close

Planet Ke Sebelas

1402046932524 (1)


ss

“Tuhan, maafkanlah para Bangsat yang tidak pernah memiliki waktu untuk menikmati waktu yang telah Engkau berikan,” pinta Magdalena khimat sebelum memulai menyantap ayam goreng imajinatif nya.

Malam itu(01/06) Teater Amarta Yogyakarta menggelar sebuah pementasan mini berjudul Planet Ke Sebelas. Selama dua hari berturut-turut para pengunjung Kedai Kebun Forum disuguhi drama teater yang mengangkat cara pandang estetika Barat dalam sebuah satra. Naskah asli Planet Ke Sebelas sendiri ditulis oleh Evald Filsar pada tahun 2000 dengan judul Enajsti Planet dalam teks bahasa Inggris. Kemudian naskah tersebut diterjemahkan oleh Nunung Deni Puspitasari yang juga sekaligus sebagai Sutradara dalam pertunjukan kali ini.

Sambutan selamat datang dihadirkan melalui pembacaan sinopsis singkat oleh narator. Penonton yang telah terbagi menjadi dua tempat, antara lesehan dan kursi, menarik napas tercekat kala ruangan yang tadinya terang berubah menjadi gelap. Sesosok pria berambut panjang, bertelanjang dada dan kumuh tiba-tiba masuk ke tengah panggung dengan langkah sempoyongan. Gerakan tubuhnya yang skeptis dengan ritme patah-patah menambah kesan mencekam suasana panggung. Dan seolah ingin mengajak penonton menjadi bagian dari pertunjukan, sorot matanya yang tajam diedarkan ke seluruh sudut ruangan tanpa terkecuali.

Pembukaan ini cukup berhasil menyedot perhatian penonton rupanya. Belum sempat bertanya siapakah pria tersebut, adegan selanjutnya beralih dengan munculnya dua orang lagi ke tengah panggung. Berpakaian sama kumuhnya dengan pria tersebut, ke dua orang itu berdebat panjang mengenai suatu topik yang seolah telah berlangsung sekian lama diantara mereka. Dialog-dialog yang dilontarkan kedua aktor tersebut lagi-lagi seolah menuntut penonton untuk paham dengan situasi yang tengah terjadi.

Pertunjukkan berlangsung selama dua jam tanpa jeda. Selama pertunjukkan itulah, para penonton akhirnya sedikit demi sedikit mulai memahami perkara yang tengah terjadi diatas panggung. Alur cerita yang datar tetap mampu menggetarkan emosi penonton melalui berbagai pernyataan yang tajam. Para pemeran seolah telah mengerti bagaimana menyampaikan pesan-pesan tersirat mereka melalui metode komunikasi yang sangat terlatih.

Adalah tiga gelandangan, Peter, Paul dan Magdalena yang berkeliaran bebas di sudut-sudut kota setelah melarikan diri dari rumah sakit jiwa. Mereka memiliki komitmen untuk selalu bersama dan bersama pula mereka membenci suatu kaum atas yang mereka sebut dengan nama Bangsat. Klimaksnya adalah saat Peter berkhianat dengan cara berpura-pura menjadi kaum Bangsat untuk mempertahankan hidup mereka bertiga. Di tengah konflik yang terjadi di antara komunitas kecil mereka, ada berbagai suara-suara yang selalu datang menelepon mereka satu persatu. Suara-suara itu menjadi pertanda bahwa waktu kebebasan mereka hampir habis. Mereka pun berlomba dengan waktu untuk kembali melarikan diri melalui gagasan imajinatif mereka masing-masing tentang Planet Ke Sebelas.

Layaknya sebuah pementasan drama pada umumnya, pertunjukkan Planet Ke Sebelas di tutup dengan ending yang tidak juga menjawab rasa penasaran para penonton. Alih-alih berakhir dengan jelas, drama ini seolah meminta penonton untuk mengintrepretasikan karya ini sesuai dengan benaknya masing-masing. Diiringi gemuruh tepuk tangan penonton kala pertunjukan usai, Planet Ke Sebelas seolah menjadi cermin renungan bagi diri kita. Planet Ke Sebelas adalah sedikit dari banyak karya yang sarat akan makna penolakan terhadap manusia-manusia modern yang hanya peduli dengan kebahagian mereka sendiri. Karya ini berupaya mengetuk hati mereka untuk lebih bersimpati setidaknya terhadap orang-orang seperti Peter, Paul dan Magdalena diluar sana.

dikirim oleh: Prahmahita Rayi
 Event by: Teater Amarta

Date: 1-2 Juni 2014

Venue: Kedai Kebun Forum

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

 

warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response