close

[Movie Review] Stand By Me

1be1150f88ndbyme

What : Stand By Me

Director : Rob Reiner

Genre : Drama

Rilis : 1986

stand by me

                                                           Nostalgia Petualangan Sederhana

“I never had any friends later on like the ones I had when I was twelve. Jesus, does anyone?”

Seorang pria duduk di dalam mobilnya yang terparkir di pinggir hamparan padang rumput yang luas. Ia menerawang sambil memikirkan berita di koran mengenai seorang pengacara sekaligus teman masa kecilnya yang sudah hampir 10 tahun tidak pernah bertemu, tiba-tiba diberitakan mati terkena tusukan di leher. Termangu, artikel tentang kematian teman masa kecilnya tersebut membawanya kembali pada saat pertama kali ia melihat mayat di usia 12 tahun. Mulailah bercerita dengan sudut pandang dan narasinya, Gordie Lachance dewasa (Richard Dreyfuss), tentang bagaimana ia dan tiga orang teman masa kecilnya melakukan sebuah perjalanan darat mencari keberadaan mayat seorang anak hilang dari kota kecil tempat mereka tinggal, Castle Rack, 20 tahun silam waktu itu yaitu tahun 1959.

Kata “Pencarian mayat” dalam narasi film memang terdengar heboh, seru dan misterius. Tetapi sebenarnya bukan mayat tersebutlah yang menjadi kunci berjalannya film ini, melainkan bagaimana mereka, empat anak usia 12 tahun yang lahir dengan latar belakang  keluarga yang berbeda memahami satu sama lain, meninggalkan rumitnya kehidupan sehari hari di rumah mereka. Film ini banyak mengingatkan kita tentang petualangan sederhana yang dulu sering kita lakukan di masa kecil bersama teman teman sebaya kita. Ya, film ini adalah nostalgia, film yang membawa kita pada ingatan pertemanan yang naif pada saat kita berusia 12 tahun, masa dimana hati dan pikiran kita belum terlalu jauh ke depan atau mungkin ke belakang

Karakter dan stereotipe yang kuat terbangun dalam tiap tiap karakter empat sekawan tersebut, Gordie Lachance (Wil Wheaton) si pendiam yang pintar dan hobi menulis yang sadar jika ia tidak begitu diharapkan oleh keluarganya setelah kepergian anak kesayangan keluarga tersebut yaitu kakak laki lakinya. Chris Chamber (River Phoenix) yang lahir dalam keluarga keras, memiliki ayah pemabuk dan kakak laki laki yang terkenal brutal sehingga membuatnya ikut terjebak dalam identitas “anak nakal” namun memiliki jiwa kepemimpinan yang kuat. Vern Tessio (Jerry O’Connel), anak dengan perawakan gendut yang lucu, sering menjadi bahan ejekan (tipe yang hampir selalu ada di dalam geng). Dan Teddy Duchamp, seorang anak dari ayah yang memiliki emosi tidak stabil yang pernah hampir membakar telinganya sehingga membuatnya memiliki emosi yang tidak stabil sama seperti ayahnya.

Perjalanan keempat sekawan ini diawali dari Vern yang tidak sengaja mendengar kakaknya dengan teman kakaknya membicarakan tentang mayat seorang anak laki laki yang tertabrak kereta dan masih belum ada yang melaporkan. Vern kemudian menyampaikan berita itu kepada teman temannya dan kemudian mereka memutuskan untuk  mencari mayat itu dengan harapan agar nantinya mereka bisa tampil di televisi dan masuk koran. Mereka kemudian menyusun siasat untuk pergi dari rumah.

Stand By Me bukan sebuah film yang bercerita tentang misteri sebagaimana Stephen King senang menciptakan cerita ceritanya. Film yang diadaptasi dari novel The Body karangan Stephen King ini secara garis besar banyak bercerita tentang peliknya kehidupan sehari hari, terutama pada tahun 50-an, beserta kejadian kejadian di dalamnya yang tidak ada habisnya. Direfleksikan dari mata anak laki laki usia 12 tahun –tidak banyak peran dan sudut pandang perempuan atau anak perempuan di dalam film ini– kompleksnya kehidupan tergambar menjadi lebih sederhana dan naif namun justru membuatnya terasa lebih memilukan. Selain hal sederhana yang bisa kita temui di masa sekarang, banyak pula aspek sosial klasik yang berbeda dengan masa sekarang seperti merokok pada usia 12 tahun. Amerika pada masa itu belum seketat saat ini. Anak usia 12 tahun merokok tidak ditampilkan sebagai hal aneh bahkan tidak pernah disinggung secara khusus oleh narator dalam film. Pertunjukkan klasik yang sangat sederhana tidak sekompleks kehidupan di masa sekarang.

Merupakan film klasik, dibuat lebih dari 30 tahun yang lalu, tentu banyak perbedaan fisik jika dibandingkan dengan film remaja saat ini. Secara teknik, tidak banyak yang dijanjikan dalam film ini. Penggunaan efek suara tidak begitu mendominasi, penggunaan soundtrack yang minim namun diatur dengan sangat apik. Walaupun teknik tidak begitu unggul dibanding dengan perfilman sekarang serta keadaan dalam film tersebut terpisahkan gap waktu yang panjang dengan keadaan sekarang, namun insight, esensi, dan ketegangan masih sangat bisa kita rasakan, bahkan mungkin masih akan tetap terasa di kemudian hari saat kita sudah lebih tua.

Film yang enak untuk ditonton seminggu sebelum libur semester berakhir, sebelum merasa waktu terlalu padat untuk sekadar memahami setiap percakapan dalam film drama yang berjalan agak lambat. Bisa jadi hal yang menyenangkan melakukan perjalanan keluar bersama teman teman terdekat setelah menonton film ini. Akan lebih terasa adanya kedekatan pada tiap percakapan “dalam” antara kita dan teman terdekat kita yang kadang terdengar bodoh, sebagaimana yang terjadi dalam perjalanan Gordie, Chris, Teddy dan Vern saat mencari mayat yang hilang. Sebelum mayat tersebut adalah teman kita sendiri, atau setidaknya sebelum liburan ini berakhir.

Review dikirim oleh Sekar Bestari (@Sekar_b)

stand-by-me-treehouse

standbymebdcap3

stand-by-me-1986-07-g

Stand By Me 1

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response