close

[Album Review] Navicula – Love Bomb

lovebomb
lovebomb
lovebomb

Navicula – Love Bomb

Volcom Entertainment

Watchful Shot: Tomcat – Love Bomb – Aku Bukan Mesin – Mafia Hukum

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

Apa persamaan nuclear bomb, sex bomb, dan love bomb? Sederhana saja, mereka bertiga sama-sama bertugas meledakkan sesuatu. Dan khusus untuk yang ketiga, Navicula sudah mematenkannya menjadi dua keping pemicu ledakkan grunge yang siap bergema di telinga, pikiran, dan ranah bawah sadar.

Kisah cinta memang selalu lekang oleh waktu, apalagi kalau bercerita tentang romantisisme dua insan. Beruntung, Navicula hadir dengan Love Bomb untuk meledakkan pola pikir itu dan menawarkan paradigma segar tentang cinta. Dengan sedikit kurang ajar, pastinya.

Kekurangajaran itu langsung tersampaikan di track pertama, “Tomcat”. Tanpa kula nuwun, ritme agresif langsung menyerang sejak intro gitar didengungkan. Lanjutannya sudah diprediksi, Anda akan dipaksa untuk menghentakkan kepala oleh vokal keras Robi selama hampir dua setengah menit.

Setelah tampil tidak sopan dengan nomor pembuka, Navicula sedikit menurunkan tempo dan menaati norma yang berlaku lewat “Love Bomb”. Gema grunge terasa pelan di sini, slow beat, dan tidak ada paksaan di sini. Namun empat setengah menit ini sepertinya sengaja disiapkan sebagai waktu tenang.

Benar saja, Robi kembali membentak di “Aku Bukan Mesin”. Ia membentak, “Aku pun punya norma/ Tapi ku tak mau dipenjara etika buta/ Yang membunuh demi surga/ Aku bukan mesin,” sedikit pesan untuk ketololan yang menghalalkan pembunuhan atas nama apapun. Melalui liriknya, energi dan makna disampaikan dengan gamblang sembari, sekali lagi, Anda akan dipaksa membuang-buang kepala.

Piringan kedua juga berisi nomor-nomor yang tidak kalah kurang ajar. Dengar saja bagaimana band asal Bali ini mengumpat lewat “Mafia Hukum”, “Mafia Medis”, dan “Metropolutan”. Kepedulian mereka terhadap alam bebas juga kembali diumpatkan lewat “Orangutan”, “Di Rimba”, “Bubur Kayu” dan “Harimau! Harimau!”. Sarat makna, sarat kritik, dan tentunya sarat kekurangajaran dalam musiknya.

Sayang, kegemilangan mereka sedikit ternoda karena adanya track semacam “Ingin Kau Datang”. Ke-grungean mereka seperti sirna di nomor ini, malah terkesan seperti pop murahan pada umumnya. Bahkan lirik “Ku tak kuasa menahan rindu lama/ Di mana kau ku ingin kau ada/ Entah di bumi ataukah di Angkasa/ Ku tak peduli ku ingin kau datang” membuat telinga saya sedikit gumoh. Yah, tapi seperti kata Seurius, “Rocker juga manusia”.

Love Bomb merupakan satu lagi karya yang brilian. Navicula tak hanya bercerita soal romantisisme dua insan di sini, melainkan cinta yang lebih universal, terhadap alam, pahlawan,kedamaian.  Dan jika Anda merasa kepingan pertama lebih berkualitas, sahih saja, mereka melakukan rekaman di Record Plants Studio, Hollywood, AS, dengan Alain Johannes sebagai produsernya. Sementara keping lainnya adalah hasil rekaman di Bali. Terakhir, kemasan Love Bomb menggambarkan bagaimana cinta mereka tertumpah, dengan menggunakan daur ulang tetrapack, kertas, dan tinta kedelai di dalamnya. [Warn!ng/Yudha Danujatmika]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.