close

Polka Wars: Menerka Jawara Muda

SONY DSC
Polka Wars © WARN!NG
Polka Wars © WARN!NG

Belum menyentuh separuh dekade di usianya, Polka Wars telah menyemai sejumlah capaian bergengsi bersama konklusi-konklusi ala ‘Inception’

Words: Titah Asmaning & Soni Triantoro

Dalam tiga kata, Polka Wars bisa dideskripsikan dengan: muda, konseptual dan kompleks. Seolah tidak mau hanya berkarya pada bentuk estetika yang permukaan, mereka memilih membicarakan dualisme hidup manusia lewat lirik penuh metafora yang disuarakan dalam musik indie-rock berbumbu ambient berlapis. “Mungkin gara-gara kita old soul semua nih, banyak kegelisahan soal itu. Nggak apa-apalah mumpung masih muda,” komentar Giovanni Rahmadeva (Deva), sang drummer, tentang konsep dualisme yang mereka angkat.

Sejak kemunculannya di tahun 2011, Polka Wars terbilang mencuri perhatian. Sejumlah prestasi telah mereka ukir di usia kiprah yang terbilang cukup dini. Selain didaulat sebagai bintang tamu pembuka konser Yeah Yeah Yeahs di tahun 2013, mereka juga memenangkan kompetisi Converse Rubber Tracks tahun lalu yang berujung kesempatan rekaman di Brooklyn, New York. Sebuah majalah musik ternama ibu kota lantas menindaklanjuti dengan menyematkan label penghargaan pada mereka.

Di luar raihan-raihan itu, album pertama bertajuk Axis Mundi lahir menunjukan kualitas otentik mereka di pertengahan tahun 2015. Album yang semakin ‘mempertebal’ nama mereka di jajaran band yang patut diwaspadai tahun ini. Menyikapi hal tersebut, Billy Saleh selaku gitaris berkomentar, “Itu jadi tanggung jawab yang paling besar sih. Dengan segala macam apresiasi itu, kita jadi harus mengembalikannya lagi”.

Sehari setelah menyelesaikan Axis Mundi, mereka berangkat ke Brooklyn untuk mengklaim hak sebagai jawara Converse Rubber Tracks. Tiga lagu yang mereka rekam di sana rencananya akan dikeluarkan dalam bentuk EP. “Kemungkinan kalau EP dikeluarin Mei 2016, setahun setelah Rubber Tracks,” jelas Deva.

Menarik pula ketika di kota dengan kancah musik independen paling historis di mata dunia itulah justru Polka Wars merekam lagu berbahasa Indonesia pertamanya, “Rangkum”. “Itu nggak disengaja. Cuma jadinya kita makin yakin ini kesempatan kita bawa lagu ini kesana,” terang Xandega Tahajuansya, sang pembetot bas, disusul seloroh belagu Karaeng Adji (Aeng), “Orang bule pada bingung. ‘Ngomong apa ini orang-orang?’ ‘Lo ngomong apa gue ngerti semua. Gue ngomong apa, lo nggak ngerti kan?’”

Polka Wars juga menjadi istimewa karena memberlakukan pendekatan egaliter dalam posisi vokalis. Jika band-band lain mengandalkan satu vokalis untuk semua lagu, kuartet asal Jakarta ini justru membagi-bagi porsi vokal untuk banyak lagunya. Selain bahwa Aeng dan Billy memegang gitar, Deva di drum, dan Xandega di bas, mereka semua juga bisa dikatakan mengisi posisi vokal. Aeng misalnya menyanyikan “Mokele” dan “Tall Stories”, bergantian dengan suara bariton milik Giovanni di lagu “Alfonso”, “Top Gear” dan “Lovers”. Deva menjelaskan, “Sebenernya pembagian itu ujung-ujungnnya sih buat perpanggungan. Tapi pas penulisan kita nggak mikir gitu. Nasibnya si lagu masing-masing yang bikin gitu.”

Ditemui WARN!NG sebelum penampilan perdana mereka di Jogjakarta, Polka Wars bercerita banyak soal konsep dualisme, kancah musik New York, dan favoritisme mereka terhadap Sore dan Efek Rumah Kaca. Simak selengkapnya!

