close

Perayaan Folk Segala Rupa

10954548_10203657312303134_4629324776325210998_n
Sisir Tanah, Irfan Jalan Pulang
Sisir Tanah, Irfan Jalan Pulang

Puluhan motor dan mobil terparkir berdempetan di depan ROOTS café, Sagan pada Jumat malam (30/01). Tak butuh waktu lama hingga si juru parkir terpaksa menggunakan rumah sebelah dan pinggir jalan untuk menampung kendaraan yang terus berdatangan. Beberapa menit kemudian, hujan yang tak hentinya mengguyur kota Yogyakarta membasahi setiap kendaraan yang terparkir disana. Derasnya hujan dan petir yang sesekali menggelegar ini tak menyurutkan antusiasme penonton untuk mendatangi acara release party WARN!NG Magz #5.

tik! tok!
tik! tok!

Interior ROOTS Café yang tidak terlalu megah dan luas justru membuat suasana lebih hangat. Tak banyak penonton yang berkarib dalam suasana tersebut menyadari atau bahkan peduli dengan hujan yang semakin deras. Pemilihan venue acara ini cukup sejalan dengan tema yang diangkat pada malam itu, Folk: They Are A-Changin’. Untuk mendukung tema yang diangkat pada majalah edisi kelima ini, WARN!NG mengundang barisan musisi yang merepresentasikan kondisi musik folk yang saat ini terus mengalami perubahan dalam perjalanan sejarahnya.

Jalan pulang
Jalan pulang

Tik! Tok! Mengawali perayaan malam itu dengan membawakan beberapa lagu dari album perdananya, Page 160. Lirik-lirik manis dari “Screen” atau “Contemplation” yang melantun merdu dari Dita Permata dengan segera mencuri perhatian penonton. Keputusan tepat untuk memilih Trio asal Yogyakarta ini sebagai pembuka. Pasalnya, meski baru seumur jagung, Tik! Tok! Dapat memberikan gambaran musik folk masa kini, mudah dinikmati untuk menyampaikan substansti yang tidak muluk-muluk. Begitu pula dengan penampil selanjutnya, Jalan Pulang. Meski memiliki pendekatan yang berbeda, kedua penampil pertama dalam acara ini merupakan bukti kalau musik folk tidak melulu berkutat dalam permasalahan sosial. Terkadang, musik folk juga bisa menyampaikan perasaan-perasaan personal.

Iksan Skuter
Iksan Skuter

Sepanjang keberadaannya, pencitraan sebagai musik perlawanan memang sudah melekat pada musik folk. Beberapa musisi yang naik panggung malam itu juga dengan lantang menyuarakan kegelisahannya terhadap kondisi sosial dewasa ini. Fajar Merah contohnya, dalam “Negeriku Semakin Horor” ia bercerita tentang organisasi masyarakat yang berlindung di bawah nama agama untuk membenarkan segala kegiatannya. Fajar Merah juga tak bosannya menyuarakan agitasi terhadap kaum penguasa di tengah musikalisasi puisi-puisi Wiji Thukul yang lenyap di tengah rezim orde baru. Kritik dan agitasi seperti ini pula yang disampaikan oleh Sisir Tanah dan Iksan Skuter yang turut meramaikan release party WARN!NGMagz #5. Sisir Tanah dengan khusyuk menyanyikan nomor-nomor andalannya seperti “Bebal” dan“Lagu Wajib” yang menghanyutkan. Sementara Iksan Skuter lebih semangat dan interaktif dalam menampilkan “Kuliah”, “Kukira Jakarta”, dan tentunya satir “Partai Anjing” yang merangkul penonton dalam gelak tawa dan pisuhan.

Fajar Merah
Fajar Merah

Hampir tiga jam para penonton disuguhi musik folk dengan wajahnya yang beragam namun tetap mengakar. Hingga akhirnya lampu meredup dan Rabu tanpa basa-basi memenuhi ruangan dengan kekelaman. Sebagai musisi terakhir yang tampil, Rabu memberikan nuansa yang unik dan berbeda dalam acara malam itu. Siapa sangka musik folk bisa begitu mempesona ketika terjerumus dalam gelapnya duet Wednes Mandra dan Judha Herdanta? Berbekal dua gitar elektrik dan vokal bariton Wednes yang menghantui telinga para pendengarnya, lagu-lagu dari album Renjana dibawakan dengan apik. Penampilan Rabu dalam acara ini memberikan pandangan lain terhadap musik folk. Dengan perpaduan musik yang membuai dan lirik yang berpetualang jauh dalam pikiran, Rabu seakan telah melampaui pakem tradisional musik folk, tanpa sedikitpun mengurangi esensinya.

Sisir Tanah
Sisir Tanah

 

Sebagai penutup, setelah saling mendefiniskan folk dalam caranya masing-masing, Iksan Skuter, Fajar Merah, Sisir Tanah dan Irfan R. Darajat (vokalis Jalan Pulang) berkolaborasi membawakan dua tembang ikonik milik dedengkot folk di negeri ini, “Bongkar” dan “Bento”. Genjrengan gitar, seruan vokal, dan tiupan harmonika dari Irfan ditimpali oleh sing along dari barisan penonton di beberapa bagian. Inilah saat keragaman makna dari folk melebur jadi satu, membawa kesederhanaannya menjadi momen yang seru.

Rabu
Rabu

Kolaborasi ini sekaligus mengakhiri kerumunan malam itu. Mendekati tengah malam, penonton bubar meninggalkan ROOTS Café seraya redanya hujan. Malam itu, musik folk dirayakan bersama keragaman musik yang bernaung di bawahnya, sekaligus terus memberikan pembaruan makna akan musik yang akan selalu merakyat. Tentang mana yang lebih disuka, seperti sebebas apa kita memaknainya, sebebas itu pula kita punya selera.

 

Teks dikirim oleh: Muhammad Kevin
Event by : WARN!NG MAGZ
Venue : ROOTS Cafe, Sagan
Date : 30 Januari 2015
Man Of The Match : Penampilan interaktif Iksan Skuter dan kolaborasi penutup yang ‘nendang!’
Photos Check -> Launching Warning #5

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response