close

[Opini] Spotlight, Mengungkapkan Tabu dengan Jurnalistik

spotlight-movie

Pada tahun 2015, sebuah film drama yang mengisahkan para jurnalis investigasi yang membuka tabir kelam di balik hierarki sebuah institusi agama telah dirilis. Dipoles dengan menawan oleh arahan sutradara Tom McCarthy dengan skenario yang juga dibuatnya bersama Josh Singer, Spotlight berhasil menghadirkan cerita yang membuat kagum banyak kalangan. Berlatar belakang dari kisah nyata yang terjadi pada 2002 silam, film ini mengangkat lika – liku tim Spotlight dari Boston Globe yang mengurusi sebuah rubrik investigasi dengan nama yang sama dalam harian tersebut. Mereka secara mendalam mengulik sebuah kasus yang membutuhkan proses berbulan – bulan lamanya dalam melakukan investigasi. Salah satu kasus kontroversial inilah yang berhasil mereka angkat dan dibahas dalam film telah berhasil memenangkan Pulitzer Prize – penghargaan bergengsi untuk karya tulis jurnalistik dan literatur.

Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton), seorang editor senior memimpin tiga jurnalis: Mike Rezendes (Mark Ruffalo), Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams), dan Matt Carroll (Brian d’Arcy James) yang tergabung dalam tim Spotlight, pada pertengahan tahun 2001diperintahkan oleh editor pusat The Boston Globe yang baru, Marty Baron (Liev Schreiber) untuk menelusuri lebih lanjut John Geoghan, seorang pastor yang melakukan pelecehan seksual terhadap anak yang terjadi di lingkungan gereja Katolik Kota Boston, Massachusetts, Amerika Serikat. Kasus ini terkesan sangat ditutupi dan langsung diselesaikan begitu saja oleh pihak gereja. Setelah melakukan berbagai penelusuran, melalui riset hingga wawancara mendalam dengan beberapa narasumber, Spotlight menemukan bahwa kasus John Geoghan hanyalah sebuah potongan kecil yang nampak di permukaan. Ada sebuah skandal yang luar biasa di balik itu semua, karena tidak hanya John Geoghan yang melakukan hal tersebut, tercatat puluhan pastor yang berhasil mereka kuak dalam sebuah skema sistematis yang tersusun rapi di balik pemindahan tugas kepastoran yang ditutupi oleh pihak Gereja wilayah Boston, Massachussetts.

Fenomena di dunia jurnalisme sebagian besar selalu sukses menjadi daya tarik yang dapat diangkat dalam sebuah film. Spotlight dibilang berhasil dalam menyuguhkan sebuah realitas para jurnalis dari segala sisi, itu dibuktikan dengan pendapatan yang lumayan film ini. Kritik positif yang mengalir deras untuk Spotlight, pada puncaknya berhasil mendapatkan oscar pada kategori Best Picture Academy Award 2015. Elemen – elemen jurnalisme menjadi sangat kuat dalam setiap proses yang Spotlight jalani, ketika mereka harus menyampaikan kebenaran walaupun harus berhadapan dengan salah satu institusi keagamaan yang cenderung sensitif untuk dikritik keras. Loyalitas utama jurnalisme adalah kepada masyarakat, merupakan salah satu elemen jurnalisme yang menjadi dasar pemikiran tim Spotlight dalam mengungkapkan kebenaran. Masyarakat dalam hal ini khususnya adalah ratusan korban yang ingin bersuara namun dibungkam oleh pihak gereja maupun media seperti yang dialami oleh Survivors Network of those Abused by Priests (SNAP) yang dipimpin oleh Phil Saviano, atau mereka yang terombang – ambing akan iman mereka yang akan goyah karena melaporkan para pemuka agama mereka, atau mereka yang memang memaksa untuk menutupi aib mereka sendiri karena malu atau tersiksa karena batin. Korban – korban pelecehan seksual ini tidak semua bisa bertahan dan kelak menyampaikan pendapatnya, beberapa dari mereka berujung pada bunuh diri, mengakhiri nyawa mereka sendiri. Peran jurnalisme yang dilakukan oleh Spotlight untuk menghentikan penutupan fakta yang nyata terjadi di tengah masyarakat Boston, sangatlah besar dalam hal ini. Lebih tepatnya, hati nurani para jurnalis Spotlight memiliki pengaruh besar dalam hal ini.