A: Karaeng Adjie    B: Billy Saleh                         X: Xandega Tahajuansya         D: Giovanni Rahmadeva

Ada pengalaman seru apa di New York?

D: Pengalaman lucu, ngerasain jadi anak band yang “anak band” banget. Soalnya dapat apartemen yang kurang beruntung. Lucu sih itu. Sepuluh hari di kamar yang amburadul. Seru lah, prihatin tapi versi sana (tertawa).

X: Pokoknya di sana seneng banget, kita belajar banyak karena kita rekaman di studio yang standarnya internasional, itu yang pertama. Dan belajar dengan orang-orang yang punya standar internasional juga. Dari situ kita juga istilahnya liburan juga, karena setelah kita ngerjain album Axis Mundi selesai kan langsung berangkat, jadi kita liburan sekalian rekaman juga. Dan rekamannya di sana tuh materi-materi yang istilahnya pelepas dahaga untuk kita. Kan Axis Mundi ini kita kerjakan selama dua tahun dan bener-bener dipikirin banget. Yang rekaman ini cuma tiga hari rekaman, satu hari mixing, dan cuma tiga lagu. Itu jadi sesuatu yang beda.

Apa kelebihan studio rekaman di New York yang seharusnya juga dimiliki studio rekaman Indonesia?

A: Beda kultur.

D: Efisiensi cara kerja. Lebih ke manusianya sih. Di sana hardware super lengkap. Tapi kalau kuping sih sama sebenernya, jago-jagoan software sama. Di sana jam segini ya segini, mau nggak mau kita ke-push otaknya. Kalau ngeliat artis-artis luar ngerjain lirik di dalem studio, kita juga ngelakuin itu. Jadi apa yang terjadi di situ dikeluarin langsung.

Sempet menonton band-band di New York juga?

X: Kita sempet nonton, nongkrong juga sama Surfer Blood, We Are Scientists, The Morning Benders, The Pains of Being Pure at Heart, Acid Mothers Temple dari Jepang. Gue juga sempet nonton noise-noise-an, sama Micachu dari Inggris main di MoMa (The Museum of Modern Art). Ada Bjork lagi nonton juga.

A: Indie-indie-an lah.

D: Yang major mahal.

Dibandingkan dengan band-band lokal?

X: Sebenernya enggak jauh beda sih sama di sini. Secara musikalitas, kita enggak kalah sama band-band yang main di sana.

A: Di sana medianya istilahnya kalau gelas ditumpuk, itu gelas paling atas. Di sana yang di bawah pada minum semua. Kalau kita, di Indonesia gelas ditumpuk gini kan (memperagakan menumpuk gelas) nuangin air ke sini, kenanya bawah doang. Paham kan ya?

D: Padahal kan New York itu ibu kota dunia, bukan ibu kota Amerika. Jadi emang gila. Kayak semua orang, semua etnis ada.

X: Banyak yang gitu-gitu doang. Enggak bagus-bagus amat. Banyak sih dari lokal yang lebih bagus.Bisa lah band-band Indonesia.

Dulu setelah tur Amerika, The S.I.G.I.T juga sempat bilang band-band sana banyak yang kacrut.

A: Iya, emang banyak yang kacrut.

B: Iya, bukan masalah sound. Tapi maennya.

D: Jadi emang band-band yang sudah sampai sini yang emang sudah kredibel. Sampai Eropa aja udah oke. Sampai Asia lebih oke lagi.

Kenapa kalian memilih formasi personil yang egaliter? Semua bisa jadi vokalis dan main musik sekaligus. Ini cukup jarang dilakukan band lain.

X: Enggak pernah ada pilihan sih. Emang secara organically kita jadinya kayak gitu. Bentuk itu nggak direncanakan. Cuma kita lihatnya begitu paling ideal.

D: Di panggung biar bisa bagi-bagi nafas juga. Si Aeng kalau capek ada Billy nyanyi, gue juga nyanyi. Sebenernya pembagian itu ujung-ujungnnya sih buat perpanggungan. Tapi pas penulisan kita nggak mikir gitu. Nasibnya si lagu masing-masing yang bikin gitu.

