close

Pesta Pelacur Bersalut Debu

BHZLvybCEAAS-PZ

BHZLvybCEAAS-PZ

Tak perlu berpikir terlalu asing seperti namanya,TTEVTE, yang berarti ‘lima’. Karena begitu sederhananya ‘lima’disini direngkuh maknanya sebagai lima tahun usia perjalanan band.  Lima warsa atas sebuah live demo dan dua EP, hingga akhirnya My Dear Are Enemy (MDAE) merayakan perilisan full album perdananya itu di Jogja Nasional Museum (12/4). Begitu pula terdapat lima performer yang tampil pada launching tersebut, dimana kompak menggenggam atribut noise-post punk yang dominan. Maka tak heran jika ragam perangkat efek beserta ruwet kabelnya berceceran dan hampir terbenam debu lantai JNM.

Molor cukup lama dari jadwal,  tak begitu banyak penonton yang hadir. Namun tak ada pula yang kecewa dengan kesadaran bahwa konten musik yang tersaji disini memang bukan suara yang bisa dinikmati banyak telinga. Paling tidak kebisingan noise dari performer pertama, Loath, sudah lebih dahulu mengesahkan segmen acara ini. Selanjutnya Untitled Joy menampilkan semburat remang Joy Division dengan gemeratak laju Interpol. Sempat trouble, 4 lagu tetap sukses dibawakan Musim Penghujan yang menggantikan batalnya main Strawberri’s Pop. Sementara side project dari seorang personil Kultivasi, yaitu Rabu, adalah sesuatu yang berbeda. Meski yang ditenteng adalah gitar akustik, ditambah  ketidakmampuannya untuk menyetem  gitar,  ia mampu menampilkan atmosfer kelam yang seolah membising dan tak melenceng dari yang diciptakan oleh distorsi 3 penampil sebelumnya.

Sebelum MDAE on stage, tulisan ‘MDAE’ dilayar mengawali pemutaran album trailer dari TTEVTE.  Terdapat testimoni dari beragam  pihak, termasuk MDAE sendiri mengenai fase demi fase perjalanan menuju kelahiran TTEVTE.  Segera setelah itu perhatian kembali mengarah pada stage, dimana gebukan drum dan rentetan line bass mentah mengiringi Yoga (vokal) merajami gitarnya yang tak berdaya dengan benda-benda di sekitar dalam sebuah intro berjudul “E!”. Sebuah gimmick menarik yang sayangnya berlanjut dengan penampilan yang tak maksimal. MDAE terlihat gugup dan kurang lepas bermain dalam kerumunan audiens, termasuk ketika menggeber “Son Of A Gun” dari The Vaselines.

 “Tergilas Melintas” memang merupakan lagu spesial bagi MDAE. Selain sebagai signature song, di nomor inilah malam itu mereka mulai terlihat masuk dan menyatu dengan feedback, distorsi, teriakan penonton, dan apapun yang ada di sekitar mereka. Puncaknya di lagu terakhir, “Pelacur”, mereka berhasil membawa sebagian atmosfer legendaris dalam video klip Nirvana “ Smell Like Teen Spirit” ke arena gigs. “Kami adalah pelacur!”, berulangkali diratapkan dalam  keliaran malam itu . Konser berakhir dengan tak hanya sekedar efek yang bersalut debu.  Stand mic, gitar, monitor, botol minum, handuk serta beberapa manusia tergeletak bersetubuh dengan debu-debu lantai saksi pesta para pelacur. [Warning/Soni]

 

Event By : Sangkar Burung

Date : 12 April 2013

Venue : JNM (Jogja National Museum)

Man Of The Match : “Kami adalah pelacur!”

Rating : ***

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response