close

Perayaan OBR Jogja Diciderai Aksi Intimidatif

IMG_4722 – Jimmy
obr
obr

One Billion Rising, gerakan kampanye anti kekerasan terhadap perempuan yang dilaksanakan Minggu, 14 Februari 2016 kemarin mendapat gangguan dari pihak luar. Aksi berbentuk Rally V-Dance di kawasan Malioboro tersebut diikuti oleh kurang lebih 200 peserta. Selain menari, peserta juga membagikan selebaran rujukan penanganan kekerasan dan menyerukan seruan OBR tahun ini, yakni “Dengar, Beraksi, Bangkit untuk Revolusi!”. Selain mendengungkan suara para korban kekerasan seksual yang selama ini terbungkam, OBR juga menyuarakan pihak-pihak minoritas untuk bangkit dan bersuara. Acara yang sejak siang berlangsung tertib dalam pengawasan kepolisian ini kemudian mendapat gangguan dari sekelompok orang yang mengaku sebagai panitia kegiatan GEMAR 2016 (Gerakan Menutup Aurat).

obr
obr

WARN!NG menerima rilis resmi dari pihak OBR Jogja yang berisi kronologi kejadian, berikut selengkapnya:

Acara berlangsung aman dan tertib hingga selesai pada pukul 16:44 WIB. Polisi turut mengawal acara berdasarkan pemberitahuan yang telah dilayangkan dua hari sebelumnya. Usai acara, peserta masih bertahan untuk membersihkan lokasi. Setelah pihak kepolisian sudah menarik diri, pukul 16.50, sekitar delapan orang yang memperkenalkan diri sebagai panitia GEMAR (Gerakan Menutup Aurat), #IndonesiaTanpaJIL, dan MIUMI mendatangi dan mengintimidasi beberapa peserta OBR Jogja.

Bentuk intimidasi yang diterima peserta One Billion Rising Revolution Jogja 2016, di antaranya:

  1. Perampasan barang peserta.
    Barang yang diambil berupa pin bertulis “Say No to Bullying”. Salah seorang pelaku mengatakan bahwa pin tersebut mengandung simbol LGBT.
  2. Pelanggaran hak atas privasi.
    Tiga orang pelaku memaksa dan menarik tangan seorang peserta OBR untuk difoto wajahnya, padahal yang bersangkutan telah menolak dengan tegas.
  3. Pernyataan yang mengandung SARA dan seksisme.
    Peserta dicecar pertanyaan tentang identitas agama dengan sikap intimidatif, dan pertanyaan lebih banyak ditujukan pada peserta perempuan. Pelaku juga mencecar beberapa peserta berjilbab, mempertanyakan mengapa perempuan tersebut bergabung dengan kampanye OBR Jogja 2016.
  4. Kekerasan verbal berbasis ekspresi gender dan penampilan.
    Peserta disoraki dengan nada melecehkan dan merendahkan saat berjalan meninggalkan lokasi. Peserta diteriaki dengan sebutan lesbian, tobat, dan kiamat. Banyak peserta perempuan juga dicecar dengan menyebutkan agama dan dituduh lesbian. Tudingan gerakan liberal juga disasarkan kepada acara OBR Jogja 2016.
GEMAR
GEMAR

Tim OBR Jogja meninggalkan lokasi yang sudah bersih pada pukul 17.03. Setelah itu, lokasi yang sama digunakan oleh acara Gerakan Menutup Aurat dan kampanye #IndonesiaTanpaJIL.

One Billion Rising Jogja menyayangkan sikap intoleran dan intimidatif yang mencederai demokrasi sore hari itu di Malioboro. Sikap tersebut jelas melukai nilai inklusivitas dan anti kekerasan yang diusung oleh OBR Jogja. Kejadian ini juga menambah daftar tindak intoleransi di DI Yogyakarta.

Oleh karena itu, OBR Jogja:

  1. Mendesak Negara sebagai pemangku kewajiban atas penghormatan, perlindungan, dan pemenuhan HAM dalam hal ini Pemda DIY dan Pemkot Yogyakarta harus memastikan tegaknya hak sipil politik utamanya hak atas rasa aman dan memastikan “Jogja City of Tolerance” tidak berhenti di slogan semata;
  2. Berharap agar setiap warga DI Yogyakarta menjaga dan menjunjung tinggi sikap toleransi antar warga negara.

[WARN!NG/Titah Asmaning]

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response