close

Peringati Hari Kebebasan Pers Sedunia, Acara Pemutaran Film di AJI Dibubarkan Aparat

AJI
dok. AJI
dok. AJI

Pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta oleh AJI (Aliansi Jurnalis Independen) Yogyakarta yang bertepatan dengan Hari Kebebasan Pers Sedunia pada Selasa (3/4) lalu dibubarkan oleh pihak kepolisian sektor Umbulharjo. Panitia penyelenggara mengaku sangat kecewa atas insiden ini, mengingat dua pucuk undangan resmi untuk Kapolda DIY, Brigjen Polisi Prasta Wahyu Hidayat dan Kapolresta Yogyakarta, Prihartono Eling Lelakon telah dilayangkan. Itikad baik AJI Yogyakarta justru dibalas dengan kedatangan tujuh polisi berpakaian preman dibawah komando Kasatintelkam Polresta Yogyakarta, Kompol Wahyu Dwi Nugroho yang didampingi oleh Anggota Koramil Umbulharjo untuk menanyakan izin acara. Berbekal alasan bahwa ada sejumlah kelompok masyarakat yang tidak setuju dengan pemutaran film dokumenter karya Rahung Nasution itu, polisi bersikeras agar acara dihentikan.

Setelah lewat pembukaan acara, intimidasi dari aparat kembali berlangsung, kini giliran Kompol Sigit Haryadi angkat bicara. Bukan kali pertama Kepala Bagian Operasional Polresta Yogyakarta ini menjatuhkan larangan. Pada Oktober 2014, gelaran diskusi terkait konten media daring yang memuat gagasan Islam fundamental oleh LKiS dalam serangkaian perhelatan Jagongan Media Rakyat batal akibat surat penolakan dari kepolisian yang ditandatangani langsung oleh Sigit Haryadi. Dua bulan setelahnya, acara nonton bareng film Senyap bubar di tangan yang sama. Pelarangan ini memiliki pola serupa, polisi membatalkan acara pakai alasan keamanan seolah sikap yang diambil bertujuan untuk menghindari kericuhan. Bukannya menengahi perbedaan persepsi antara kelompok penolak acara dan penyelenggara, langkah yang selama ini ditempuh malah melanggengkan pelanggaran kebebasan berpendapat dan berekspresi.

Menurut publikasi data oleh SAFEnet Voice, sudah ada 32 kasus pembubaran diskusi/seminar/lokakarya/pemutaran film sejak tahun lalu, 10 di antaranya bertempat di Yogyakarta. Kata komunisme selalu dijadikan alasan oleh pihak pembubar, tidak terkecuali pada pembubaran pemutaran film Pulau Buru Tanah Air Beta di sekretariat AJI Yogyakarta tempo hari. Puluhan massa dari salah satu ormas melakukan provokasi dengan menuding bahwa acara tersebut disusupi kelompok partai terlarang. Situasi sempat menegang hingga satu truk berisi anggota kepolisian bersenjata lengkap diluncurkan mendekati lokasi acara.

Diambil dari pernyataan resmi AJI Yogyakarta, berikut himbauan Sigit Haryadi pada peserta acara untuk segera bubar–yang ironisnya membawa nama toleransi: “Kalau rekan-rekan mencintai Yogyakarta tolong hentikan, saya tidak mau ada konflik fisik. Tidak ada faktor X, saya hanya ingin kondusif. Mari kita angkat city of tolerance. Kami sarankan kegiatan untuk dihentikan. Kegiatan ini harus dibubarkan.” Menanggapi insiden tersebut AJI Indonesia sebagai induk organisasi tengah menggodok rencana pelancaran gugatan hukum pada Polri atas kasus pembubaran yang telah kesekian kalinya terjadi. Gugatan ini memiliki dasar kuat sebagaimana tertuang pada Pasal 19 DUHAM dan Pasal 28F Undang-undang Dasar 1945 yang mengatur hak memperoleh, menyebarluaskan informasi, serta berekspresi.

pulau buru tanah air beta
pulau buru tanah air beta

Pulau Buru Tanah Air Beta sendiri adalah film dokumenter produksi Rahung Nasution yang berlatar belakang di Pulau Buru. Di film ini sendiri tidak ada adegan provokatif, ia hanya berisi rekaman perjalanan ziarah seorang sahabat ke makam sahabat sesama tapol yang meninggal saat masa tahanan di Pulau Buru. Film ini pun sebenarnya hanya ditujukan untuk melengkapi sejarah tentang ’65 yang sudah ada. Berbagai acara pemutaran film ini pun mengalami berbagai halangan di beberapa tempat. [WARN!NG/Adya Nisita]

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response