close

Pathetic Experience: Menerawang Resonansi Dua Peluru

pathetic experience
pathetic experience
pathetic experience

Mengulik perkembangan khazanah permusikan Surabaya memang memicu atensi yang menggairahkan. Ia tak henti-hentinya melahirkan bakat, pesona dan talenta yang berpotensi di masa mendatang. Singkirkan sejenak romantisme lama tentang kenyataan serta pernyataan bahwa Surabaya pernah menghasilkan band-band besar seperti Boomerang, Dewa19, Jamrud sampai Padi. Yang lampau biarkan menjadi debu pengingat. Karena sekarang sudah hadir, tumbuh subur, mutiara yang menjanjikan untuk disimak.

Pada suatu percakapan yang hangat, kawan saya—kebetulan sedang menempuh pendidikan di salah satu institut negeri Kota Pahlawan—memberikan rekomendasi grup musik untuk diperdengarkan lebih lanjut. Adalah Pathetic Experience; duo folk-instrumentalist yang mengandalkan dawai gitar sebagai motor utama pergerakan. Dibentuk sekitar tahun 2011 oleh dua orang mahasiswa yang sedang menjalani fase perkuliahan di sebuah universitas negeri Surabaya yakni Bagus Satya dan Dhimas Zoso, perjalanan Pathetic Experience bermula dari ketidaksengajaan. Kala itu dalam perhelatan internal kampus terjadi kekosongan penampil acara. Alhasil, Bagus dan Dimas pun ditunjuk bermain secara mendadak. Namun hal tersebut justru berdampak positif bagi kedua karib ini, yang kemudian memutuskan lebih serius menapaki jejak bermusiknya. Pengambilan nama Pathetic Experience diakui tidak memiliki makna filosofis tertentu. Berasal dari pameran tugas Desain Komunikasi Visual (DKV) Institut Teknologi Sepuluh Nopember yang berjudul Aesthetic Experience; kemudian oleh mereka digubah menjadi Pathetic Experience.

Mulanya Pathetic Experience memfokuskan diri pada ranah cover-song; menempatkan Depapepe dan soundtrack game RPG sebagai role model utama. Meski sebenarnya dari tiap personil menggeluti genre yang berbeda—cenderung kontras—dengan gaya akustik etnik yang dimainkan. Tahun 2014 merupakan momentum besar bagi mereka; EP bertajuk Krungu resmi rilis ke khalayak ramai. Secara keseluruhan, EP ini berisi empat buah balada yang sebagian besar mengambil pemahaman cerita dari kehidupan sehari-hari; aroma tanah sehabis hujan, vakansi menjelajah pantai, mengenang masa lalu sampai bercengkrama bersama kawan dengan kopi hitam dan sebatang kretek di tangan. Bebunyian dari dawai menguasai seluruh komposisi. Membawa rona kesedihan yang terkadang dibalut metafor kegembiraan; melaju laiknya anomali kehidupan. “The Bakpao” sarat akan ujian penghidupan; “Segara” diselipi melodi berantah dari Dhimas; “Rikala Semana” yang penuh diksi mengenai folk akar rumpun, sampai “Kaca Enggal” yang diramaikan melodi saling menyaut di antara keduanya. Dari keempat balada tersebut kita dapat mengetahui bahwa Pathetic Experience mengisahkan narasi tentang harmoni kesederhanaan baik secara harfiah ataupun pembawaan. Menonjolkan kisah kehidupan sehari-hari yang lekat dalam pikiran, melayang dibalik angan, dan terpampang jelas di depan realita bahkan mungkin luput dari pandangan orang. Sehingga dengan adanya lagu yang mereka buat mengingatkan kembali pada pendengar: momen di kehidupan sebenarnya sayang untuk dilewatkan.

Harapan ke depan jelas membuat karya dalam format penuh. Tak bisa dipungkiri setelah kemunculan EP di dua tahun lalu, memacu mereka untuk melanjutkan ke pencapaian yang lebih tinggi. “Bagi kami terpenting adalah bisa melanjutkan proses kreatif untuk terciptanya album penuh. Karena tidak dapat ditepikan bahwa kesibukan salah satu dari kami di ranah pekerjaan cukup menyita waktu dan akhirnya urusan pembuatan album pun harus vakum untuk sementara”, pungkas mereka dalam surel yang diterima WARN!NG beberapa waktu lalu.

Seiring bergulirnya waktu, mereka mulai menemukan fondasi bermusik yang sesuai nurani. Bermodalkan petikan gitar menyayat yang sesekali dijejali melodi penuh penghayatan serta menjadikan preferensi bermusik nirvokal sebagai junjungan. Karena bagi duo ini kehadiran lirik atau vokal bakal mempersempit persepsi lagu yang ditulis. Pada dasarnya baik Bagus maupun Dhimas berusaha menciptakan warna yang mampu menghadirkan suasana sendu sekaligus membawa pendengar menikmati momen tiap momen sesuai apa yang dirasa. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response