close

Panduan Sinisme Bagi Kelas Menengah

no thumb

 

Mogok Nasional para buruh di berbagai kota yang berlangsung pada akhir Oktober lalu memicu semacam proxy war di dunia maya. Para penghuni media sosial terbelah jadi dua kubu: yang-sinis dan yang-simpatik terhadap gerakan Mogok Nasional. Bagi kubu sinis, Mogok Nasional itu meresahkan, bikin macet, dan suatu ungkapan kurang bersyukur. Sedang bagi yang-simpatik, kaum buruh memang sudah seharusnya memperjuangkan haknya melalui Mogok Nasional. Debat kusir antara kubu sinis dengan kubu simpatik berlangsung sengit dan bahkan lebih lama dari Mogok Nasional itu sendiri. Salah satu kawan aktivis buruh Jogja mengaku harus meladeni teman SMA-nya selama dua hari dalam perdebatan di Facebook. “Jariku sampe pegel,” katanya.

Tulisan ini tak hendak meramaikan perdebatan yang sudah ramai itu, sebab artinya sama saja dengan menabur garam di tengah laut. Tulisan ini hendak berbagi panduan tentang bagaimana menyebarkan sinisme yang baik dan benar. Sebagai bagian dari kelas menengah ngehe, penulis merasa berkewajiban untuk berbagi dengan sesamanya. Pasalnya laku sinis via sosial media ini—selain bermuatan ‘edukatif’—juga mampu meningkatkan popularitas pelakunya. Beberapa teman yang sinis secara intens via twitter misalnya, bertambah jumlah penguntitnya.

Berikut adalah beberapa tips agar laku sinis lebih ‘edukatif’ hingga menambah popularitas kita. Sebab apa lagi sih yang lebih penting dari popularitas di era sekarang ini?

Pertama, untuk mengunggah sinisme ke media sosial kamu harus punya perkakas yang mendukung. Entah itu telepon pintar, komputer meja, komputer jinjing, tablet, atau perkakas mutakhir lainnya. Semakin canggih perkakasnya, maka semakin tertunjanglah berbagai bentuk penyampaian pendapat sinismu terhadap sikap durhaka kaum buruh. Tentang bagaimana perkakas-perkakas tersebut dibuat dan didistribusikan sampai ke tanganmu, itu sih bukan urusanmu. Semisal perkakas yang menunjang kesinisanmu itu iPhone cap Apple, kamu tak perlu tahu soal tingginya angka bunuh diri buruh Foxconn—pabrik di Cina yang dikontrak Apple untuk merakit perkakas-perkakas yang katanya didisain di California itu. Apalagi bahwa tingginya angka bunuh diri itu merupakan akibat dari tekanan kerja di pabrik yang gila-gilaan.[1] Kamu mungkin lebih suka membayangkan iPhone itu dibuat oleh sekumpulan geek kawan-kawan Steve Jobs yang merakitnya khusus buat kamu. Bukan oleh buruh-buruh pabrik yang tertekan oleh target produksi hingga memutuskan bunuh diri.

Apa? Kamu nggak pakai perkakas cap Apple? Mekanisme produksinya tetap saja sama. Foxconn sendiri bukan hanya menerima kontrak produksi dari Apple, tapi juga dari Acer, Hewlett-Packard, Sony, Toshiba, dan perusahaan-perusahaan elektronik lainya. Perusahaan eletronik lain yang tak mengontrak Foxconn seperti Samsung juga bukan dikerjakan oleh robot-robot canggih Korea, tapi buruh yang dipaksa jadi robot agar perkakas-perkakas mutakhir itu bisa sampai ke tangan kita dengan harga murah.[2] Tapi tenang, itu bukan urusan kamu. Toh, kamu bisa menganggap perkakas itu hadiah Santa Klaus karena kamu sudah jadi kelas menengah yang baik tahun ini.

Kedua, dalam kesinisanmu harus ada standar nilai yang kamu yakini dan pegang teguh. Tanpa standar nilai itu, sinismu jadi kosong dan kurang gereget. Misal, kamu meyakini bahwa dalam masyarakat itu memang harus ada hirarki yang bertingkat-tingkat. Hirarki ini membuat suatu perilaku yang dipraktikkan oleh orang dari tingkat masyarakat tertentu dinilai dengan cara berbeda ketika dipraktikkan oleh orang dari tingkat masyarakat lain. Bermotor mentereng misalnya, keren ketika dipraktikkan mahasiswa dan tengil ketika dipraktikkan buruh. Tak ada soal dengan kenyataan bahwa secara de facto pendapatan seorang buruh lebih besar dari mahasiswa yang kebanyakan masih sepenuhnya disubsidi oleh orang tuanya. Penilaian bias ini didasarkan pada anggapan bahwa mahasiswa merupakan bagian dari tingkat masyarakat yang lebih tinggi dari buruh. Jadi ketika buruh lebih bergaya dari mahasiswa, maka oknum buruh itu pantas disebut tengil.

