close

Pesta Lumpur di Obscene Extreme Asia

_MG_3028

 

Tauched By Nausea  – © Warning/Tommy
Tauched By Nausea – © Warning/Tommy

Obscene Extreme Festival Asia day 1

Eksis sejak tahun 1999, Obsene Extreme Festival, sebuah konser musik ekstrim internasional ini akhirnya menyapa bumi Asia. Dan Indonesia didaulat sebagai tuan rumah untuk festival ini. Bertempat Di Bumi Perkemahan Ragunan, Sebuah festival musik internasional tanpa barikade digelar pada tanggal 6-7 April 2013. Dengan tiket seharga 250 ribu untuk dua hari, ditambah datangnya hujan yang menciptakan kubangan lumpur, festival ini, jika dilihat dari kuatitas penonton dapat dikatakan sepi.

“Minum sampai mabuk, mabuk sampai muntah” begitulah penggalan lirik dari Error Brain yang coba memanaskan Bumi Perkemahan Ragunan dalam acara Obscene Extreme Asia. Sebelum Error Brain, acara dibuka oleh dua band metal, Death Krokodile, Ritual Doom dan unit grindcore dari Jakarta, Cosmic Vortex.

Setelah break dzuhur, giliran Deadly Weapon, unit grindcore asal Jogjakarta untuk mencoba merangsang penonton merapat ke panggung. Permainan energik mereka mulai disambut beberapa orang untuk merapat dan ‘berdansa’ setelah sebelumnya penonton hanya berdiam diri. Diawali dengan “Corrupted” , “Not A Single Fuck Was Given”, Total Deadly Weapon memainkan 8 lagu yang ditutup dengan “howl” dan salam perpisahan “See You In Hell”. Membawakan musik cepat tanpa basa basi, Deadly Weapon sebenarnya masih menyisakan waktu untuk terus perform. Namun, karena putusnya senar gitar dan telah dibawakannya semua set list lagu, mereka memilih menyudahi aksi mereka.

Tetap dengan aliran musik yang sama, dari Jogjakarta bergeser ke Bangkok. Failure Trace, band asal Thailand ini menghentak dengan growl-growl yang khas. Lima Belas lagu dibawakan dengan liar, terutama sang vokalis, yang tanpa alas kaki berjingkrak-jingkrak bahkan tiduran diatas panggung. Di lagu ke 13, mereka membawakan “Mass Grave” milik Disrupt. Di lagu ini mereka juga di bantu gitaris Analdicktion untuk mengisi posisi vokal, setelah sebelumnya berada di area moshpit.

Puas dengan grindcore, kini giliran Brutore, band brutal death dari Vietnam. Hanya membutuhkan dua personil, vokalis dan gitaris, plus sampling drum untuk menghasilkan 8 lagu dengan sound yang sangat gore. Kedua orang ini juga tergabung dalam unit grindcore veteran Vietnam, WUU yang main di hari kedua.

Masih dengan suasana Death Metal, aksi Brutore dilanjutkan Bersimbah Darah, band yang berasal dari Bali. Dan Assilent, Unit Death metal Singapura yang juga sedang menyiapkan album baru. Tak ketinggalan, perwakilan dari jawa timur, Extreme Decay ikut meremaikan festival ini. Nomor-nomor lawas seperti “Condemned System” dan “We are Not The Center Of Funny Universe” disajikan. Mendapat energi dari penonton yang memadati moshpit area, Extreme Decay terlihat total membawakan lagu-lagunya, bahkan sesekali sang vokalis terlihat duduk kelelahan. Total 17 lagu dibawakan, dimana “Stop The War” didaulat sebagai encore, setelah sebelumnya membawakan lagu “Amoral” sesuai permintaan penonton.

Memasuki waktu Ashar, acara ini dihentikan sementara. Sangat menarik, mengingat Obscene Extreme adalah sebuah konser musik-musik keras seperti grindcore, metal, punk, namun selalu menyempatkan break di waktu sholat. Hal yang jarang terjadi untuk sebuah acara musik internasional.

Acara berlanjut, kini giliran Revenge, band yang terbentuk tahun 2009 ini membawakan musik death metal dengan rapi, performanya disambut dengan hujan yang sukses menciptakan lumpur di area moshpit. Dilanjutkan unit death metal asal Filipina, yaitu Rush Phantom, dengan menambahkan unsur grindcore, music mereka terdengar layaknya Misery Index. Hujan semakin deras, banyak penonton yang berteduh di booth bir sembari menikmati dari jauh.

