close

Payung Teduh Bercengkerama Dalam Rindu

a_MG_2481

Selain kolaborasi yang ‘gagal’, sekiranya konser ini terbilang sukses. Lihat saja antusiasme dari gerbang masuk hingga depan panggung. Padat! Belum lagi antusiasme yang menguar kental saat Payung Teduh mengokupasi panggung. Dekorasi yang terlampau murah pun seolah hanya mendapat persetan. Sebab tujuan semua khalayak malam itu adalah meneduhkan kerinduan mereka akan band yang bermukim Depok ini.

Payung Teduh  © Warningmagz
Payung Teduh © Warningmagz

Summer In Vienna, Plenthong Konslet, dan FSTVLST jadi pengantar malam itu. Sembari panggung berdecak bersama kerumunan audiens, mereka yang kehabisan tiket pun masih berusaha untuk masuk. Fakta ini sudah lebih dari cukup untuk menjelaskan kerinduan Jogjakarta pada Payung Teduh, Jumat (18/10), di Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri (PKKH) UGM.

Kejadian unik terjadi di tengah-tengah penampilan FSTVLST. Farid sang vokalis turun ke kerumunan seiring FSTVLST membawakan  “Mati Muda”. Jogja yang panas pun semakin panas, kaki-kaki menghentak dan semua bernyanyi bersama FSTVLST. “Mati Muda” pun jadi penutup aksi FSTVLST, sekaligus pembuka penampilan Payung Teduh.

Menyapa rindu

Setelah FSTVLST memanaskan PKKH UGM, kehadiran Payung Teduh menawarkan suasana lain. Seisi venue diminta untuk duduk oleh Is (vokal). Sang Vokalis pun memberi waktu pada audiens untuk membenarkan posisi duduk hingga merasa nyaman. Dengan sabar, Is pun akhirnya menyapa Jogjakarta malam itu.

“Terima kasih Jogjakarta. Akhirnya rindu kami sama Jogja terobati. Terakhir ke Jogja kami main di Legend dan acara yang kami gelar dibubarkan polisi karena menutupi jalan,” ujar pria gondrong berkumis tipis ini.

Setelah dirasa nyaman, Is langsung memainkan intro “Kucari  Kamu”. Tanpa aba-aba, para audiens langsung menyuarakan sorakan antusias. Segenap personil Payung Teduh yang berdiri di panggung pun tampak sumringah melihat antusias itu. Senyum pun mengembang di atas dan bawah panggung sembari “Kucari Kamu” terus berkumandang. Rindu mereka saling bertemu dan berinteraksi.

“Biarkan”, “Berdua Saja”, dan “Angin Pujaan Hujan” jadi nomor yang mereka sajikan selanjutnya. Is pun terus berinteraksi dengan audiens, bercerita soal panasnya Jogja sekaligus mengajak para audiens untuk berdansa. Memang, musik Payung Teduh sebenarnya memaksa tubuh untuk bergerak berdansa, namun apa daya antusiasme yang berlebihan membuat ruang terlalu sempit. Ruang untuk slonjor pun sampai-sampai tidak ada.

Para audiens ikut ambil bagian pada nomor selanjutnya. Bait pertama “Tidurlah” pun sepenuhnya menjadi milik audiens. Suasana makin adem kala itu dan nomor demi nomor seperti “Cerita Tentang Gunung Dan Laut” dan “Resah” ikut serta menyambangi telinga-telinga di PKKH malam itu. Bahkan, ketika gitar Is tak berbunyi karena kesalahan teknis, sing along audiens tak ikut berhenti dan Comi (kontra bass), Cito (drum), plus Ivan (guitalele/terompet) tetap mengiringi nyanyian sendu itu.

Nomor selanjutnya ialah “Rahasia”. Menurut Is, lantunan ini seharusnya tidak ada dalam setlist mereka, namun karena pada ‘peneduh’ terus meminta, Is dkk pun tak ragu untuk membawakannya. “Untuk Perempuan Yang Ada Dalam Pelukan” dan “Menuju Senja” jadi nomor lanjutan yang mereka bawakan. Komunikasi kocak antara Payung Teduh dan audiens pun kembali dijalin oleh Is dkk. Payung Teduh pun membawakan lagu yang akan mereka cantumkan dalam album ketiga mereka: “Kerinduan”. Nomor ini pun menjadi pamungkas keteduhan malam itu.

Sebenarnya, di penghujung acara seusai penutupan MC ada kolaborasi kejutan yang disajikan. Plenthong Konslet, FSTVLST, dan Payung Teduh membawakan lagu Jogjakarta (KLA) bersama-sama. Sayangnya, kolaborasi ini kurang mengena di telinga dan hati. Belum lagi minimnya buzzing dari MC soal kolaborasi kejutan ini membuat sebagian penonton yang tak paham telanjur pulang. Kejutan pun terbilang gagal karena persiapan yang terlalu lama berujung pada pulangnya penonton yang tak tahu.

ECOMUSICA, sebuah event musik garapan Program Diploma Ekonomi Dan Bisnis Sekolah Vokasi (D3) Universitas Gadjah Mada, bertajuk “Diversity In One Night” memang pantas mendapat applause meriah. Selain pengadaan yang rapih –kecuali kolaborasi penutup dan dekorasi yang terlampau murah- , inisiatif mendatangkan Payung Teduh adalah langkah berani yang patut diapresiasi. Nyanyian sendu Is dkk malam itu pun kiranya lebih dari cukup untuk melegakan kerinduan Jogjakarta pada Payung Teduh. Tak heran jika para audiens pulang dengan hati teduh di tengah panasnya Jogja malam itu. Salut! [Warn!ng/Yudha Danujatmika]

FSTVLST  © Warningmagz
FSTVLST © Warningmagz

Gigs Documentation Here -> Ecomusica : Diversity in One Night

Event By : Program Diploma Ekonomi Dan Bisnis Sekolah Vokasi UGM

Date : 18 Oktober 2013

Venue : Pusat Kebudayaan Koesnadi Hardjasoemantri, UGM

Man of The Match : Rindu yang saling bersambut antara Payung Teduh dengan Jogjakarta

Warn!ng Level : •••1/2

Tags : payung teduh
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.