close

Nelangsa Riang Bersama Banda Neira

_MG_7049

Duduk santai di rerumputan menikmati irama folk di depan mata, crowd dibawa piknik ke sebuah masa. Ukulele, gitar, xylophone, akordion, dan vokal-vokal manis dari para line-up seakan membuat lupa bahwa kita masih di Jogja, ditengah kampus pula.

Banda Neira © Warning
Banda Neira © Warningmagz

Mendatangkan duo yang sedang banyak dibicarakan, Banda Neira, acara Ketapel#1 yang diselenggarakan sabtu malam (09/11) kemarin berhasil menarik perhatian pecinta folk di Jogja. Bertempat di lapangan tengah gedung UPP 2 FIP UNY di jalan Bantul, penonton disuguhi penampilan ciamik dari rangkaian line-up di sebuah venue yang bisa dibilang sederhana.

Sebelum Banda Neira dan Aurette and The Polska Seeking Carnival (AATPSC) mengokupasi panggung, Gunmors dan Summer in Vienna melakukan tugas mereka dengan baik. Membawakan 7 lagu, Summer in Vienna menutup penampilan mereka dengan tembang “Malas”. Venue masih terlihat belum begitu ramai, space di depan panggung masih banyak yang berongga. Duo MC ketapel#1 yang malam itu sepertinya berusaha maksimal menghidupkan suasana dengan lawakan dan merchandise yang dibagi-bagikan.

Baru memasuki pukul 9, AATPSC membawa mood karnival mereka ke panggung. Humming manis dari Dhima Datu membuka intro penampilan yang disambung lagu “Abimanyu”. Malam itu panggung sederhana yang cukup sempit terlihat penuh oleh 7 personil AATPSC dan alat-alat musik mereka. Mengajak penonton untuk berdiri dan berdansa, AATPSC melanjutkan penampilan mereka dengan “Letter to You”, “I Love You More Than Pizza”,  dan “Lies in a Cup of Cappucino”. AATPSC malam itu juga membawakan satu lagu baru mereka sebelum dilanjutkan dengan “Wonderland” yang katanya lagu terakhir. Namun kejutan diberikan dengan menyuaranya “Nantes” milik Beirut yang di-cover­ sangat manis oleh AATPSC.

Penonton yang sebelumnya berdiri terlihat mulai membenarkan posisi duduk mereka lagi. Bukan tidak antusias, melainkan karena aura gig malam itu memang ‘piknik’ sekali. Setelah jeda sesaat, lunas sudah penantian penggemar Banda Neira yang sebelumnya hanya bisa menikmati penampilan mereka di soundcloud atau Youtube.

Hanya Rara Sekar, Ananda Badudu, gitar dan xylophone. Hanya itu komposisi yang membuat kebahagiaan meruang malam itu. Sebelum memainkan “Kau Keluhkan (Esok Pasti Jumpa)” sebagai lagu pertama, Rara Sekar dan Ananda Badudu banyak bercerita tentang Banda Neira, Jogjakarta dan pengalaman mereka. Banda Neira terlihat sangat antusias dengan penampilan pertama mereka di Jogja ini.

“Ke Antah Berantah” menyuara, disambung dengan nomor “Di Beranda” yang menceritakan dialog imajiner antara orang tua tentang anaknya yang sedang merantau. Sangat manis. Crowd ikut bernyanyi lirih disepanjang lagu. Entah Karena malu-malu, atau terlalu syahdu. “Kisah Tanpa Cerita” kemudian mengalun bersama vokal Rara Sekar dan Ananda Badudu yang saling melengkapi.

Berlatar belakang sebagai wartawan dan aktivis, Banda Neira tentu tidak sekedar berkarya untuk merayakan hal-hal kecil. Dua nomor, “Rindu” dan “Mawar” adalah salah dua karya mereka yang menyoroti masa kelam Reformasi 1998 Indonesia. “Rindu” merupakan musikalisasi puisi milik Subagio Sastrowardoyo, sedangkan “Mawar” adalah nama tim kopasus yang bertugas menculik para aktivis yang sampai sekarang belum diketahui keberadaannya. Pun turut disertakan puisi milik Wiji Thukul di tengah lagu.

Dibanding menikmati penampilan mereka di album atau soundcloud, melihat Banda Neira secara live terasa istimewa. Rara Sekar dan Ananda Badudu terlihat lebih berani bermain dengan vokal dan permainan gitar. “Senja di Jakarta” mendapat giliran disambung sebuah percakapan antara pohon dan daun di musim gugur yang menyuara di nomor “Berdansa (Percakapan Pohon dan Daun)”.

“Semesta bicara tanpa bersuara, semesta ia kadang buta aksara..” lirik puitis dari nomor “Hujan di Mimpi” ini akhirnya dimainkan bersama petikan gitar dan liukan vokal Rara, indah. Ananda Badudu kemudian pamit dan memulai intro “Berjalan Lebih Jauh” yang juga menjadi judul album pertama mereka. Sing along akhirnya terdengar lebih keras. Seolah sayang mengakhiri penampilan, Banda Neira membawakan “Surrender” milik Float yang disambut riuh penonton.

Sebuah pertunjukan yang manis dari seluruh line-up. Sayang sekali banyak yang mengeluhkan kondisi stage dan lighting malam itu. Panitia sepertinya harus memaksimalkan venue di acara Ketapel selanjutnya. Beruntung, Banda Neira benar-benar memuaskan penggemarnya. Dibuat nelangsa riang ke antah berantah. (Warn!ng/Titah Asmaning)

Banda Neira © Warning
Banda Neira © Warningmagz

Gigs Documentation Here -> Ketapel #1 

Event By : FIP UNY

Date : 9 November 2013

Venue : UPP 2 FIP UNY

Man of The Match : Penampilan maksimal Banda Neira di panggung yang sederhana

Warn!ng Level : •••

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response