close

[Album Review] Pearl Jam – Lightning Bolt

Lightning Bolt


Lightning Bolt

Pearl Jam – Lightning Bolt

 Monkeywrench Records/ Republic Records

Watchful Shot : “Sirens”  

[yasr_overall_rating size=”small”]


Jeda transisi Backspacer ke Lightning Bolt  melewati 2 momentum monumental dari Nirvana, yakni 20 tahun peringatan rilisnya Nevermind, dan In Utero. Entah dengan penjualannya, namun reissued kedua masterpiece Nirvana tersebut sukses memanggil antusiasme memori Nirvana. Bahkan sebagian bersorak bahwa grunge mendapat anginnya kembali. Di sudut lain, usai album Vitalogy, sukar untuk meraba elemen grunge pada senyawa classic-hard rock Pearl Jam, namun lebih sukar lagi menyingkirkan mereka dari teritori grunge itu sendiri. Merilis Lightning Bolt, di suatu benak mungkin ialah wujud kejujuran mereka menolak memasrahkan wilayah suci flannel-jins sobek pada sebuah nama yang tuan (atau Tuhan?)-nya saja telah tiada. Namun seharusnya mereka tahu bahwa jujur saja tak cukup.

Setelah membuai renung dengan ukulele, Vedder (vokal) menjadi lebih kaya untuk kembali pada album ke sepuluh dari duta grunge paling kaya, dan tetap kaya di album ini. Tentu tidak bicara harta bagi band yang gemar tarik ulur zona komersialisasi ini, melainkan perbendaharaan elemen musik, dari classic rock, folk, eksperimental, hingga punk rock. Lalu bayangkan saja semua terangkum di Lightning Bolt, termasuk Brendan O’Brien, musikalitas mewah, lirik cerdas tanpa dramatisasi konyol. Semua ada, kecuali lagu beracun.

Pearl Jam memang dikenal hookless, tapi mereka paling tahu bahwa hook bukan segalanya. Sayangnya jeda produksi terlama dan kesibukan masing-masing personil mungkin membuat mereka melupakannya. Vedder seolah telah siap menyantap kritik sejak lagu pertama, “Getaway”, lewat “We all be thinking with our different brain get this off my plate”. Single “Mind Your Manners” awalnya menjanjikan sebelum kalian menyadari ini adalah “Spin The Black Circle” yang kehilangan emosi. Hingga bass line Jeff (bass) menjadi heavy di “My Father Son”, belum ada lagu dengan notasi, atau melodi yang enteng dicintai.

Mike Cready (gitar) hampir menciptakan satu lagi lagu dahsyat, “Sirens”.  Terinspirasi dari The Wall milik Pink Floyd, “Sirens” ialah ballad yang bekerja dengan baik dalam mengusik mood. “The sound echoing closer, will they come for me next time”, melayangkan kegentaran akan maut, kemudian echo itu datang dengan wujud solo Mc Cready yang berdengung seolah siap menjemput hidup dalam kejapnya. Sayang, nikmat ini hanya momental. Bak bunyi sirine yang sayup-sayup terdengar semakin menjauh meninggalkan kehampaan, maka ketika lagu ini selesai, batt! Jangan berharap lebih.

Pearl Jam padahal telah banyak menggunakan kekayaannya, namun tak kunjung mencapai sensasi yang setidaknya serupa dengan Backspacer. Misalnya ketika Vedder menjadi Bruce Springsteen di  “Lightning  Bolt” sembari keempat personil lainnya membangun layering ala REM di “Swallowed Whole”. Country-blues tak lupa dijajal pada “Let The Record Play”, hingga merekam kembali “Sleeping By Myself”, salah satu lagu dari project ukulele Eddie Vedder. “Future Days” sebagai lagu penutup pun sempat menyayat di verse sebelum akhirnya juga terjerembab pada notasi nanggung. Semoga yang terakhir ini tak menggambarkan judulnya. [WARN!NG/Soni Triantoro]

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response