B: Kita juga enggak bisa menilai sendiri untungnya dimana, ruginya dimana.

D: Tapi enggak tau ini untung atau rugi, orang-orang jadi pada bingung. Dikira suara Aeng padahal bukan, enak jadi ngerjain orang (tertawa). Itu kalau di kita, enggak tahu sih di mereka.

X: Bahkan ada yang bingung nanya emang ada vokalis cewek di Polka Wars ya? Oh ternyata Aeng (tertawa).

Musik yang kalian mainkan cukup kompleks mengingat usia para personil Polka Wars yang terhitung muda. Seberapa perfeksionis kalian dalam bermusik?

B: Alhamdulillah kalau dibilang perfeksionis. Karena pas produksi kita tuh intuisi sreg nggak sreg aja. Kalau enggak sreg kita rombak lagi. Mungkin itu yang bisa dibilang sisi perfeksionis kita. Tapi kita juga nggak tahu sih.

D: Macem-macem ya, emang ada lagu yang ditumpuk-tumpuk banyak, jadi mix-nya ribet, terus lama. Mungkin perfeksionisnya di mixing-nya. Tapi ada lagu yang didiemin aja terus ngalir. Kalau dibilang perfeksionis mungkin karena kitanya belum tahu efisiensi cara kerjanya, jadi kesannya lama. Padahal banyak yang diikhlasin.

X: Pengennya sih cepet-cepet. Ada juga lagu yang dari dulu sampai sekarang nggak berubah, terus tiba-tiba si Aeng bilang, “Diginiin aja nih!”. “Oh iya!”, terus jadi.

D:Mungkin karena kita berprosesnya sambil manggung ya, kita kan bukan band yang ada target nya misal rekaman empat bulan harus kelar. Jadi ketika di panggung ada aransemen berubah, di studio sama di laptop juga berubah. Mungkin karena proses panggung itu ya. Tapi kita enggak yang di studio ribet banget gitu enggak.

X: Go with the flow aja sih, kita juga belajar sambil ngajak-ngajak orang gitu. Masukan dari orang lain.

B: Ya, banyak masukan-masukan.

D: Ada orang lagi di depan studio ikut masuk.

B: Lagi enggak ngapa-ngapain, “Ya udah deh lo rekaman aja!”

A: Ada orang lagi jalan lewat depan ngerokok, “ Eh Mas!” (sambil memperagakan lambaian tangan mengajak orang).

D: Tapi kalau gue pribadi, pas bikin albumnya, cuma kayak ada formula kecil kayak pokoknya menghindari klise aja, intinya kayak gitu. Yang jadi jalur utamanya mungkin. Tapi kalau perfeksionis sih enggak. Justru kita tahu teknisnya aja enggak.

B: Jadi masih banyak kekurangan sih sebenarnya. Cie, sok bener ya gue (tertawa)

Pernah ada ego personal dari personil untuk memasukkan jenis musik tertentu?

B: Iya, tapi balik lagi. Misal udah dimasukin, pas kita dengerin rame-rame, “Ini kayaknya nggak cocok nih”, ya udah sikat. Natural kita. Ada yang tiba-tiba ngasal, lagi maen, “eh itu masuk tuh, cocok”, ya udah dimasukin.

A: Berdasarkan konsensus lah. Kalau ego pribadi masing-masing pasti ada.

D: Tadinya juga ada lagu yang agak math rock dikit. Tapi “ah ini kayaknya belum nyampe kita”.

A: Nah untungnya, istilahnya persepsi akan estetika yang mau dikejar itu alhamdulillah lumayan selaras, jadinya cepet nemu titik tengahnya.

D: Apalagi kita udah nemu judul albumnya kan agak di depan. “Oh judul albumnya gini. Arahnya gini”. Jadi masing-masing udah ada bayangan visual sampai audio.

Ada alasan khusus untuk selalu memakai bahasa Inggris di lirik? Apakah berpengaruh dengan apresiasi pendengar terhadap Polka Wars?

