close

Pergulatan Sunyi Gilang Nuari

Gilang Nuari Artwork 2

Serpihan garis merah dan biru menjadi monumen pergulatan bagi Gilang Nuari sepanjang 2015. Karya berupa drawing di berbagai medium merupakan bagian dari studi arsir, dimana menghadirkan figur-figur muram beserta material yang terasa filosofis. Gambar tak kenal latar, berikut arsir yang nampak teratur namun sesungguhnya liar. Karyanya enggan bercerita banyak, gambar justru mengajak kita untuk diam dan terdiam.

Artwork Gilang Nuari
Artwork Gilang Nuari
Gilang Nuari
GIlang Nuari

Mulanya Gilang (26) menyajikan karya drawing untuk turut dalam pameran yang diadakan Survive Garage pada tahun 2014 bertajuk “Sengketa”. Ia menemui keasyikan tersendiri ketika menghadirkan karya drawing yang disertai dengan upaya pengrusakan atas mindset diri sendiri, yaitu soal komposisi warna merah dan biru. Merah dan biru bagi Gilang, mungkin juga orang lain adalah dua warna yang berseberangan. Namun dari persoalan inilah ia tertantang untuk melahirkan karya dari dua warna yang tak serasi. Hingga kini ia masih bergulat dengan warna tersebut. Meski ia menyadari bahwa belum sepenuhnya merasa nyaman atas gaya yang mulai dikenal orang. “Aku menyadari masih belum konsisten, misal soal prosentase kedua warna, merah berapa persen dan biru berapa persen.” Ia juga sadar sejauh ini teryata lebih banyak menggunakan merah. “Kecenderunganku bikin ke kertas, terus coba kanvas, namun masih menggunakan pena. Ini menjadi tantangan tersendiri, untuk mengolah pena di atas kanvas.”

Menjadi barang lumrah bagi seorang perupa untuk terus menggali karya melalui referensi. Tak lain bagi Gilang, perupa yang turut membidani lahirnya ruang eksperiman musik dan sastra “Layar Maya”, memposisikan nama Anton Subiyanto sebagai pacuan, “Memang dia menggunakan material pensil, sementara aku khusus di pen.” Anton terutama banyak mempengaruhi dalam hal corak, sementara dalam hal figure ia lebih memilih Jesse James sebagai bahan galian.

Perupa lulusan Pendidikan Seni Rupa, Universitas Negeri Yogyakarta 2012 ini menghabiskan banyak waktu di warung kopi daerah Jogja utara. Banyak karya-karyanya lahir di warung kopi. Ketika mengambar di warung terdapat nuansa distorsi tersendiri, dari suara obrolan pengunjung, teriakan pesanan, suara dapur hingga musik bercampur menjadi satu. Menggambar dalam situasi ini baginya adalah “menghadirkan kesepian di tempat ramai”. Ia sendiri bergulat menjadi sosok sepi di tempat ramai lewat menggambar. Hal ini terbukti dari karya yang dihasilkan bukanlah gambaran tentang keramaian ala nuansa warung kopi, gambarnya justru sepi. Tak berlebihan jika kesepian yang berhasil dibangun adalah kesepian yang sifatnya transenden. Kita bisa membayangkan bagaimana mengolah rasa di tempat gaduh. Dia tak lagi terbawa suasana, namun suasana menjadi medium dalam membawa diri sendiri ke tempat yang lebih jauh, yaitu alam gambarnya.

Artwork Gilang Nuari
Artwork Gilang Nuari

Demikian tak lantas menjadi ketergantungannya berada di ruang noise, perupa merah-biru ini memang mencari gara-gara sendiri. Maksudnya, jika ia menggambar di tempat yang tenang, yang notabene ideal sebenarnya terwadai. Lantas di sini bukan soal keadaan yang memaksakannya, bukan pula karya yang dipaksakan. Ia juga seringkali merasa kalah di suatu momen, terkadang terganggu sehingga berhenti menggambar, seringkali juga kalah dengan suasana yang mengakibatkan konsentrasi pecah. Alhasil, ia sebenarnya ingin menggambar dimana saja, namun dengan satu nuansa. Maka berbagai pencapaian, seperti momen, artistik, dan persepsi berbuah hasil.

Artwork Gilang Nuari
Artwork Gilang Nuari

Mengenal figur dalam karyanya kita akan mendapati sebuah keunikan yang tidak begitu menonjol namun berkesan, yaitu adanya konstruksi prisma yang menggantikan visual anatomi hidung. Ia menyampaikan interpretasi dari seorang teman, Rabu Pagisyahbana, penyair yang juga karibnya. “Hidung menjadi simbol dalam bentuk material terutama dalam proses pernafasan, jika bernafas maka ia hidup, dan dari hidup segala kisah berlangsung.” Gilang sendiri sengaja menghadirkan hidung dalam bentuk pyramid yang ia amini sebagai sebuah konstruksi. Ia mengusulkan lewat kultur Jawa. Bentuk atau konstruksi hidung seperti halnya sebuah limasan dalam rumah tradisional jawa. Dalam proses pembangunan rumah, masyarakat Jawa merasa lega hati ketika sebuah limasan telah berdiri (dipasang), meski disadari itu belum selesai, dan mungkin masih kurang dari 50 persen dari total proses. Ia menganalogikan karya itu sebagai proses diri sendiri “Apa yang aku sudah bangun dan pencapaianku belum sampai, tapi aku lega dengan prosesku sendiri, aku lega dengan menggambar, aku lega dengan membuat figure-figurku sendiri.”

