close

Parade Record Store Day Nusantara

rsdjogja

Gelaran Record Store Day yang jatuh pada Sabtu minggu ketiga bulan April telah dilewati. Publik Indonesia tak luput juga turut partisipasi atas perayaan rilisan fisik ini. Di beberapa kota, beragam cara dilakukan untuk memeriahkannya. Berikut liputan di beberapa kota yang menyelenggarakan Record Store Day:

Jogja: Kembali Melepas Dahaga Penggemar Rilisan Fisik

Bertempat di halaman Bentara Budaya Kompas, tahun ini, Record Store Day Jogja kembali sukses diselenggarakan untuk kesekian kalinya. Di Jogja sendiri hanya digelar selama satu hari pada Sabtu (18/04), dari pukul 3 – 10 malam. Tujuan Records Store Day Jogja sendiri adalah untuk mempertemukan para penikmat musik, musisi, pemilik records store independen, dan tentunya penggemar rilisan fisik dari berbagai format musik dan lintas genre dalam satu wadah.

Record Store Day Jogja
Record Store Day Jogja

23 lapak dari beberapa records label dan toko musik yang menjual berbagai macam rilisan fisik (vinyl, kaset, CD) dan merchandise turut meramaikan perayaan tahunan ini. Selain itu, ada juga diskusi musisi dan sesi akustik bersama Summer In Vienna, Sulfur, dan Sabarbar. Pada acara ini beberapa records label juga menjadikan ajang ini sebagai waktu yang tepat untuk merilis beberapa album spesial. Diantaranya adalah: DoggyHouse Records merilis kaset Summer In Vienna “Shallow Lagoon Holidays”, Relamati Records merilis split To Die dengan Nguyen Hong Giang, dan Jesuicidal Records merilis kaset Realino Resort. Kendati acara sedikit terkendala hujan deras yang turun dari jam 6 hingga jam 9 malam, hal ini tak membuat antusias para penggemar rilisan fisik untuk tetap datang setelah hujan reda. [Dwiki Aprinaldi]

Malang: Kumpul Seru Para Pelaku dan Penikmat Musik

Pada tahun keenam gelaran Record Store Day di Malang ini, mereka mengusung tema ‘Label dan Manajemen Distribusi’. Bicara soal musisi yang memang seharusnya merilis hasil karya mereka dalam bentuk fisik, bagaimana sebuah label bisa mewujudkan karya tersebut dalam bentuk kaset pita, cakram CD, atau pun vinyl, serta ke mana mereka harus memasarkannya. Belakangan ini memang kesadaran para penikmat musik akan pentingnya mendukung para musisi dengan membeli rilisan fisik mereka, sudah semakin kuat. Namun hal itu tentu saja harus dibarengi dengan niat dari para pelaku musik untuk mengemas karya mereka dengan apik dan unik.

Tak lupa juga Record Store Day di Malang kali ini membagikan CD gratis pada pengunjung yang datang sepanjang dua hari itu. Album ‘Kecil Itu Indah’ karya Iksan Skuter memang layak untuk disimak. Mengingat bagaimana anak-anak kecil era sekarang yang hapal lirik lagu cinta dewasa di luar kepala, album lagu anak dalam Bahasa Jawa ini tentu bisa ‘mengembalikan’ mereka pada usinya. Gajah-Gajah, Ilir-Ilir, Jaranan, Kidang Talun, Lumbung Deso, Menthok-Menthok, Padhang Mbulan, dan Pitik Cilik pasti bakal seru dinyanyikan bareng teman-teman sebaya adik atau mungkin anak kalian. [Dewi Ratna]

Bandung: Semarak RSD Di Omuniuum Store

Record Store Day Bandung
Record Store Day Bandung

Omuniuum, sebuah store mungil yang menjadi satelit skena musik alternatif, disulap menjadi arenanya. Tentunya ada banyak konten spesial yang disajikan, diantaranya Live Performance sekaligus Recording dari berbagai unit folk lokal. Mereka adalah Teman Sebangku, Mr. Sonjaya, Nada Fiksi, dan Tetangga Pak Gesang. Ada pula DJ Set Performance dari Bottlesmoker dan Terbujurkaku.