Agenda setting adalah upaya media untuk membuat pemberitaannya tidak semata-mata menjadi saluran isu dan peristiwa. Ada strategi, ada kerangka yang dimainkan media sehingga pemberitaan mempunyai nilai lebih terhadap persoalan yang muncul. Idealnya, media tak sekedar menjadi sumber informasi bagi publik. Namun juga memerankan fungsi untuk mampu membangun opini publik secara kontinyu tentang persoalan tertentu, menggerakkan publik untuk memikirkan satu persoalan secara serius, serta mempengaruhi keputusan para pengambil kebijakan. Agenda Setting itu dilakukan oleh Boston Globe ketika peristiwa 9/11 terjadi. Peristiwa yang merupakan empat serangan bunuh diri yang telah diatur terhadap beberapa target di New York City dan Washington, D.C. pada 11 September 2001 yang dilakukan oleh kelompok militan Islamal-Qaeda. Semua fokus utama para jurnalis Boston Globe dialihkan pada hal ini, tidak terkecuali Spotlight, mereka harus menghentikan aktivitas mereka dan mengalihkan fokus pada peristiwa 9/11. Sebuah dinamika pada industri media dan itu biasa terjadi. Sebuah bumbu yang menghambat proses pemecahan kasus pelecehan seksual oleh pemuka agama yang seharusnya membimbing iman umatnya bukan menodai hak asasi manusia umatnya, kasus yang sudah terkubur puluhan tahun lamanya.

Independensi menjadi pertimbangan yang sangat sering mengombang – ambing para jurnalis, itu juga tentu dialami oleh para jurnalis Spotlight. Bagaimana Walter “Robby” Robinson (Michael Keaton) sebagai seorang editor Spotlight yang merupakan warga asli Boston mendapatkan tekanan yang besar dari teman – temannya. Alasan bahwa Gereja telah menjadi pengaruh yang sangat besar bagi kota dari segi politik hingga ekonomi, masyarakat masih membutuhkan pegangan dalam kehidupan melalui agama, hingga membawa nama pimpinan Robby yang baru, Marty Baron (Liev Schreiber) yang merupakan seorang Yahudi dan merupakan pendatang di Kota Boston sehingga Marty hanya memikirkan kepentingannya saja. Semua alasan itu dilemparkan kepada Robby, yang bisa saja mempengaruhi keputusan jurnalistik dari Robby akan setiap langkahnya.Bagaimana Sacha Pfeiffer (Rachel McAdams) harus berulang kali merenungkan segala tulisannya karena ia juga selalu menemani neneknya setiap pekan berdoa di Gereja namun dia justru “menyerang” gereja itu sendiri. Pengaruhnya menjadi sangat besar setelah tahap investigasi yang ia lakukan mencapai puncaknya, Ia tidak lagi menemani neneknya beribadah untuk sementara waktu. Ketika ia harus memikirkan salah seorang narasumber yang harus mengakui orientasi seksualnya karena dilecehkan mungkin oleh salah satu pastor yang pernah memberikan khotbah padanya, berdoa sekarang menjadi sebuah persoalan.

Selain itu jurnalis juga harus memberi forum bagi publik untuk kritik maupun dukungan warga. Selain harus menyajikan fakta, wartawan harus berpegang kepada standar kejujuran yang sama atau kesetiaan kepada kepentingan publik. Media harus mampu menjadi ajang saling-kritik dan menemukan kompromi. Forum yang disediakan untuk itu harus untuk komunitas seutuhnya, bukan hanya untuk kelompok yang berpengaruh atau yang secara demografi menarik. Seperti pada Spotlight, setelah melakukan investigasi, mendatangi narasumber, melakukan riset, menulis pemberitaannya, kemudian merilisnya, mereka juga tetap menyediakan sarana kesaksian bagi para korban pelecehan seksual yang belum mereka angkat, yang masih takut untuk bersuara. Namun setelah pemberitaan itu tersebar luas, dering telepon saling bersahutan di kantor Spotlight, panggilan harapan dari orang – orang yang berani mengungkapkan sisi gelap yang mereka sembunyikan, karena keberanian beberapa orang wartawan.

Tidak dapat dipungkiri, fenomena gunung es menjadi sebuah fenomena yang bisa dikaitkan dengan kasus ini. Besarnya gunung es yang tampak di luar ternyata memiliki dasar yang jauh lebih besar lagi, yang tertutup tanah maupun laut. Satu orang pastor bisa melecehkan lima anak, berapa jumlah anak yang bisa dilecehkan sepuluh pastor, dua puluh pastor, tiga puluh pastor. Dasar penceritaan kehidupan jurnalis terutama investigasi yang seringkali harus membuka beragam kasus secara spesifik dan mendalam. Menguak fakta yang ada tanpa menutupinya, melakukan verifikasi terhadap apa yang sedang diamati, memegang teguh independensi yang dimiliki, dan memperjuangkan kehidupan khalayak secara luas dengan tanggung jawab dan integritas tinggi. [Kontributor/ Titus Kurdho Laksono]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response