close

No Problem! Concert: Sejurus Teror dari Teenage Death Star

teenage-death-star-2
Teenage Death Star
Teenage Death Star

Setelah lama tertidur pulas di waktu hibernasi yang panjang, akhirnya sang singa purba kembali ke habitatnya dengan menggelar hajatan No Problem! Concert pada Minggu, 30 Oktober 2016. Dengan insting yang tajam, sang singa purba tidak akan pernah lupa kandangnya sendiri; IFI (Institut Francais Indonesie) Bandung yang sempat menjadi kandang gelaran konser dua tahun lalu kini kembali menjadi tempat pembuktian pesta tanpa batas.

Bagi warga Bandung, hanya ada dua raungan yang sangat dinantikan. Pertama, raungan maung Bandung sebagai konotasi kepada klub sepakbola Persib Bandung. Kedua, raungan singa purba dari salah satu band bernama Teenage Death Star. Namun, kali ini saya tidak akan berbicara raungan Persib Bandung. Karena raungan yang sebenarnya dinantikan setelah dua tahun tertidur adalah raungan sang Sabbertooth—julukan dari Teenage Death Star—yang membuat kandang IFI seketika menjadi ugal-ugalan malam itu.

Sebelum mengulas keriaan No Problem! Concert, lebih dulu saya ingin memberikan apresiasi kepada 3hundred selaku penyelenggara yang telah mewadahi gelaran No Problem! Concert. Dua hal yang menjadi konser ini begitu antusias adalah munculnya rasa penasaran saya terhadap penampilan Collapse yang hadir bak angin segar kancah musik Bandung. Penampilan perdana mereka sebagai pembuka dari konser Teenage Death Star, mewujudkan komposisi yang pas dimana selain rindu keliaran sang Sabertooth, juga memberikan ruang baru bagi band bentukan Dika itu. Dibantu oleh Alyuadi (Heals, Caravan of Anaconda), Fatzky (Fuzzy, I), dan Dawan (Haul), penampilan Collapse cukup untuk membuat crowd panas sebelum merapatkan barisan bersama Teenage Death Star.

Crowd
Crowd

Nomor “Prologue” menjadi pembuka Collapse di awal perjumpaan. Setelahnya, beberapa nomor dari EP Grief yang baru rilis beberapa waktu lalu seperti “Cathedral” dan “Sleepless & Dreaming” meluncur tajam sekaligus memecah kerumunan dengan hentakan penampilan. Atmosfer yang disajikan memberikan atensi berlebih sebelum masuk ke dalam pertemuan agung bersama sang superstar. Tempo cepat, kadang berada di luar kendali normal menemani lengkingan vokal yang absurd namun memiliki ketegasan. Ditambah pula riff gitar yang meraung dengan distorsi kasar semakin menasbihkan Collapse ke taraf menyenangkan. Tak ayal, saya mencoba meyakinkan diri bahwa band ini memang kelak jadi primadona baru di altar independen Bandung. Sebagai penutup, Collapse membawakan nomor “Given” sekaligus mengakhiri gelombang energik yang ditumpahkan.

Yang ditunggu pun akhirnya tiba juga. Aksi Collapse hanyalah tirai pembuka dari keriaan sebenarnya karena sang Sabbertooth bersiap keluar dari kandangnya dibalik backstage yang sedikit temaram. Skill is Dead, Fuck Skill, Let’s Rock—adalah moto yang memang sangat sesuai dengan persona Teenage Death Star. Tanpa menghadirkan setlist laiknya artis kebanyakan, Teenage Death Star hanya ingin bersenang-senang seolah tak ada lagi waktu untuk melakukannya. Saat lagu baru menyentuh nomor pertama, kerumunan massal sudah dibuat tak beraturan olehnya. Beratus tetes keringat menetes serabutan mengikuti irama begundal yang usianya tak lagi muda. Di lagu selanjutnya, beberapa penonton naik ke atas panggung. Bukan karena tidak terkontrol akan tapi memang para personil Teenage Death Star memberikan kesempatan mereka untuk hanyut dalam permainan. Hal yang jarang atau mungkin tidak akan pernah terjadi dalam sebuah gelaran konser lain. Entah apa yang merangsang, tanpa menunggu komando raungan gitar memulai intro “Absolute Beginner Terror” dari seorang penonton yang naik ke atas panggung. Sejurus kemudian para personil Teenage Death Star mendadak lupa daratan, larut dalam fantasi impian yang mengawangkan pikiran untuk sejenak melepas rutinitas membosankan dan menjatuhkan badan seraya menikmati lagu tersebut. Sejujurnya saya sendiri tidak bisa menahan gejolak rangsang keriaan yang dibawakan dari nomor-nomor seperti “I’ve Got Johnny In My Head”, “All That Glitters Are Not Gold”, sampai “The Death of Disco Rabbit”. Memotret pun rasanya sudah tidak bisa mengarahkan titik fokus karena saking tidak kondusifnya lagi suasana. Tentu bisa dibayangkan bagaimana panggung yang seharusnya meletakan pandangan utama akan sang bintang ternyata sudah bukan lagi miliknya; tapi milik semua yang hadir sekedar meraih benang nostalgia. No problem!

Teenage Death Star
Teenage Death Star

 

Teror yang dibangun dari permainan serabutan namun memercikan gairah tersendiri belum menapaki pemberhentiannya. Masih tersedia beberapa nomor yang tertuliskan dalam album Longway to Nowhere. Walaupun demikian, Teenage Death Star juga menyelipkan selingan beberapa lagu baru yang sama-sama meletupkan teriak massal, crowdsurfing yang tersebar di sana-sini, lantas berujung tepuk meriah seantero penjuru.  Untuk catatan, beberapa lagu itu tidak tercatat pada setlist mereka. Namun siapa yang ambil pusing selama masih membiuskan serangan-serangan brutal yang penuh keintiman?

Lagu pamungkas yang tersaji dalam wujud “Absolute Beginner Terror” masih membawa para kerumunan ke titik klimaks yang tak bertuan. Segala keliaran yang ditimbulkan sejatinya adalah ungkapan kerinduan terhadap aksi dan kharisma Sir Dandy cs. Bagi saya, konser malam itu terasa begitu singkat. Waktu dua tahun semenjak konser terakhir mereka di IFI nyatanya belum memuaskan dahaga saya kepada performa impresif dan bijak dari Teenage Death Star. Mungkin ada perasaan was-was, takut, dan juga khawatir jikalau setelah ini mereka hilang ditelan bumi seperti kebiasaan-kebiasaan terdahulu. Tapi saya harus menerima kenyataan karena pada akhirnya semua riang, semua berujung senang. [WARN!NG/Rahmat Syah]

Event by: 3hundred

Date: October 30th, 2016

Venue: IFI (Institut Francais Indonesie) Bandung

Photo by: Rahmat Syah

Watchful shot: Pembuka dari Collapse yang pantang dilewatkan dan agresi kerumunan massal dari penonton di tengah aksi Teenage Death Star

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery: No Problem Concert

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.