A: Kenapa memilih bahasa Inggris, soalnya untuk sekarang, apa yang keluar dari hati lebih mudah untuk dilafalkan dengan bahasa Inggris. Tapi kalau untuk ke depannya sih, udah ada lagu bahasa Indonesia. Yang direkam di New York kemarin itu bahasa Indonesia (“Rangkum”-red). Habis itu kalau apresiasi, ngaruh sih kayaknya. Kalau gue perhatiin ya. Iya enggak?

B: Ngaruh apresiasi jadi bagus atau jadi jelek?

D: “Oh bahasa Inggris jadinya lebih bagus “ atau “Kok lo enggak mau pakai bahasa Indonesia sih?”. Ya nggak tahu juga sih itu.

A: Ya itu conflicting opinion sih banyak, tapi yang jelas pengaruh sih ada. Tapi tergantung kita majornya dari apa. Kalau kita major-nya dari cakupan orang yang akan lebih suka dengan Axis Mundi—enggak tahu ya—ini dengan asumsi setelah diganti bahasa Indonesia Axis Mundi secara estetika enggak ada degradasi, mungkin lebih bagus pakai bahasa Indonesia. Karena lebih mudah untuk disebarin. Cuma gue enggak tahu nih kalau dibikin bahasa Indonesia akan sama atau nggak.

“Rangkum” adalah lagu berbahasa Indonesia pertama?

A: Yang pertama direkam. Ke depannya akan lebih banyak sih, karena masalah limitasi juga sih. Karena nulis bahasa indonesia menurut saya pribadi lebih susah.

Tapi yakin kalau pesannya sama-sama sampai ke pendengar?

A: Harusnya sih sama-sama aja.

D: Kan katanya musik adalah bahasa universal.

A: Bahasa kan cuma metode inskripsi aja. Masalah gape-gak-gape yang nulisnya aja.

D: Dan di dalam lirik biasanya diumpetin-umpetin lagi kan. Penyampaian rasanya kan mestinya sama lah. Tapi kita jodohnya kayak gitu. Meski gue sama Billy pernah bikin lagu bahasa Indonesia, tapi akhirnya mental karena musiknya pas enggak masuk. Emang kita enggak merencanakan harus Inggris atau apa. Dan yang Indonesia untuk EP itu juga enggak direncanakan. Demo-nya sih Inggris, tapi pas bikin, gue pengen (buat) bahasa Indonesia yang enak. Jadi harus nemu kata pertamanya yang enak biar mengalir. Jadi kadang-kadang jodoh-jodohan sama titik pertamanya itu.

A: Prosesnya lebih intuitif kita soalnya.

D: Nunggu wangsit doang dari atas. Kita enggak bisa request gitu sih.

Kalian berada di rentang usia yang cenderung mendorong keterbukaan terhadap segala hal. Seberapa berpengaruh terhadap proses penulisan lirik?

B: Ngaruh sih. Itu kan salah satu proses. Maksudnya mungkin pada saat awal kita bikin Polka, prosesnya ibarat layer kita layer paling bawah. Dengan seiring berjalannya waktu dan bertambahnya usia pasti bertambah, bertambah, bertambah.

D: Karena masalah hidup juga makin kompleks kan. Dulu SMA cuma ngejar nilai doang, kuliah marah-marah ama dosen, kerja, terus apa, sebenarnya karena itu sih. Enggak tahu deh karena apa.

X: Beda-beda sih, kita soalnya masing-masing nulis lirik juga. Kalau dari gue sendiri, gue dulu overcomplicated semua karena emang dulu gue istilahnya masih muda, dan masih lugu. Begitu sekarang setelah tahu hidup itu nggak simpel, gue mau simpel-simpelin hidup yang ribet ini. Dari lirik gue.

A: Kalau pertanyaanya ngaruh atau enggak ya secara natural ngaruh, namanya lirik kan output hati. Itu pengejawantahan apa yang kita rasain kan. Saat umur-umur segini ada turbulence ya wajar pasti ada pengaruhnya.

X: Nggak berarti mana yang lebih bagus, cuma pasti beda.