Hujan yang semakin deras dijadikan momentum bagi Tauched By Nausea, band asal Afrika Selatan ini menggempur panggung dengan sound crust punk yang cepat dan kasar. Lirik-lirik lugas tentang protes terhadap rasisme, kapitalisme dengan gamblang diucapkan oleh Brian, sang vokalis. Energi mereka direspon penonton dengan menciptakan circle pit. Sukses mentransformasi dinginnya hujan menjadi panas akibat gempuran Tauched By Nausea, giliran Masochist dan King Parrot menjaga aura festival ini.

Alih-alih menjaga atmosfir, Unit grind punk asal Melbourne, Australia ini malah menambah liar suasana. Hujan dan lumpur dimanfaatkan King Parrot untuk berpesta bersama. Diawali dengan dibaginya satu krat bir buat penonton dan beberapa kaos, berulang kali sang vokalis terjun ke kubangan lumpur yang notabene moshpit area. Tak berhenti disitu, perpaduan sound punk, grind dan hardcore ditambah wireless mic membuat suasana benar-benar ‘pecah’. Vokalis lari dan bernyanyi mendatangi booth bir, tempat penonton berteduh, meneriakan lagu-lagunya disana kemudian kembali lagi ke panggung. Terhitung tiga kali dia mengulangi hal tersebut. Tak hanya si penyanyi yang beraksi, berulang kali gitaris dan basis mereka terlihat menendang monitor sound.

Break Maghrib yang cukup lama, tak menyudahi guyuran hujan di Ragunan. Noxa yang mendapat giliran selanjutnya, memulai aksi dengan ajakan buat penonton untuk merapat ke panggung. Mereka langsung menggeber lewat nomor “Wake up & Stand Up”. Hits “Respect All Ethnic, Kill The Racism” ditaruh ditengah-tengah perform. Unit grindcore yang juga menjadi panita di acara ini, mebawaka 15 lagu yang ditutup dengan “Sinetron Sucks” yang diikuti dengan break Isya. Jasad, melanjutkan aksi sebagai pembuka tiga headliner utama festival ini. Tujuh lagu dibawakan diiringi dengan dibakarnya dupa yang semakin me‘metalkan’ suasana. Nomor-nomor andalan seperti “Siliwangi”, “Negara” dan “Cengkraman Garuda” tersaji, beberapa kali Man Jasad mengartikan pesan-pesan dilagunya dalam bahasa inggris yang lebih terdengar seperti joke yang kocak.

Akhirnya, yang ditunggu-tunggu tiba, godfather grindcore, Unholy Grave. Benar saja, belum sempat memulai aksi, penonton sudah lebih dulu beramai-ramai memadati panggung. Konser tanpa barikade ini memang sangat memungkinkan bagi siapa saja untuk naik keatas panggung. Tanpa basa-basi band asal jepang ini menghajar dengan fast grindcore ala Unholy Grave. Diawali dengan nomor “Confession”, “Perigominas” dan “Nuclear Nightmare.” Mereka memang tidak suka basa-basi, lagu demi lagu dinyanyikan tanpa jeda sedikit pun. Semakin banyak penonton yang menaiki panggung, benar-benar kacau, tapi ini bukan masalah bagi Unholy Grave, mereka menikmati suasana tersebut. Bahkan ketika panitia kewalahan, dan sempat menyuruh mereka menghentikan lagu, agar penonton bisa turun sejenak, tawaran tadi ditolak mentah-mentah dengan terus menggeber lagu-lagu mereka. Di penghujung penampilan, Takaho (vokalis) memanjat dua tiang panggung dan loncat dari atas tiang tersebut. Perform ekstrim Unholy Grave ditutup lagu “Brutalizer” dan “Kim After Kim” dengan total 22 lagu tanpa jeda.

Batalnya Cattle Decapitation, digantikan oleh bapak grindcore dari Belgia, Agathocles. Disini mereka memainkan lagu-lagu lama yang jarang dimainkan, sementara lagu-lagu utama mereka, disiapkan untuk hari kedua. Hari pertama festival ini, ditutup oleh penampilan Rotten Sound. Unit grindcore Finlandia dengan frontman yang sama dengan band Nasum ini, sukses memanaskan malam pertama Obscene Extreme dengan total 18 lagu. Penonton terlihat tetap taat berada di kubangan lumpur, ditengah dinginya hujan dan panasnya music Rotten Sound. [Warning/Tomi Wibisono]

Event by : Curby Production

date : 6-7 April 2013

Venue : Bumi Perkemahan Ragunan

Man Of The Match : Break Dzuhur, Ashar, Maghrib, dan Isya ditengah kerasnya grindcore

Rating : ●●● 1/2

foto-foto konser ini bisa dilihat disini

liputan hari kedua bisa diakses disini

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response