Perayaan RSD 2015 di Omuniuum berhaill merangkul beberapa pihak untuk turut serta dalam ‘pasar kaget’, yakni Heiguys, Grimloc Records, Manstrale Press, Alter.Naive, Ototo Store, Pemandangan dan Amenkcoy. Di sini lapak tempat para penggila vinyl atau pemerhati musik dapat berburu. Anda dapat nemukan rilsan langka dari mulai Semak Belukar, Homicide, SSSLOTHHH, Candlegoat, Kompilasi Milsi Kecoa, hingga musisi internasional seperti Blur, Beastie Boys, Belle & Sebastian, Arctic Monkeys, Joy Division, dan masih banyak lagi.

Di sudut lain ada juga talk show bertajuk “Anda Bertanya, Omuniuum Menjawab”. Audiens dapat bertanya segala hal terkait tips & trik tentang Omuunium. Di lantai paling atas, terpampang Artwork Exhibition persembahan A Stone A.

Bukan Records Store Day namanya jka tidak ada rilisan spesial. Pada kesempatan ini, band kawakan asal Jogja, Melancholic Bitch, merilis bundling DVD “Konser Menuju Semesta” dan Kaset “Balada Joni dan Susi”. Lalu terdapat pula rlisan kaset B-Side dari A Stone A bertajuk “Memori Kumis Kucing”. Dua ini amat layak menjad collectible item bagi masyarkat musik.

Rangkaian acara RSD 2015 di Omuniuum selesai pada pukul 12 malam. Terlepeas dari kritikan tentang pihak industri besar yang turut mengaduk-aduk, hari itu dinding Omuiuum masih menjadi saksi perayaan hingar bingar Record Store Day. Pada akhirnya, pelaku musik dapat berharap atas pergerakan ini. Semoga event ini menjadi pelatuk bermunculannya kontribusi dalam bentuk apapun dalam skena musik. [Dwi Lukita]

Samarinda: RSD Merambah Tanah Borneo

Record Store Day East Borneo
Record Store Day East Borneo

Record Store Day East Borneo tahun ini diselenggarakan pada tanggal 18 & 19 April 2015 pukul 10.00 hingga 22.00 WITA bertempat di Double Dipps Coffee, Mall Samarinda Square. Acara digelar dengan penampilan dari para musisi yang sudah punya materi baik format digital maupun fisik. Beberapa rangkaian acara seperti; peresmian rilisan fisik, records bazar yang dimeriahkan oleh label rekaman independen dan kolektor musik se-Kalimantan Timur, talkshow soal perkembangan musik dan rilisan fisik lokal Kalimantan Timur.

Beberapa unit musik juga turut memeriahkan acara ini; Quasi, Cuaca Mendung, Buddy Zeus, Davy Jones, Malvomed, Derkaizer, Reunion, F.I.H, Blackdog, Budass, Biang Kerock, Danska, Renprats asal Jakarta yang sedang melakukan promo single dan mengisi slot hari pertama serta penampilan khusus oleh Rabu asal Jogja yang menutup perayaan ini di hari kedua dengan suasana mencekam dan semerbak dupa selama 45 menit. Peserta records bazar terdiri dari Sulung Extreme Musick (Samarinda), Distorsi Rockshop (Tenggarong), Bandit Rockshop (Balikpapan), Firsthand Company (Samarinda), Rescunesia (Sengatta), Loudness Records( Samarinda), danSkitfullyouth Records (Samarinda)

