close

Perempuan penyair Menolak korupsi

Handry TM, pemantik diskusi Perempuan Penyair Menolak Korupsi

Handry TM, pemantik diskusi Perempuan Penyair Menolak Korupsi

Tepat untuk kedua kalinya kota Solo, Jumat 18 Oktober 2013 diguyur hujan deras. Tepat pada hari itu juga Taman Budaya Jawa Tengah (TBJT) mengadakan perhelatan acara bertajuk Perempuan Penyair Menolak Korupsi. Acara yang dibuka oleh Wijang Wharek pada pukul 20.00 WIB tersebut diwarnai dengan deklamasi para penyair wanita yang mengisi buku antologi Puisi Menolak Korupsi kemudian dilanjutkan diskusi bersama.

            Para penyair perempuan berasal dari berbagai daerah seperti Tangerang, Subang, Bali, Gresik, Cilacap, dan Solo. Eis Herni Ismail, penyair asal Subang menjadi deklamator pertama, mengawali runtutan deklamasi sebanyak 14 penyair perempuan malam itu. Di tengah-tengan acara yang dipandu oleh Arieyoko (Semarang).

            Titik Kartitiani seorang penyair yang juga wartawan Kompas asal Tangerang juga turut membacakan puisinya . “Ini pertama kalinya saya membacakan puisi, biasanya saya ada di balik layar”, ujar Titik membuka penampilannya malam itu. Dengan rok panjang motif batik dan kaos berwarna hijau lumut, ia berhasil membuat penonton hening menyimak deklamasi pertamanya. Gadis dari Tangerang itu mengaku minder, dengan puisinya bertajuk menolak korupsi yang dibawakannya.

             Di sisi lain, beberapa penyair perempuan membawakan puisinya dengan beragam cara yang menarik, Tri Wahyuni asal Gresik misalnya. Perempuan asal Gresik ini membawakan puisinya dengan musikalisasi puisi yang sangat memukau.  Ada juga penyair yang mengawali puisinya dengan tetembangan jawa, lagu dolanan “Motor cilik, sing numpak mblenek  atau penyair perempuan yang sempat terpeleset saat membacakan puisinya.

            Suasana malam semakin hangat dengan dihadirkannya pembicara Handry TM (Semarang) yang dimoderatori oleh Indah Darmastuti (Solo). “Penolakkan para penyair perempuan terhadap korupsi terlihat sangat gamblang, mungkin ini juga karena korupsi di negara kita semankin gamblang terlihat”, kata penulis Novel Cundamanik tersebut membuka sesi diskusi.

            Handry TM memantik diskusi dengan mengatakan bahwa penyair perempuan biasanya akan lebih baik penampilan deklamasinya, ketimbang kualitas menulis teks puisinya dan ini berbanding terbalik dengan penyair laki-laki. Statement tersebut akhirnya membuat diskusi benar-benar hidup dan menarik untuk disimak. Acara yang terselenggara dengan apik tersebut ditutup pukul 23.40 WIB oleh Arieyoko yang bertempat di Teater Arena Taman Budaya Jawa Tengah yang didominasi oleh warna hitam.

Review dikirim oleh Kinanthi Anggraini

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response