close

Pasar Santa: The Spirit of Santa (Without Claus)

pasar santa 1
Pasar Santa
Pasar Santa

Sebuah perubahan tak akan mampu berjalan jika tidak ada penggerak yang terus bertahan membawa semangat idealisme di belakangnya. Karena hal tersebutlah yang menjadi obor pemercik nyala api pergerakan. Maka melihat apa yang sudah dilakukan Samson Pho, enterprenuer, pegiat piringan hitam sekaligus pemilik Laidback Blues, terhadap Pasar Santa dapat membenarkan introduksi kalimat pembuka di atas. Bersama rekan-rekannya ia mampu mengubah perlahan suatu hal yang biasa saja menjadi ruang penyalur hasrat kreatifitas. Dan WARN!NG melalui sesi interview kali ini menggali apa saja yang terdapat dalam dimensi pikirannya. Sarkasme untuk pemerintah sampai rilisan vinil favoritnya dijawab dengan lugas tanpa tendensi berlebih. Simak!

Mengawali pembicaraan, bisa sedikit digambarkan dong keriaan apa yang ada di Pasar Santa? Karena sepertinya ramai sekali diperbincangkan publik.

Keriaan yang terjadi di Pasar Santa, adalah tumbuh pesatnya unit dagang kreatif yang dibuka oleh rekan rekan, menyajikan dagangan yang berbagai macam rupa dan bentuk, dan menjadi alternatif baru di kota untuk mereka yang sudah bosan ke mal. Mungkin itu sih unsur yg paling menarik.

Lalu, dari awal kondisi Pasar Santa identik dengan lingkungan kumuh dan sepi pengunjung. Sebuah pasar konvensional yang tidak ada keunikannya. Lantas apa yang jadi latar belakang Mas Samson untuk terjun mengembangkan Pasar Santa; baik secara langsung ataupun tidak langsung?

Hahaha, enggak ada. Saya hanya ingin berdagang piringan hitam. Terus ngajakin temen-temen biar gak sendirian. Kalo rame-rame seru sih nih dagangnya. Dan banyak yang tertarik juga akhirnya, karena memang masing-masing tenant di Santa ini punya passion dan keahlian masing-masing, maka terbentuklah jadi seperti sekarang. Ini semuanya spontan terjadinya. Itu yang bikin menjadi unik.

Tidak takut untuk gulung tikar, mengingat dari awal Pasar Santa sudah sepi pengunjung?

Tidak sama sekali. Soalnya memang konten yang saya jual sendiri adalah spesifik hobi tertentu, jadi memang orang akan datang menghampiri tempat saya jualan, yang sudah spesifiknya piringan hitam tertentu. Awalnya ya dari situ, kemudian customer saya tau tentang Santa, dan akhirnya membantu menyebarkan juga. Pelanggan saya, Substore, dan ABCD Coffee adalah pengunjung-pengunjung peramai Pasar Santa generasi awal.

Dalam mengembangkan Pasar Santa sebagai “creativism project” apa yang ada di pemikiran Anda?

Simpel aja mas. Karena tempatnya sudah mati total sebelumnya, ayo kita bikin dekorasi, kurasi, promosi, sesuka kita. Ruang kreativitasnya jadi luas banget, soalnya belum ada peraturan-peraturan atau otorisasi yang bikin kita susah gerak. Yah namanya juga tempat mati, pasrah.

Apakah pemerintah sudah mendukung kawasan Pasar Santa?

Katanya sih mendukung, kalau di media-media. Tapi pelaksanaan nyatanya belum ada yang kelihatan. Yang ada malah dimanfaatkan, seperti tiba-tiba kita para tenant di tahun 2015 ini dipaksa untuk buka rekening di bank milik pemerintah untuk penyelesaian administrasi. Kemudian yaaah di-blow up di mana-mana oleh media, nah para pejabat pemerintah ini ikutan nampang aja, tapi ya gapapa, mereka kan tetap customer kita

Menurut Anda, bagaimana sih menyelaraskan program kreatif anak muda dengan paradigma berpikir masyarakat? Karena banyak kasus ditemui, daya kreatifitas anak muda masih sulit terurai karena terhalang banyak faktor. Salah satu yang berbahaya adalah sudut pandang masyarakat yang sebagian besar “terlalu nyaman” berada di zona nyaman mereka.