Axis Mundi’ berarti keseimbangan atau dualisme dua dunia. Dualisme macam apa yang kalian coba ungkapkan?

A: Kalau menurut saya, Hablum Minannas Hablum Minallah. Beberapa tahun leading ke proses pengerjaan Axis Mundi, saya pribadi sama Deva banyak berpikir masalah tuhan. Jadi banyak lagu terefleksikan ke situ. Walaupun saya enggak ngomong ini unison di dalam band. Tahu deh kalau Deva.

D: Kayak titik antara dua kegelisahan, makhluk sosial dan makhluk spiritual. Titiknya itu di tengah. Kadang-kadang kita suka capek di tengah-tengah dan kita enggak tahu kenapa, mungkin gara-gara kita old soul semua nih, banyak kegelisahan soal itu. Dan enggak apa-apalah mumpung masih muda. Lagi ribet aja.

B: Walaupun kalau dinilai secara kasat mata kita juga belum seseimbang itu.

D: Justru ini pengen menyeimbangkan. Ingin ngasih notes ke kita “Lo harus seimbang lho”.

X: Justru emang manusia bikin karya seni itu kan karena karya seni itu manifestasi dari idealnya manusia. Istilahnya arsitek bikin rumah ya rumah itu akan jadi idealnya buat manusia tinggal itu gimana. Kita bikin karya juga begitu. Idealnya gimana. Dan berharapnya ya ini menurut kita bagus, kenapa nggak di share?

Polka Wars © WARN!NG
Polka Wars © WARN!NG

Lalu kenapa kalian mengangkat cerita-cerita semacam “Mokele Mbembe”, “Alfonso”, “Ataraxia” dan sebagainya?

B: Bentuk metafor juga sih sebenarnya. Karena kita susah ngungkapin.

A: Kebanyakan simbol-simbol. “Mokele” itu enggak ada hubungannya sama apa yang saya tulis. Tapi itu paling fulfilling untuk ditaruh, dijadikan simbol yang gamang. Karena poinnya kan orang enggak ada yang suka diceramahin atau diguruin. Jadi gue mau bikin itu read along the line aja lah. Baca aja, gue enggak mau kasih tau. Menurut lo gimana. “’Mokele’ itu elusi, timbul tenggelam, bener apa enggak?”, ya taruh aja. “Apa itu maksudnya ngilang-ngilang?” Ya pikir sendiri.

B: Untungnya banyak yang mempertanyakan, kita akhirnya punya kesempatan untuk ngungkapin. Kita sebenernya takut misleading orang ke arah yang malah takutnya nggak jelas. Cuma alhamdulillah dapat kesempatan buat ngejelasin.

A: Kebanyakan emang enggak nangkep sih. “Maksudnya apa sih ini?”.

B: Soalnya kita nulis lirik gamblang itu susah-susah gampang, banyak susahnya.

A: Kurang belajar sih itu. Kalau kayak Efek Rumah Kaca gitu nulis lirik kan orang langsung tahu maksudnya. Gokil.

B: Kayak Tigapagi kan di EP barunya metode liriknya udah mulai gamblang. Itu bener-bener masih tantangan buat kita. Walaupun kita udah nyari aman di bahasa Inggris, dimetaforin lagi, ya emang susah.

X: Pada saat itu ya emang kita sukanya kayak gitu. Istilahnya lo nonton film yang ending-nya nggak jelas. Kan kadang lo suka kalau dibikin ending-nya menggantung. Cuma ada juga yang suka kalau dibikin ending-nya jelas. Lo suka film yang based on true story, yang lo bisa cari ending-nya di Wikipedia, atau yang ending-nya menggantung? Nah, ini (film) Inception. Jadi kita lagi suka Inception saat itu. Bilang aja gitu.

D: Tapi kalau emang bicara, kan lirik ibaratnya kayak ngobrol sama Bapa, sama Tuhan. Sebenarnya ngobrolnya gamblang. Cuma karena itu pengalaman seseorang dengan realitas yang lebih tinggi, orang-orang jadi lihatnya kayak “Ini sebenernya apa sih?” Sebenernya kalau orang yang baca punya pengalaman yang sama, liriknya jadi gamblang banget. Kayak “Lovers” itu gamblang banget. Sebenernya kalau punya kuncinya langsung ngerti semua.