Rilisan fisik yang resmi diluncurkan pada hari pelaksanaan adalah Jeritan (proyek solo screamonoiseasal Samarinda) bertajuk “Dread Atmosphere EP” oleh Hirang Records. Astorojo (proyek solo chiptuneasal Samarinda)bertajuk“To the End of the Line EP” keduanyadalam format CD-R dengan kemasan D.I.Y dan penomoran manual, pembagian dalam jumlah terbatas demo pack CD-R oleh Canavee dan Quasi, serta kaset Summer In Vienna “Shallow Lagoon Holidays” oleh DoggyHouse Records,kaset Rabu “Renjana (repackaged)” oleh Sonic Funeral, CD split To Die dengan Nahash (China) oleh Relamati Records yang dibawa langsung dari Jogja dan sempat dirilis secara resmi di Record Store Day Jogja 2015 sehari sebelumnya. RSDEB2015 juga dimeriahkan dengan talkshow bersama pengelola RSDEB2015, pengelola Double Dipps, Rabu, dan Indra Menus sebagai perwakilan Doggy House Records yang kebetulan mendampingi Rabu berkunjung ke Samarinda. Perbincangan yang menarik menyoal latar belakang terselenggaranya perayaan internasional pertama di Kalimantan Timur ini, dinamika ruang publik untuk penyelenggaraan gigs, introduksi Rabu kepada pengunjung, jejaring perkawanan pengelola gigs lintas kotase-Indonesia, dan proses records label dalam merilis sebuah rilisan. [Alfian Meidianoor]

Solo: Hari Raya Musik Indie Solo!

“Dengan atau tidak dengan pemerintah, Lokananta harus mampu menjadi pusat industri musik kota Solo”

Seperti halnya di kota-kota lain, Solo juga menggelar RSD. Acara ini diselenggarakan oleh Alpha Omega Records. Bangunan bersejarah yaitu studio Lokananta menjadi tempat ibadah berjamaah. Tapi, pemeluk agama musik indie di kota ini seakan ingin berbeda. Mereka berkeyakinan untuk ber ‘hari raya’ tanggal 26 April.

Kota Solo yang perlahan merangkak dengan penggiat indienya, menghelat dengan konsep yang tak jauh beda. Segi konten acara yang berinti sama jadi rupa RSD tahun ini. Sesi dialog, penjualan atau ‘nglapak’, serta ajang pamer untuk band-band asal Solo sendiri sukses digelar.

Keikutsertaan banyak nama mejadi tiang penyangga RSD tahun ini. Booth diisi oleh Demajors Solo, Thief Shop, Unleash Records, Solonesia, Anthem , Warhead, Intestinal Vomit, Rambo Wadon Records, Meraung Merch, Sinkink Records, Alpha Omega Records, Tapestry.

Salah satu yang menarik adalah sesi dialog yang dilakukan di studio rekaman Lokananta. Ruangan ini sengaja dipilih untuk menyesuaikan dengan tema bahasan. Diskusi ringan siang itu menuhan pada pentingnya pendokumentasian karya. Studio yang menjadi saksi megahnya industri musik Indonesia itu pun terhening dingin, rindu akan karya anak negeri. Pembicara yang beragam, diseragamkan atas nama peduli skena indie Solo. Bincang-bincang tentang permasalahan kurang produktifnya pihak-pihak industry musik lokal menjadi fokus. Solusi demi solusi pun mulai memberi terang. Pertanyaan klise yang belum ada ujungnya pun terselip. Penasaran soal tingkah pemerintah yang seakan tak acuh menjadi beban. Satu kalimat tersemat tegas disampaikan oleh pihak Lokananta. Dengan atau tidak dengan pemerintah, Lokananta harus mampu menjadi pusat industri musik kota Solo. Sekaligus mengajak para pelaku music untuk bahu-membahu menyuarakan Solo ke seluruh Indonesia.

Selain itu, pemandangan mengharukan terlihat di event ini. Meski hujan deras dari sore hingga malam, pengunjung tetap ramai mengapresiasi. Mampu menepis putus asa, pengunjung terus bertambah dan tiap booth sesak kerumunan manusia haus rilisan. [Sandy Nugraha]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response