close

Pertahankan Tanah, Salim Kancil Dibantai Ramai-Ramai

Salim-Kancil
Aksi_Falahi-Mubarok_Radar-Malang-e1443540185947
Dok. ISt

Mendekati peringatan 50 tahun tragedi kemanusiaan di Indonesia, nampaknya negara ini tidak banyak belajar. Pelanggaran HAM berat masih terus dilakukan di Indonesia. Yang paling baru, Salim Kancil, seorang petani dari Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang, Jawa Timur yang meregang nyawa di tangan kroni-kroni tambang pasir ilegal di desanya.

Menurut beberapa sumber, Sabtu (26/9) pagi Salim dijemput paksa oleh puluhan orang. Salim kemudian dipukul, dihajar dengan kayu, digergaji lehernya, disetrum dan dilempari batu sebelum kemudian meninggal dan tubuhnya di buang di jalan menuju pemakaman desa dengan darah yang masih menggenang. Yang lebih tragis, kejadian penganiayaan dan pembunuhan ini kabarnya dilakukan di kantor Desa. Kegiatan pertambangan pasir di Selok Awar-Awar pun kabarnya juga melibatkan aparat desa setempat.

“Kita temukan bahwa pak Salim diambil dari rumahnya, dan dianiaya di balai desa Selok awar- awar dengan berbagai macam penyiksaan, ini jelas ada keterlibtan aparat desa” ujar Fatkhul Khoir koordinator Kontras Jatim saat menggelar rilis dengan sejumlah media, Minggu (27/09/).

Selain Salim, satu petani lain juga menajadi korban, yaitu Tosan. Tosan juga dijemput paksa oleh puluhan orang tak dikenal dan kemudian dikeroyok di dekat rumahnya. Beruntung nyawanya masih bisa diselamatkan. Saat ini Tosan dirawat di salah satu rumah sakit di Malang dalam keadaan kritis.

Forum Komunikasi Masyarakat Peduli Desa Selok Awar-Awar, Kecamatan Pasirian, Lumajang sebenarnya juga sudah mengadukan ancaman yang dialamatkan kepada mereka pada 11 September 2015. Laporan ke Polsek Pasirian tersebut sayangnya tidak mendapat tanggapan dari pihak berwajib. Aksi penolakan tambang pasir ini pun sudah sejak lama dilakukan oleh warga. Petani merasa gerah karena sebagian lahan pertanian mereka dijadikan jalan perlintasan untuk truk pengangkut pasir, juga kerusakan alam lainnya. Kabarnya, tanggal 26 September lalu sebenarnya merupakan hari dimana Forum Petani Anti Tambang Desa Selok Awar-Awar akan mengajukan pemberitahuan untuk aksi unjuk rasa menolak tambang. Aksi belum dilakukan, nyawa sudah diambil paksa.

Sebagai respons atas kejadian ini, berbagai kelompok aktivis dan masyarakat sipil memberikan dukungan melalui berbagai cara. Salah satunya dengan menekan agar aparat dan pemerintah melakukan tindakan tegas terhadap pembunuhan dan tambang ilegal ini. [WARN!NG/Titah Asmaning]

Salim-Kancil

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response