close

“Perempuan Menggugat” Ramaikan Hari Perempuan Internasional di Titik Nol

Hari Perempuan Jogja

 

Foto: Hendra Nurdiyansyah

 

Hari Perempuan Internasional 2017 dirayakan dengan cara yang beragam di berbagai kota. Rabu (8/3), Titik Nol Yogyakarta tampak cukup padat dengan kerumunan orang, spanduk, dan orasi di atas mobil. Serangkaian acara, mulai dari longmarch hingga tari-tarian digelar untuk menyuarakan hak-hak perempuan.

“Perempuan Menggugat”, demikian tema yang diusung Jaringan Perempuan Yogyakarta (JPY) untuk aksi yang mereka lakukan tahun ini. Menghimpun beberapa organisasi perempuan, seperti Jaringan Lintas Agama, Mahasiswa Baru, hingga para buruh gendong dan buruh rumahan, berbagai kegiatan kreatif dilakukan dengan satu tujuan: untuk perubahan.

Diawali dengan orasi singkat pada pukul 15.00, beberapa seniman kemudian turut andil dalam aksi ini. Tarian Adaptasi “Jampi Gugat” Kinanti Sekar berlangsung semarak; masyarakat sekitar terlibat dan ikut menari mengikuti gerakan peserta aksi. Kemudian ada nyanyian-nyanyian dari Nada Bicara. Sosok perempuan eksentrik bergitar di tengah-tengah kerumunan itu berhasil memancing perhatian sekitar dengan lagu-lagunya yang bertema wanita.

Aksi dilanjutkan dengan perwakilan komunitas membacakan pengalamannya sebagai perempuan, tentang ketidakadilan yang terjadi, tentang hak-haknya yang tak terpenuhi.“Semua berhak menyuarakan apa yang terjadi di komunitasnya,” papar Anastasia Kiky selaku koordinator “Perempuan Menggugat”. Diharapkan, aksi ini dapat memberi ruang publik kepada perempuan untuk saling mengenal melalui komunitas-komunitas yang dipayungi JPY. “Kita (JPY) akan sangat senang membantu teman-teman komunitas,” tambahnya.

Selain JPY dengan kegiatan kreatifnya, ada pula Komite Perjuangan Perempuan (KPP) yang memperingati Hari Perempuan Internasional dengan longmarch dari Taman Parkir Abu Bakar Ali menuju Titik Nol. Isu yang diusung beragam, mulai dari persoalan tanah, perlindungan buruh, hingga penolakan terhadap seksisme dan kekerasan. Menariknya, tampak pula spanduk “Free West Papua” serta “Lawan Rasisme” saat aksi berlangsung.

Aksi menggugat perubahan tidak berhenti di hari itu saja. JPY bersama komunitas lainnya akan mengadakan workshop tentang hak anak, kesehatan reproduksi, serta perlindungan terhadap perempuan dari komunitas ke komunitas. “Selama ini kami sudah menyuarakan tapi tidak kunjung ada hasilnya. Butuh sesuatu yang lebih kuat lagi untuk menghasilkan perubahan,” kata Anastasia Kiky, menjelaskan kata “menggugat” yang dipilih untuk aksi tahun ini. [WARN!NG/Christina Tjandrawira]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response