close

[Opini] Mengulas Single Pertama Grow Rich yang Tak Tendensius

Grow Rich

Ada banyak alasan kenapa saya malas berinteraksi terlalu intens dengan media sosial. Newsfeed Facebook saya misalnya, dipenuhi dengan status-status dan postingan yang berisi seputar kebencian, pertengkaran, diskusi sok tahu dan sok benar tanpa pangkal, tanpa akhir, tanpa saya paham duduk perkaranya yang datang dari para komentator fenomena sosial—meski mereka hanya melihat berbagai masalah dari permukaan tanpa serius mendalami soalan masalah struktural, juga konflik yang dapat diselesaikan melalui komunikasi langsung namun keengganan untuk menempuhnya berujung pada drama di media sosial pula (jangan salah paham, bertahun-tahun yang lalu, dalam masa-masa yang lama sekali, saya pun pernah terjebak pada drama-drama semacam ini, namun saking traumatisnya saya lalu memutuskan untuk berhenti dari keriuhan dan keributan media sosial). Pendeknya, bagi saya personal, ruang maya ini sebagian besar dipenuhi racun yang mempengaruhi psikis saya dalam skala hidup harian sekaligus mendistorsi pemahaman saya terhadap realita. Absennya saya di ruang maya ini seringnya disalahpahami sebagai ketidakhadiran saya dalam kerja-kerja di dunia sehari-hari. Tentu saya akan bilang itu salah besar. The fact is i’ve been living my life just like other people, doing cool and meaningful projects, doing my hobbies; reading, writing, watching movies, having fun with friends, socializing, and all. Maaf-maaf kalau saya tidak tertarik berbagi segala hal tentang hidup saya di media sosial, saya harap ini tidak dipahami sebagai bentuk inferioritas atau ketertutupan diri, tapi lautan media sosial yang penuh ombak ganas membuat saya semakin paranoid selain memang bukanlah sesuatu yang esensial bagi saya personal. Imaji yang ditampilkan di sana rentan menimbulkan asumsi-asumsi tentang citra seseorang, kemudian berakhir pada kesimpulan yang bisa saja meleset dan jauh dari tepat; ekspektasi tertentu terhadap diri saya, yang ditimbulkan dari kesimpulan-kesimpulan berbasis imaji tersebut. Ekspektasi yang akan membuat saya atau siapapun menjadi tertekan dan berpotensi sekuat tenaga untuk mempertahankan citra yang diekspektasikan orang-orang lain. Tekanan-tekanan yang menguras begitu banyak waktu, energi, dan dapat melampaui kapasitas psikis siapapun. Juga tentu saja menjauhkan saya dari apa-apa saja hal yang mesti saya prioritaskan.

Lalu beberapa waktu lalu, di suatu akhir pekan yang biasa-biasa saja, seorang teman lama dengan begitu jumawa menawarkan proyek solonya untuk didengar dan disimak. Bagi yang pernah terlibat dan menyelami skena hardcore punk Jakarta (bahkan kota-kota dan daerah lain barangkali) kemungkinan akan mengenal sosok kontroversial yang terkenal dengan terlalu banyak omong, persona aneh dan begitu terobsesi untuk mencari perhatian sebanyak mungkin dengan cara yang konfrontatif untuk memancing respon, sok kritis, meski jangan pernah lupakan eksplorasi musiknya yang jauh dari medioker di skena yang bisa dibilang kaku dan saklek, melalui band keren bernama Nervous Breakdown. Ini belum termasuk performa di atas panggung yang mesti saya akui penuh totalitas dan kegilaan pada jamannya, nyaris tanpa tanding, bagi siapapun yang pernah menyaksikannya. Mesti diakui pula, eksperimental adalah nama tengah Abdur Rohim Latada alias Oyi, vokalis dan konseptor Nervous Breakdown. Kali ini, manusia menyebalkan ini datang dengan proyek solo bertajuk Grow Rich. Entah kenapa nama macam itu yang dipilih. Tak ada penjelasan yang mendalam terkait itu. Mungkin ini saya saja yang terlalu sensitif dengan kata ‘rich’ dan seringkali lupa bahwa ‘rich’ memiliki makna yang dalam, lebih dari sekedar kata ‘rich’ yang familiar bagi kita sehari-hari berbentuk kekayaan dan penumpukan harta benda. Entah, hanya Oyi yang tahu, tanya saja sendiri padanya. Satu lagu yang Oyi pamerkan berjudul “Cash to Kyodo”—saya sendiri pun tak paham apa yang dimaksud oleh kalimat tersebut, terlebih jika kita menyimak liriknya. “Cash to Kyodo” adalah lagu pertama yang dia tulis sebagai (atau bersama?) Grow Rich sebelum kita akan bergeming dan terheran-heran dengan lagu keduanya, “Cirrus the Virus”, yang begitu eksperimental dan kental dengan atmosfer seattle sound yang ganjil, sangat sulit meluncur mulus ke telinga dan lebih sesuai menjadi soundtrack bunuh diri. Bukan, bukan karena lagu itu begitu depresif. Tapi itu sebuah lagu aneh sekaligus indah yang sesuai untuk sebuah perjalanan astral.

