah terlalu banyak ‘take’, ‘take’, aja… ‘give’ nya kurang. Baik turis maupun orang lokal. Cuma syukur adat dan identitas budaya di Bali masih ada, semoga ini bisa bertahan, dan orang Bali sadar dengan value ini, bukan sekadar pelestarian alam dan budaya yang membabi-buta atau lebih parah lagi, jargon doang.

 

Setelah orangutan dan harimau, fauna apalagi yang menurut kalian nasibnya sudah darurat dan menimbulkan hasrat untuk kalian nyanyikan kembali?

Masyarakat kita, manusianya, berikut kekayaannya yang berupa lokal wisdom dan lingkungan hidup yang layak dan sehat, serta hak-haknya yang lain. Indonesia ini negara yang sangat kaya. Masyarakatnya bisa adil dan sejahtera, alias sila ke 5 Pancasila akan mudah terealisasi apabila duit negara nggak dikorup.

 

Sempatkah terpikir juga untuk menciptakan lagu dengan mengangkat tema dari rumpun flora? Atau mungkin tema itu tidak keren?

Biasa aja sih, cuma belum ada yang spesifik. Dulu ada lagu kita yang judulnya Bunga Liar, tapi itu belum bisa digolongkan sebagai tema pelestarian lingkungan karena liriknya abstrak. Aku juga punya sketsa lagu judulnya Bunga Bangkai, tapi belum aku rilis, karena belum ada timing yang pas dan masih sibuk urus yang lain.

 

Lingkungan hidup seperti apa sih yang ideal menurut kalian? Apakah itu realistis?

Tiap-tiap tempat punya sesuatu yang ideal bagi masing-masing. Berbeda sesuai dengan adat, letak, iklim, dan SDA/SDM yang tersedia. Yang ideal menurut kita adalah yang paling sesuai dengan hal-hal diatas. Banyak tempat di Indonesia yang mengejar atau berkiblat pada hal-hal yang nggak sesuai dengan lingkungannya, bahkan sampai mengorbankan identitas dan kekayaan yang sudah dimiliki. Mengejar budaya TV yang semu. Menganggap keren sesuatu yang norak. Sehingga yang ada adalah kemerosotan budaya dan kualitas hidup. Jadi ironis, misalnya: Kita ini negara agraris, tapi kok beras ngimpor. Petani dan peternak kok makan mie instan. Jual kelapa muda untuk beli minuman kalengan berbahan sintetis murahan. Ini tidak ideal menurut kita.

 

Apa kalian sepakat bahwa perusak lingkungan hidup adalah pemodal dan penguasa?

Yap, kerusakan terbesar di hasilkan oleh kongsi antara bisnis raksasa dan kebijakan politik.Konspirasi global, ekonom dunia, yang mengatur segala sesuatu termasuk pemerintah kita, yang dijaga oleh para buaya, agar rakyat gak bisa ngapa-ngapain, tetap bodoh, miskin, dan gampang diatur.

 

Lalu,apa masih percaya bahwa pemerintah nantinya akan benar-benar serius menjaga lingkungan?

Gak adil dong skeptis terus, harus ada harapan. Hope. Kalau ngga ada ‘hope’, hidup nggak seru. Dan seandainya pemerintah impoten, saya yakin rakyat yang bakal ereksi. Dan pemerintah, siapa pun dia, toh pelan-pelan pasti tahu kalau kerusakan lingkungan juga akan merugikan mereka, pebisnis juga tahu kalo SDA habis, tak ada lagi yang bisa dijual.

 

Dan kedekatan ini membuahkan sebuah cap “Green Grunge Gentleman”, buat Navicula. Sedikit menyinggung kata hijau, bagaimana respon kalian tentang legalisasi ganja?

Untuk tujuan medis sih bagus. Banyak negara-negara majudi dunia udah mulai hal ini. Penguasa kita juga udah pada tahu kok, alasan mengapa ganja itu illegal. Peraturan itu siapa yang bikin, kalau bukan pabrik obat-obatan dunia.

Di Bali, pemerintah sering menargetkan pengedar dan pengguna ganja. Dan cukup efektif, banyak yang ketangkap, dipenjarakan, bahkan menjaring labih banyak lagi pemakai untuk ditangkap. Di saat yang sama, mangrove hancur, TPA sampah overload, macet dimana-mana, banjir, korupsi merajalela, kualitas pendidikan jelek, biaya medis tak terjangkau, jadi ada banyak hal yang lebih penting diurusi pemerintah daripada mengurusi ganja. Kalau narkotika jenis lain yaaa…, memang patut diberantas karena memang bersifat menghancurkan dan menjerumuskan anak muda  yang seharusnya di usia produktif ini dihandalkan untuk membangun bangsa ini.

Tapi ah, sebagai warga yang taat hukum, patuhi hukum aja dulu. Kita juga malas membuang waktu berurusan dengan hukum.  Negara ini masih belajar, ntar juga kok akan berubah sendiri. Emangnya ada ‘tanaman yang salah’? Kalau begitu, ngapain diciptakan Tuhan? Kalau itu dianggap tanaman berbahaya, Kenapa Kecubung dan Tuba nggak masuk list? Logikanya, tanaman ekonomis dianggap ‘berbahaya’ oleh para pebisnis.

 

Baiklah, kita tutup dengan pertanyaan, dimana tempat wisata atau nonwisata alam paling keren di nusantara ini yang pernah kalian kunjungi?

Banyak… Sumba, dataran tinggi Sumbar, Bukit Lawang, Raja Ampat, banyak deehh… dan yang jelas bukan Jakarta, hehehehe.

 

 Terima kasih navicula, ada kata penutup untuk pembaca warningmagz.com ?

Mari bersama membangun Indonesia yang lebih baik. Cieeehhh….!

 

Navicula © Warningmagz
Robi Navicula © Warningmagz

Navicula © Warningmagz
Dankie Navicula © Warningmagz

 Navicula © Warningmagz
Made Navicula © Warningmagz

 Navicula © Warningmagz
Gembul Navicula © Warningmagz

 

 

More info : www.naviculamusic.com  ||  twitter: @naviculamusic

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response