close

Peonies: Bersenandung Lepas dalam Dawai Potensi

foto-peonies
Peonies
Peonies

 

Hubungan pertemanan nyatanya tak berkutat pada kegiatan yang itu-itu saja. Jika dipoles lebih lanjut, ada sentuhan kreatifitas yang dibawa agar tak terjebak dalam spektrum kebosanan. Membentuk band adalah contoh yang dapat dilihat sebagai preferensi nyata. Dari kegiatan nongkrong bersama, memiliki ketertarikan sama lantas berakhir di kamar kedap suara; dengan tujuan bersenang-senang belaka. Tak pelak, konstruksi semacam ini lantas mendasari korelasi kuat antara titik hubung yang menegaskan kesinambungan.

Perkenalan Jodi Setiawan dan Citta Prabaswara dimulai sejak tahun 2006 tatkala mereka berdua masih mengenyam bangku akademis di Fakultas Seni Rupa Institut Teknologi Bandung (ITB). Untuk mengisi kekosongan waktu, mereka mendirikan band bernama Jodi in the Morning Glory Parade; membawakan gelembung tweepop yang penuh gelora keceriaan. Namun bulan madu JIMGP tak berlangsung lama. Di 2010, karena kesibukan masing-masing personil, JIMGP mengambil keputusan untuk vakum dalam durasi yang tidak ditentukan. Tapi itu bukan akhir segalanya. Adalah konser Ora Iso di Rossi Musik Fatmawati yang mengubah perspektif sekaligus membangkitkan keinginan mereka dalam meneruskan kiprah berkarya. Alhasil, tahun 2015, ditandai masuknya Cinta Marezi menjadi saksi lahirnya identitas baru berwujud Peonies; trio jangle yang berpotensi panas di masa depan.

Pemilihan konsep trio dirasa tidak mengurangi antusiasme dalam menyalurkan hasrat menggebu. Bahkan diakui, keberadaan format tersebut memberikan kemudahan saat mengejawantahkan karya. “Sebaliknya, mudah sekali. Tiga kepala sangat mudah untuk dipersatukan dalam menghasilkan karya, apalagi selera kita sama. Lancar kayak jalan tol. Bukan jalan tol Jakarta ya, macet itu mah”, pungkas mereka dalam interviunya bersama WARN!NG.

Bagi Peonies, proses kreatif yang dijalankan bertumpu pada unsur spontanitas. Bisa terjadi kapan saja dan dimana saja tanpa memberi pertanda untuk tiba. Bahkan saat sesi studio pun ketika muncul bebunyian yang terdengar aneh, mereka langsung memberi aba-aba untuk mengadakan jamming sebelum nantinya masuk ke tahap rekam agar meminimalkan resiko lupa. Selain itu tidak adanya pembagian porsi kerja di antara Jodi, Cnita maupun Citta membuat proses berjalan lebih menarik karena tiap personil memiliki trigger tersendiri yang nantinya dituangkan secara bersamaan lewat keliaran ide di pikiran. Sedangkan inspirasi mereka dalam menciptakan lagu didapati dari dinamika kehidupan sehari-hari. Apa yang terjadi di depan mata merupakan pandangan utama yang kelak mampu digubah ke komposisi nada juga irama. “Contohnya “Runaway”, sebenernya lirik aslinya ga begitu. Aslinya, bercerita tentang kucing cowok, tapi perutnya hamil pas kita lagi liburan ke pantai di Kepulauan Seribu. Dimainin pake ukulele awalnya, liriknya konyol, tapi nadanya cukup catchy. Akhirnya masuk ke studio, ganti lirik dan dibikin aransemennya”, tutur Jodi.

Sejauh ini sudah satu buah album penuh mereka hasilkan, bertajuk Landscape. Irama jangle ataupun surf-rock yang minimalis disertai ketukan rapat dan kocokan gitar repetitif menjadi pemandangan jamak di keseluruhan lagu. Pengaruh kuat dari The Drums, DIVV, ALVVAYS sampai Shopping nampak dominan pada beberapa repertoar. Di dalamnya terdapat tujuh buah track yang kental akan nuansa liburan musim panas yang menggembirakan. Dibuka melalui “Intro”, kemudian berselancar dengan “Summer” serta “Whispering” hingga ditutup aksi “Marmalade”; memastikan bahwa perjalanan vakansi Anda tak terlihat sia-sia.

Tahap rekaman album Landscape dikerjakan di ALS Studio dengan bantuan Wendi Arintyo selaku sound engineer, yang juga menggarap Sinestesia milik Efek Rumah Kaca. Tak hanya dia, rekan-rekan sejawat Peonies juga turut serta membantu. Ada Imam dan Yopi dari Lightcraft yang mengisi slot drum serta gitar di nomor “Wednesday” sampai Ciwi dari L’Alphalpha yang meramaikan “Summer” dan “Runaway” dengan harmoni ritmisnya.

Petualangan mereka tak berhenti sampai di sini. Selepas merilis album perdana, mereka bertiga mendapati kesempatan untuk tampil pada salah satu festival musik di Korea Selatan, Zandari Festa 2016. “Jadi awalnya Imam (Lightcraft) kasih info kalo Zandari open app buat band mancanegara karena Lightcraft tahun kemarin yang main di Zandari. Iseng-iseng kita apply aja lewat website malem-malem. Paginya udah dapet e-mail invitation kalo kita diterima. Bingung campur senang, yaudah kita ambil walau dana masih di tangan Tuhan”, papar mereka.

Seperti halnya dengan band lain, Peonies berkeinginan untuk menghelat konser sendiri. Dimana mereka bisa menyalurkan energi bermusiknya tanpa intervensi pihak mana pun. Meski demikian, melakukan ekspansi melalui tur Indonesia ke kota-kota lain dan menyambangi Negeri Sakura juga menjadi dua mimpi yang mereka harap bisa diraih, entah dalam waktu dekat atau di waktu mendatang. [WARN!NG/Muhammad Faisal]

Who also liked: DIIV, ALVVAYS, Shopping

Listen on Soundcloud!

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response