Sebagai sebuah proyek solo, ide-idenya yang dimanifestasi dalam lirik dan aransemen—berikut pembiayaan—digarap alias dieksekusinya sendiri. Semua instrumen dalam lagu tersebut pun—kecuali drum—dimainkan sendiri olehnya. Wow, dia bukan Lenny Kravitz kan? Saya tidak akan menulis tentang proyek solonya ini melalui pendekatan ala kritikus musik yang terlalu banyak bullshitting dan spik-spik babi tentang musik hanya untuk membodoh-bodohi kita para pendengar musik yang bahagia dan bebas menentukan dan mendeskripsikan apa yang kita cintai dan apa yang bagi kita layak untuk kita dengar, kita—konsumen bangga yang ingin dihibur—tak butuh kuotasi atau referensi nama-nama musisi berdasar kemiripan musik, atau definisi lewat istilah-istilah genre yang fancy dan bahkan—in the Holden’s name!—sangat sulit untuk menyebutnya dan barangkali hanya setan belaw yang tahu kenapa bisa begitu. Here we are now, entertain us. And cut the bullshit. Saya akan bilang Oyi adalah artikulatif. Setelah saya mendengarkan “Cash to Kyodo” (berkali-kali, semata karena saya sangat menyukainya!) dan bertanya padanya, Oyi mendeskripsikan Grow Rich sebagai indie rock, dan bagi saya itu lebih dari cukup. Saya selalu suka indie rock; saya mendengarkannya, pada generasi saya, siapa yang tidak tumbuh besar bersama indie rock? “Cash to Kyodo” adalah musik yang berdistorsi, berenergi dan tetap melodius, saya ingin menjadi rockstar setelah mendengarnya—ini pasti karena saya telah dibaptis oleh distorsi gitar listrik meskipun saya terlalu banyak mendengar Nirvana Unplugged. “Cash to Kyodo” mudah untuk didengarkan dan membawa semangat menyenangkan yang optimis—terlepas liriknya terlalu sulit untuk saya interpretasi, terutama karena eksplanasi yang bagi saya terlalu singkat. Atau memang dikomunikasikan dengan absurd. Bisa saja. Itulah Grow Rich bagi saya. Beberapa percaya dan pernah berkata bahwa membuat musik yang mudah didengarkan lebih sulit ketimbang bikin musik yang aneh, di satu titik saya mempercayainya.

Di suatu sore akhir pekan yang biasa-biasa saja dan dipenuhi percakapan aneh nan alot dengan Oyi karena perilakunya yang menyebalkan, saya merasa sedikit senang mendapat hadiah kecil ini ketika bermain Facebook yang sangat jarang saya buka, dan menemukan Grow Rich. Terkadang kita butuh katarsis ketika teralienasi kan? I hate him, I love him. Namun menurut penilaian objektif saya yang pelit, saya harus jujur, Oyi adalah seorang jenius. [Kontributor/Pramilla Deva]

Temukan Grow Rich dan singlesnya di bandcamp:

Grow Rich:

www.growrich.bandcamp.com

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response