close

Panas Dingin Demam Selfie di Jagat Seni

SELFIE

Demam baru tengah melanda pameran-pameran seni di Yogyakarta. Banyak orang merasa terganggu dengan kemunculannya dan memberikan cibiran pedas. Tidak sedikit pula yang menolak anggapan itu dan menganggapnya positif. Hulu dari segala pro-kontra tersebut bermula dari sebuah fenomena, yaitu kemunculan demam selfie di pameran seni.

selfie di pameran seni © www.radioaustralia.net.au
selfie di pameran seni © www.radioaustralia.net.au

Selfie sendiri merupakan aktivitas seseorang yang memotret dirinya sendiri. Biasanya menggunakan ponsel pintar atau webcam, kemudian mengunggahnya ke media sosial. Beberapa tahun belakangan fenomena ini mulai menjamah banyak pameran seni di Yogyakarta. Menurut Budi N. Dharmawan, seorang seniman foto, kemunculan fenomena ini juga diikuti dengan peningkatan kuantitas pengunjung yang datang ke pameran. “Pameran kesenian tiba-tiba rame, isinya anak muda dan kebanyakan karya yang dipamerkan menjadi objek selfie,” jelas Budi.

Salah satu pameran yang terinvasi demam selfie adalah ART|JOG 14 pada bulan Juni tahun lalu. Banyak pengunjung ART|JOG merespon negatif kemunculan fenomena ini. Hamida Thahira, salah seorang pengunjung, menganggap banyaknya pengunjung yang melakukan selfie di depan karya sangat mengganggu pengunjung lain yang benar-benar ingin menikmati karya. Selain itu, tidak sedikit orang hanya menjadikan kunjungan ke ART|JOG sebagai penanda tingginya status sosial. Caranya, ber-selfie di depan karya dan memamerkannya lewat media sosial seperti Path dan Instagram.

Beberapa orang juga melakukan selfie secara berlebihan hingga menyenggol dan menyebabkan karya yang dipamerkan rusak. Pada akhirnya, menurut Hamida, demam selfie ini akan mengurangi apresiasi terhadap karya yang dipamerkan. Penyebabnya, karya-karya yang dianggap tidak menarik sebagai objek foto diri tidak akan digubris.

Menurut Budi, hal tersebut sangat mungkin terjadi dan terkadang membuat pesan dari karya tidak tersampaikan. “Banyak pelaku selfie tidak melihat karya apa, karya siapa, maksudnya apa tapi yang penting lucu sebagai latar foto diri,” ungkapnya. Meskipun begitu, sebagai seorang seniman, Budi mengaku tidak masalah andaikan karyanya dijadikan sebagai objek foto diri. Karena pada akhirnya sangat sulit untuk mengukur apakah para pelaku selfie tersebut memahami karya yang dipamerkan atau tidak.

Heri Pemad, inisiator ART|JOG, memiliki pendapat yang berbeda soal apresiasi karya. Menurut Heri, selfie justru menjadi sebuah bentuk apresiasi awal. Nantinya, jika selfie sudah tidak lagi menarik bagi pengunjung, maka akan berlanjut pada tahapan lebih tinggi untuk mempelajari dan memahami karya-karya yang dilihat. “Dalam kondisi tersebut mungkin selfie tetap penting tetapi tidak berlebihan seperti sebelumnya,” jelas Heri.

Heri juga tidak setuju dengan berbagai komentar miring soal demam selfie ini. “Sebagai penyelenggara pameran orang-orang sudah mau datang ke pameran saya saja itu sudah luar biasa,” ungkapnya. Ketika akhirnya orang-orang yang berkunjung ke pameran banyak melakukan selfie itu tidak masalah. Memori yang terekam dalam otak dan kamera akan menjadi sejarah bagi para pelaku selfie dan juga bagi karyanya. Heri mengandaikan, “Misalnya orang yang berfoto kelak menjadi orang yang sangat terkenal tentunya akan jadi cerita menarik bagi pameran dan karyanya,”.

Selain itu, tersebarnya foto-foto hasil selfie di media sosial akan memantik rasa ingin tahu dan mendorong orang-orang yang melihatnya untuk ikut datang ke pameran. Heri mengungkapkan bahwa hal tersebut sudah pasti menambah jumlah pengunjung pameran. Hal itu juga diamini oleh Budi. Menurutnya, dengan beredarnya banyak foto hasil selfie memberikan publikasi tidak langsung terhadap pameran itu sendiri.

Di masa depan, Heri percaya, aktivitas selfie di pameran seni akan menjadi hal biasa, toh, ini merupakan fenomena yang tidak dapat dihindari. Di sisi lain, Budi menganggap fenomena ini memiliki efek positif dan negatif tergantung lewat sudut pandang mana untuk melihatnya. Sementara itu, Hamida tetap berharap dapat menikmati pameran seni dengan tenang tanpa terganggu aktivitas selfie, bahkan jika perlu, diberlakukan aturan yang melarang aktivitas selfie di pameran seni. Bagaimana dengan anda?

oleh: Farras Muhammad – untuk Jogja Artweeks 2015

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response