close

[Album Review] OK Karaoke – Sinusoid

OK Karaoke
OK Karaoke
Sinusoid

OK KaraokeSinusoid

Vitus Records

Watchful Shot :Late Comer Boy, Casteless Man, Fetus

[yasr_overall_rating size=”small”]

 

OK Karaoke dibentuk sebagai band indiepop dari Semarang, Jawa Tengah yang memulai gigs pertama dengan cara mengover beberapa single, kebanyakan lagu tersebut berasal dari The Stone Roses danNew Order. Masa kejayaan mereka dimulai ketika Garna (AK47) dan Baskoro (Suck Eat Fruit) pada tahun 2005 membentuk band ini karena kecintaannya di musik indiepop dan kegemarannya pada musik hardcore atau punk.

OK Karaoke sudah kembali berbeda, performa mereka kian sadis dengan kedatangan vokalis baru, Febrian Aditya Putra,bersama Aditya Jati Wicaksono (bass), Garna Raditya (gitar), Bhaskoro (gitar), dan Risqonadhimi Haque (drum), yang kini mengeluarkan album kedua bertajuk Sinusoid pada Januari 2014 setelah rilisnya mini album mereka di tahun 2008 bertajuk Sail Of The Strom. “Casteless Man” dan “Call Me Time” menjadi single yang terlebih dahulu keluar di pasaran pada tahun 2011, dua lagu inilah yang menjadi salam perkenalan bagi pendengar untuk mengetahui keberadaan Dito yang kini sebagai vokalis. Album ini terdiri dari sembilan lagu yang siap-siap menari lembut di dalam telinga Anda.

Kejutan datang dari “Late Comer Boy”, hanya enam kalimat panjang yang tersuguh, namun Dhimi berhasil membuat lagu tersebut menjadi cukup memancing hentakan para pendengar dengan drumnya. Disamping itu Garna dan Bhaskoro tak kalah memukau dengan kocokan gitarnya. Track kedua tak kalah menghentaknya, “Call Me Time” membawa nuansa indie pop yang mendadak datang menyeruak telinga kita, tak jauh beda dengan track sebelumnya. “Sinusoid” yang menjadi headline besar album ini. Khas sekali dengan indie pop yang berkesan easy listening, lagu ini diciptakan bagi pendengar agar selalu teringat era 1980-an dimana gerbang musik mulai berdatangan secara beragam, salah satunya adalah alternatif pop atau indie pop. “Sinusoid” adalah lagu berbahasa Indonesia di album ini, sisanya “Kenangan Angan” dan “Lekas Sembuh”. “Departed” duduk di track empat, lagu ini adalah salah satu yang sebelumnya masuk di dalam kompilasi Atlas City Movement.

“Casteless Man”, sebuah anthem untuk beberapa dari mereka yang tersingkirkan akibat adanya sebuah “pengkastaan” dalam masyarakat. Dhimi menjelaskan bahwa lagu ini diadaptasi dari sistem strata sosial di India, ternyata banyak masyarakat yang menolak sistem kekastaan tersebut karena menimbulkan adanya kekuasaan. “No one gives a hand, and no one notice anymore. Don’t you all know, I’m gold, I’m real, I’m a casteless man”. “Ini merupakan sebuah metafora untuk semua insan supaya memberdayakan dirinya agar lebih mandiri dan berkarya walaupun tersingkirkan,” ujar Dhimi.

“Sangre Azul”, “Kenangan Angan”, dan “Lekas, Sembuh” tak jauh beda dengan lagu-lagu sebelumnya yang bernuansa indie pop, ketiga lagu ini membuat kita selalu sing along walaupun kalian telah memutarnya berkali-kali. “Fetus” mengisi track paling bungsu dan menutup album ini dengan indah. Jika diartikan secara jamak, ‘fetus’ adalah sebuah fase kehamilan seorang perempuan dan di dalam rahimnya telah terbentuk calon janin. Slow rock, dan lo-fi bisa kita dengarkan manis disetiap gitar yang dimainkan oleh Garna dan Bhaskoro. Di akhir lagu diselipkan field record suara-suara dentingan mainan bayi. [WARN!NG/Debby Utomo]

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response