Ketiga, sinisme yang dilancarkan oleh kelas menengah—yang katanya lebih terdidik dari buruh—harus bersandar pada kesadaran sejarah. Salah satu anggapan historis yang paling sering diulang-ulang adalah tiada bergunanya aksi massa. “Buat apa sih panas-panasan demonstrasi begitu? Nggak bakal ngaruh juga kali.” Begitu biasanya keraguan terhadap aksi massa dinyatakan oleh berbagai kalangan yang tak berpartisipasi. Atau lebih sinis lagi, “Demonstrasi ini bikin macet aja..! Siapa sih yang bayar mereka untuk mau panas-panasan begitu!?” Betul sekali. Sejarah negeri ini mengajarkan aksi massa memang tak membentuk nasib kita. Kalau dulu di era revolusi fisik kemerdekaan harus ada aksi massa, itu lantaran Twitter dan Facebook belum ada. Kalau saja media sosial sudah jamak digunakan di era perjuangan kemerdekaan, Sukarno tak perlu menggelar rapat-rapat akbar, Tan Malaka tak perlu keliling untuk mengobarkan perlawanan melalui pendidikan kaum tertindas, dan Sudirman tak perlu gerilya. Mereka tinggal bikin tagar #Merdeka #UsirPenjajah atau #SaveIndonesia. Kemudian gara-gara baca kicauan mereka, kekuatan-kekuatan kolonial akan pergi dengan sendirinya dari bumi pertiwi. Begitulah.

Keempat, bekali sinisme dengan data yang memadai. Tanpa data, sinisme yang kita sampaikan jadi lemah secara argumentatif dan mudah dipatahkan. Jadi ketika ada wartawan insecure yang menulis tentang buruh mogok bermotor mentereng, langsung gunakan berita itu sebagai data bahwa buruh bukannya kurang upahnya melainkan kurang rasa terima kasih terhadap majikannya. Abaikan fakta bahwa di tengah masyarakat yang semakin konsumtif, kredit motor sekarang sangat mudah. Kesampingkan persoalan tak memadainya pendidikan bagi kaum buruh yang barangkali telah menyebabkan buruh bermotor mentereng itu gagal mengatur prioritas. Tutup matamu dari kenyataan bahwa buruh bermotor mentereng itu hanya sebagian kecil saja dari keseluruhan buruh yang masih hidup dengan penuh kecemasan. Langsung pukul rata semuanya dan hajar.

Kelima, kelas menengah harus menujukkan diri sebagai generasi solutif. Setiap sinis terhadap sesuatu, tawarkan solusinya. Misalnya dengan mengajurkan kaum buruh untuk bekerja lebih keras lagi agar sejahtera ketimbang demontrasi atau mogok. Artinya, etos kerja kaum buruh memang tak sepadan dengan optimisme majikannya—tanya saja para buruh kuali di Tangerang yang diperbudak majikannya. Atau bisa juga kita menawarkan solusi relijus yang menentramkan dengan meminta buruh bersyukur atas pendapatannya yang pas-pasan itu. Jadi ketimbang mogok dan demonstrasi, lebih baik perbanyak do’a. Kalau tak dikabulkan di dunia, insya Allah dikabulkan di surga.

Begitulah beberapa panduan yang mungkin bisa diterapkan jika sewaktu-waktu para buruh mogok dan berdemonstrasi lagi sehingga akses jalanmu ke mall jadi terhalang. Tapi ada baiknya juga sebelum melancarkan sinisme, kita mempertimbangkan anjuran Rasul Muhammad: Barang siapa percaya kepada Allah dan hari akhir, hendaklah ia berkata yang baik atau diam saja.

 

Words by: Azhar Irfansyah

 

——–

[1] Soal hubungan antara tingginya angka bunuh diri buruh Foxconn dan tuntutan kerja dapat dilihat di esai-monolog Mike Daisey, the Agony and the Ecstasy of Steve Jobs.

[2] Samsung merupakan perusahaan yang melarang pembentukan serikat buruh. Lee Byungchul, pendiri Samsung, pernah berujar: kalau mau membentuk serikat buruh, lankahi mayatku dulu!

Tags : kelas menengah
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response