Menapak ke petak pribadi Gilang, barangkali ia Jawa tulen. Namun juga tak demikian, karena kini asal muasal kultur tak menjamin atas perilaku. Pendidikan dan modernisme menjadi faktor yang justru terasa ambivalen dalam karirnya. Ia mengaku telah tinggal di Jogja selama 26 tahun. Tak pernah merantau baik karena keadaan apalagi keinginan. Justru semakin bertambah usia, ada rasa takut untuk pergi ke tempat yang lebih jauh. “Entahlah, aku tidak merindukan rumah namun tak bosan dengan rumah.” Segala tentang piknik, pengelana, dan pengembaraan tak pernah ia tertarik. “Aku selalu berada di tempat-tempat yang mudah ditebak, ya itu-itu saja.”

Sub Siklus
Sub Siklus

Pada 26 September hingaa 10 Oktober 2015, sebuah pameran berjudul (Sub) Siklus terselenggara di Lir Space, Jl Anggrek 33, Baciro, Yogyakarta, yang tak lain adalah sajian perupa Gilang Nuari. (Sub) Siklus menjadi tawaran kecil atas karyanya yang bersifat personal. Perupa menaruh perhatian pada hal-hal kecil (sub) yang seolah terlepas dari dimensi siklus (besar). Hal yang lebih luas ia contohkan seperti kelahiran, kehidupan, dan kematian. Siklus dalam wilayah luas semacam ihwal yang tak sempat dijangkau disaat personal dihadapkan dengan hal-hal kecil, ia menyebutnya konflik. Beragam konfik yang dialami tak urung sebuah (Sub) Siklus. “Dalam diriku sendiri yaitu konflik personal, romantisme manusia mengadapi masalah kecil yang terus saja berulang.“ Misal, seperti lapar juga patah hati. Kita tak dapat memungkiri berbagai permasalahan tetap terulang. Yang terpokok yaitu soal percintaan. Seseorang setiba bisa berubah total hanya sebab asmara, menjadi lucu, konyol dan tak masuk akal. Inilah kajian sub-siklus dalam karya Gilang.

Artwork Gilang Nuari
Artwork Gilang Nuari

Pameran menghadirkan 5 karya drawing, 1 video, dan satu lagi gambar terdapat pada dinding di ruang pamer. Sebagai pengantar pameran, terdapat karya tulis dalam bentuk sonata oleh Irfan R. Drajat yang berlatar musisi dan peneliti musik. Pameran ini sesungguhnya menjadi kolaborsi antar penulis dan perupa, di mana karya sastra berasal dari gejala sub-siklus berupa berbagai konflik yang Gilang luapkan kepada penulis. Tulisan sebagai pengantar pameran lebih kental akan pemaknaan. Gelar karya ini bagi Gilang menghadirkan kesan tersendiri, dalam kesempatan ini ia membeberkan konflik pribadi, “aku lebih merasakan ini pameran tunggalku, yang sangat subyektif”. Karena memang sejauh ini Gilang lebih sering hadir dalam kelompok juga proyek bersama. Seperti ketika ia tampil bersama Layar Maya, Koloni Cetak, Kampung Halaman, Ngopinyastro dan lain-lain. Hadir berbagai peran dari konseptor, organisator, ilustrator, pemateri visual, juga seniman itu sendiri. Boleh dicatat mengenai proyek musik bertema tentang “kampung” bersama grup “Kami Bertetangga” yang melibatkan pemuda kampung Patangpuluhan. Gilang turut menyumbang lirik dan tema musik. “Salah satu program yang dirancang yaitu bikin musikalisasi tentang kampung, ini berangkat dari fenomena kampung yang semakin hari menjadi masalah hingga terdapat perlawanan.” ugkapnya.

Menjangkau beragam karya Gilang tak bisa dipungkiri bahwa berbagai model konflik menjadi nilai tawar. Ia telah mengemas karya dalam berbagai medium baik secara personal maupun kelompok. Sebagaimana yang telah dilakukan banyak seniman terdahulu yang melintasi beragam kesenian dalam upaya tanggung jawab kebudayaan. Karya Gilang seperti halnya sebuah situs yang siapa saja dapat berziarah. Buah tanda kenang perjuangan perupa itu sendiri. Di saat inilah menikmati dengan berdiam menjadi hal yang disarankan. [WARN!NG/Huhum Hambilly]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response