Menurut saya, tidak usah dipikirin. Ajak beberapa teman yang punya pemikiran dan visi yang sama, lakukan sesuatu, dan ketika sudah jadi, biar masyarakat sendiri yang menilai, apakah positif atau tidak. Dulu Santa juga seperti itu, banyak sekali teman saya agak bingung kenapa saya mau buka di pasar. Panas, kotor, gelap, bau. Sekarang mereka semua nelfon saya untuk menanyakan masih ada space kosong atau tidak. Masyarakat itu tidak akan pernah bisa mengerti atau paham soal kreativitas generasi muda, ketika belum ada realisasi nyata. Lakukan saja dulu. Gak ada wadahnya? Masa? Kreatif dong, ciptakan wadahnya.

Pasar Santa
Pasar Santa

Keberadaan Pasar Santa tak luput dari gencaran aktivitas media sosial. Bahkan bisa dibilang lewat cuitan di Twitter, Path, sampai Instagram, Pasar Santa terpublikasikan secara maksimal. Secara tujuan, ingin meramaikan Pasar Santa bersama teman-teman circle-link Mas Samson atau sekaligus juga ingin mengenalkan ke khalayak ramai?

Sebetulnya sih ini berkat media-media sendiri yang berinisiatif ingin memperkenalkan Pasar Santa ke khalayak ramai. Tapi Pasar Santa tetap pada esensinya sebagai pasar, tempat orang banyak berkumpul melakukan transaksi, tetapi mungkin sekarang ditambah dengan elemen jadi tempat orang berkumpul ketemuan ngobrol, nongkrong, dan menghabiskan waktu. Ini menyenangkan, karena tidak terlalu boros, gak harus ke mal yang hanya untuk parkir aja udah mahal sekali.

Apakah dengan gerakan lewat Pasar Santa ini sudah menghasilkan ‘keramaian’ baik secara ekonomi atau pun sosial-budaya?

Oh ya, saya berani bilang bahwa Pasar Santa turut memberikan andil dalam perekonomian dan sosial budaya, khususnya di Jakarta Selatan. Secara ekonomi, ratusan kios laku disewa, omzet parkiran sekitar Santa naik berkali-kali lipat, tarif retribusi listrik di gedung Pasar Santa sendiri yang tadinya kosong jadi penuh, belum lagi yang lain-lainnya. Cukup menghidupi satu kawasan tersebut. Secara sosial budaya? Anak-anak muda gaul Jakarta Selatan yang selalu dimanja oleh fasilitas mal, AC, dan lain-lain mulai betah nongkrong di Pasar Santa. Budaya nongkrong di pasar jadi tren tersendiri. Di Pasar Santa, semua kelas sosial masuk berkunjung tanpa harus merasa segan.

Berbicara soal vinyl, Mas Samson dikenal sebagai salah satu pegiat vinyl yang fanatik. Hal ini ditunjang juga dengan perkembangan vinyl yang semakin marak di lingkungan penikmat musik. Bagaimana pandangan Mas Samson tentang gejolak ini?

Menurut saya ini sudah seharusnya, mengingat vinyl adalah rilisan fisik musik yang kualitasnya paling terbaik. Mungkin ini menurut saya adalah sebagai sebuah turning point, ketika dulu dari tahun 80-an era kaset, kemudian 90-an era CD, membutuhkan waktu sekitar 20 tahun untuk membuktikan bahwa memang kualitas vinyl yang paling baik. Mengalahkan kaset dan CD.

Rilisan vinyl favorit?

Terlalu banyak sebetulnya untuk disebutkan. Tapi koleksi utama saya adalah piringan hitam lokal. Mungkin label rekaman Indonesia favorit saya adalah Irama Records, Lokananta, dan BALI Records.

Interviu oleh Muhammad Faisal

Tags : pasar santa
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response