close

Pelan Tapi Parti : Suka Cita Pesta di Rumah Teman

Seahoarse-2
Littlelute
Littlelute

Bermain ke rumah teman bisa jadi adalah hiburan yang terlihat biasa saja, kecuali ada panggung musik dan keriaan yang mengubah malam jadi arena sukaria bersama kawan.

Rumah Ayara sore itu (19/5) keliatan meriah, sebuah tulisan berwarna merah mencolok di terasnya, ‘Pelan Tapi Parti’. Saya datang Pukul 15.00 WIB, sesuai jadwal yang tertera dalam poster. Ternyata yang saya temui hanyalah para pelapak yang mempersiapkan lapaknya, ada kerajinan dan usaha anak muda di Yogyakarta. Semakin sore, suasanapun semakin ramai, ada fooodtruck, foodbike, dan angkringan #JogjaOjoSpaneng digelar untuk memenuhi kebutuhan pangan demi kenyamanan pengunjung.

“Nama Pelan Tapi Parti ini tercipta karena sebenarnya acara ini idenya sejak awal tahun, sekitar Januari tapi berhubung kita mager dan selalu menunda penggarapan acara sampai kita ketemu sama manajer Littlelute. Dia bilang mau cari acara di Jogja, kebetulan kita juga mau bikin juga acara tapi belum tahu kapan. Akhirnya ya, kita bikin acara ini menyesuaikan jadwal Littlelute,” ujar Ones, salah satu panitia, sesaat sebelum acara dimulai.

Ketika matahari benar-benar tenggelam, barulah lampu-lampu yang menghiasi taman rumah Ayara dinyalakan. Teras rumah yang awalnya remang diubah menjadi panggung kecil. Segala keriangan tersaji sempurna saat AKILA naik panggung. Tanpa adanya pembawa acara dan penjelasan apapun soal bagaimana susunan acara, maka penampilan AKILA ibarat seperti alarm penanda dimulainya acara tersebut. AKILA sejatinya adalah nama seorang solois perempuan Luisa Akila bersama gitar kesayangannya yang kala itu tampil dengan dibantu dua orang rekannya. Tampil dengan membawakan tiga lagunya sendiri, yaitu “Let Me Go”,  “He’s Bad”, dan “Hurt”, AKILA cukup sukses menghangatkan suasana dengan lantunan pop dengan lirik menyayat hati.

Setelah AKILA turun panggung, gantian Niskala yang mencoba menghipnotis para pengunjung dengan alunan musik eksperimental. Terlihat biasa saja dalam memainkan dua lagu pertama tapi Niskala mampu memuaskan pengunjung dengan dua lagu berikutnya. Salah satu lagu yang dibawakan adalah single terbaru mereka yakni “Legacy Of The  Moon”. Permainan gitar listrik yang digesek bak biola, jelas disambut dengan decak riuh para penonton.

Seahoarse (1)
Niskala
Niskala

Sesaat sebelum Seahoarse naik panggung, lampu panggung dimatikan lantas diganti dengan lampu sorot khas disko. Suasana berikut seakan melengkapi nikmatnya mendengarkan lantunan nada – nada shoegaze dibalut nuansa dreampop serta efek vokal yang mengawang menjadi ciri khas dari Seahoarse. Ada lima lagu yang dibawakan Seahoarse, diantaranya adalah “Dawn” dan “Cricket Choir”. Mengakhiri nuansa alam mimpi,saat Seahoarse tandas dengan lagu terakhirnya lampu pun kembali dinyalakan.

Kemudian, Littlelute hadir membawa suasana riang ke atas panggung. Band asal Kota Kembang ini sedang dalam rangkaian tur “A Trace of Littlelute” dalam rangka promosi album Traces of Dollface and Plots yang diadakan di enam kota di Jawa, termasuk di Jogjakarta. Penampilan mereka diawali dengan intro “Zzz..” yang membuat pengunjung merapat mendekati panggung. Lagu “Senandung Semesta”  yang bertempo lambat seperti ayat-ayat suci yang seketika memberikan kedamaian pada setiap gendang telinga pengunjung.  Selanjutnya “Berlibur ke Poznan” didendangkan, meski dengan tempo medium namun sanggup membuat pengunjung bergoyang. Littlelute mencapai titik klimaksnya ketika membawakan “Charlie” dan “Hello Daddy”, irama bergerak cepat dan pengunjung pun tidak mampu menahan diri untuk tidak menyanyi. Beberapa diantara bahkan ikut menari mengikuti irama musik. Septet pop folk ini, sepertinya tahu benar bahwa sesuatu yang berlebihan tidaklah baik, mereka pun menutup penampilan mereka dengan “Taman Musim Semi”. Lagu tersebut sukses meninggalkan hawa musim semi ke benak setiap pengunjung Pelan Tapi Parti malam itu.

