close

[Album Review] My Bloody Valentine – M B V

130203-my-bloody-valentine-m-b-v-album-art
130203-my-bloody-valentine-m-b-v-album-art

What : m b v

Label: Pickpocket

Genre: Shoegaze

Rilis : 2013

[yasr_overall_rating size=”small”]


Kevin Shield and Bilinda Bucther is back guys, it’s maybe another Loveless. Mendapat kabar tentang akan rilisnya album ini membuat saya seakan tak percaya. Bagaimana tidak, sudah 22 tahun My Bloody Valentine tidak melahirkan album. Album sebelumnya, Loveless, yang rilis tahun 1991 telah menjadi salah satu album terbaik dan kitab utama para punggawa shoegaze. Walaupun album tersebut dianggap gagal karena tidak meraih posisi yang baik di chart ranking secara Internasional dan dianggap salah satu album yang merugikan pihak label secara finansial, namun hal tersebut tidak terbukti selama 22 tahun. Masterpiece itu tidak pernah mati dan hilang untuk didengarkan selama 22 tahun kekosongan album dari My Bloody Valentine. Album baru ini mungkin salah satu bumerang bagi My Bloody Valentine karena tekanan dari kesuksesan album sebelumnya, juga penantian para penggemar selama 22 tahun. Sehingga paling tidak album m b v ini harus menyetarai atau menandingi Loveless, dengan nuansa 20 tahun lebih baru.

Album berisikan 9 lagu ini diawali dengan “She Found Now. Lagu ini memiliki nuansa yang sedih. Tempo yang rendah dengan buaian gitar yang mengiringi secara menetap dengan lengkingan-lengkingan yang halus ditambah vokal yang mendesah membuat tubuh menjadi terasa sangat lemas. Walaupun monoton, lagu ini sangat indah sebagai pembuka album. Lagu selanjutnya, “Only Tomorrow”, merupakan lagu terbaik dalam lagu ini. Dengan suara vokal yang cukup jelas dan tempo yang lebih cepat namun tetap pada nuansa yang lebih sedih. Beberapa jeda dan klimaks juga menambah kesempurnaan lagu ini. Enam menit ini secara sederhana membuat saya menangis, jenius. Kemudian album ini menambah nuansa kehampaan dengan “Who Sees You”. Gitar yang mengawang-awang, vocal yang lirih, lengkingan gitar yang menusuk saat klimaks ditambah penekanan pada tempo yang cukup membuat pusing. Seakan rehat sejenak, “Is This and Yes” membuat kita tenang dengan irama keyboard yang tetap dan mengalun dengan vokal yang juga lirih. Usai rehat, “If I Am” mengajak pikiran untuk kembali untuk menikmat musik dengan nada dan pola yang cukup easy listening. Tembang ini juga mengingatkan kembali bahwa My Bloody Valentine masih memiliki unsur indie yang pas dipadukan dengan nuansa shoegazing. Nuansa indie dan ceria masih terasa pada lagu “New You”. Nuansa kembali mengingatkan saya dengan nuansa dari album Loveless yang beragam yang menandakan bahwa My Bloody Valentine tetap mempertahankan ciri khasnya, tidak termakan jaman dan tidak membosankan. Epic!

Tiga lagu terakhir didominasi oleh permainan skill yang sangat memanjakan otak bagi para pecinta musik noise. Lagu “In Another Way” berisi lengkingan , feedback gitar, electronic drum dan berbagai efek. Walaupun begitu, lagu ini tetap memiliki irama yang jelas dan tetap menjajah otak. Di lagu selanjutnya, “Nothing Is”, tetap dengan nada yang sama dan diulang-ulang, namun lagu tetap sampai ke otak dengan jenius. Saya tidak mengira lagu yang isinya hanya diulang-ulang bisa sangat nikmat untuk didengarkan. Lagu terakhir merupakan puncak dari kenikmatan album ini. Lagu yang berjudul “Wonder 2” ini diawali dengan efek gitar yang diringi vokal yang jelas dan berlanjut efek-efek yang rumit yang tak bisa saya uraikan. Satu kata yang keluar setelah selesai mendengarkan satu album adalah “Eargasm!”.

Album ini saya pikir merupakan album wajib bagi yang pernah mendengarkan My Bloody Valentine, pecinta shoegaze dan dream pop. Saya salut dengan My Bloody Valentine, di usianya yang mencapai 22 tahun mereka masih dapat menciptakan masterpiece seperti ini. Terlebih, album ini tidak melunturkan kesan yang ada pada My Bloody Valentine di album-album mereka sebelumnya. Efek modernisasi musik noise dengan bermunculannya band-band dream pop dan post-rock akhir-akhir ini tetap tidak mengubah musik dari My Bloody Valentine di album ini. Mereka tetap pada musiknya yang dulu dan mengemasnya secara jenius sehingga musiknya masih sangat enak didengarkan di era ini. Album ini sukses memposisikan kembali eksistensi dari My Bloody Valentine yang bergantung pada Loveless sampai saat ini. Tinggal menunggu waktu saja, apakah album ini akan fenomenal atau tidak. Namun rasanya sulit untuk menyaingi Loveless walaupun bukan tidak mungkin. Kita lihat saja beberapa tahun lagi.

Review dikirim oleh Revta Farisy (@farizy)

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response