Sejenak sebelum  Senja Dalam Prosa naik panggung, seseorang panitia naik panggung, begitu saja tanpa menyebutkan namanya. Dia mempromosikan #JogjaOjoSepaneng yakni sebuah gerakan yang lahir akibat banyaknya isu-isu negatif. Bertujuan untuk memahami apa itu sepaneng, untung dan ruginya serta bagaimana mengendalikannya. #JogjaOjoSepaneng juga membagikan resep anti-sepanengdan seperangkat alatnya yang bisa didapatkan di lapak angkringan #JogjaOjoSepaneng.

Lampu panggung kembali dimatikan, pertanda Senja Dalam Prosa, band dari Solo mulai naik panggung. Dengan bermodal cahaya dari lilin yang dinyalakan di sekitar panggung, Senja Dalam Prosa  tampil memukau.  Walaupun pengunjung mulai bergerak meninggalkan venue, tapi Senja Dalam Prosa membuktikan diri bahwa mereka bukan penampil yang mudah gentar. Vokalisnya Ajik, menyanyikan empat lagu sambil membelakangi penonton. Hal tersebut rupanya tidak mengurangi nikmatnya permainan musik postrock yang bermain dengan reverb untuk menghasilkan delay dan ambience.

Penampilan band diakhiri dengan Dinosaur Youth yang membawakan lima lagu indie-rock yaitu : “Life”, “Take Me Home”, “Sunday”, “Rose of Sharon”, dan “Sleep”. Walaupun jumlah pengunjung venue sudah jauh berkurang tapi tidak menghalangi keceriaan panggung. Sejak lagu pertama hingga lagu terakhir yang dibawakan Dinosaur Youth para pengunjung ber-mosphit-ria tanpa batas antara laki-laki dan perempuan.

Pukul 23.15, DJ Sanjonas mengokupasi panggung sebagai penutup. Walaupun penonton tidak sebanyak kala penampil sebelumnya tampil tapi Sanjonas tetap santai. Ia melakoni spinning on deck sambil merokok dengan santai, seperti ia ingin mengingatkan para pengunjung yang tersisa supaya tidak perlu terlalu serius menjalani hidup yang terpenting tetaplah kebahagiaan masing-masing. Sayangnya Sanjonas tidak bermain terlalu lama, munculnya complain dari warga setempat karena acara belum juga selesai padahal sudah terlampau malam. Resiko mengadakan gighouse seharusnya dipersiapkan secara matang supaya tetap ramah terhadap warga setempat.

Ide konsep gighouse sebenarnya berasal dari Ayara, si pemilik rumah,  awalnya sekedar dari obrolan dan keluh-kesah teman-teman soalnya budaya main ke rumah teman yang mulai jarang. Kebanyakan anak muda sekarang, kalau main pasti ke kafe, ke bioskop atau menonton konser. “Kami ingin mengembalikan asiknya main ke rumah teman, soalnya dulu main ke rumah temen itu asik banget. Itu juga alasannya mengapa lokasi venuenya ditulis Rumah Ayara, supaya kesannya main ke rumah teman,” terang Ayara ketika disapa oleh WARN!NG.

Secara keseluruhan kosep gighouse cukup unik dan suasananya juga kondusifuntuk sebuah acara musik. Sayangnya ada tanaman bonsai yang mungkin sudah puluhan tahun tidak dipangkas tepat di depan teras yang dijadikan panggung, tanaman tersebut cukup mengganggu para pengunjung untuk menikmati hingar bingar panggung. Selain itu, masalah molornya waktu dan tidak adanya pembawa acara menambah alasan para pengunjung untuk pulang lebih cepat. [Contributor/Sekar Banjaran Aji]

 

Date: Kamis 19 Mei 2016

Venue: Rumah Ayara, JL Candrakirana No.4 Sagan Yogyakarta

Man of the match : Littlelute saat membawakan “Charlie” dan “Hello Daddy”, Dinosaur Youth “Take Me Home”, serta Seahoarse kala para pengunjung ikut menyanyikan “Cricket Choir”

Event by : Sekutu Imajiner

[yasr_overall_rating size=”small”]

Gallery: Pelan Tapi Parti

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response