X: Mau nggak mau itu pengalaman kita. Kita enggak akan bakalan bisa bikin sesuatu dari hati kalau enggak ngerti. Daripada kita bikin sesuatu yang enggak ngerti agar orang-orang ngerti, ya paling enggak kita ngerti dulu aja. Berharapnya orang bisa ngerti apa yang kita ngertiin.

D: Tapi so far banyak yang berusaha mengerti, itu seneng banget. Ada yang bahas di blog. Detil banget. Gila ini orang lebih ngerti dari kita. Kocak.

B: Enggak lebih ngerti sih, mungkin lebih bisa menggambarkan. Lebih bisa menjelaskan.

X: Lebih bisa menarik garis dari apa yang kita bikin. Seneng sih, membuahkan suatu karya yang udah bukan punya lo lagi, tapi punya semua orang. Artinya juga jadi artinya orang-orang. Dan ketika orang udah bisa menarik garis dari apa yang kita bikin, itu lebih dari semua penghargaan, paling senang orang bisa menarik garis dan kemana-mana dari karya kita .

Kenapa memilih menggunakan cerita-cerita dari luar negeri untuk dijadikan metafora? Kenapa tidak misalnya memakai mitos-mitos lokal? Apakah supaya pesannya lebih universal?

D: Lingga Yoni (tertawa).

A: Kan niat awalnya emang ngambil liriknya seluas-luasnya walaupun riilnya pas dimasukin ya hitungannya niche market. Cuma kan istilahnya kalau kita masuk ke market yang lebih kecil, lebih baik, misalnya pendengarnya—harapannya—bisa ke luar-luar. Kalau kita ngambil multikultural orang lebih paham, kalau enggak, mungkin orang nggak bisa relate.

D: Dari awal kan Axis Mundi jembatan dunia sama dunia yang satu lagi. Ya sekalian dunia dan artefak-artefaknya.

Apakah konsep keseimbangan akan dibawa terus?

B: Kalau untuk ngeband pasti pengen. Konsep keseimbangan kita masing-masing. Kalau untuk dituangkan ke sebuah karya atau album, pasti akan berubah-ubah. Fase ini kita ingin ngangkat keseimbangan, mungkin album kedua siapa tahu bisa mengangkat politik atau apa—sotoy-sotoy-nya gitu. Kita enggak pernah tahu. Tapi keseimbangan pasti kita pegang sehari-hari, enggak cuma untuk dituangkan ke karya dan media berupa album.

A: Kalau pertanyaanya apakah keseimbangan akan dibawa terus ya akan di bawa terus, kalo enggak seimbang, orang jalan juga jatuh.

B: Naik motor enggak lulus ya. Enggak dapet SIM.

A: Kelindes truk deh, mati.

Saat rekaman kalian melibatkan banyak sekali musisi pendukung. Apakah kalian tidak takut menurunkan kualitas performa di panggung saat live dengan personil yang tidak sama banyaknya?

X: Kita kalau live bertujuh.

B: Cuma hari ini kita berenam.

X: Iya, yang satu enggak bisa. Kita emang ada tiga teman-teman kita yang bantuin setiap manggung. Kebetulan tiba-tiba last minute, satu orang enggak bisa. Sebenarnya kalau ada orang mau ngundang Polka Wars yang paling bagus, itu kita bersembilan. Itu kemarin pas kita konser. Dan kita pengennya hopefully dalam waktu dekat kita bikin konser lagi dengan lebih banyak lagi orang. Karena emang kita bikin album ini juga nggak sendirian. Banyak teman-teman dan guru-guru yang bantu dan ngajarin kita. “Nih kita pertama kali rekaman”. Yang berempat cuma “Sanctuary” doang, itu dibantuin sama produser dan mixing engineer juga. Istilahnya kita waktu itu belajar pertama kali, jadinya banyak nanya dan dibantuin. Kalau di album ada liner notes, itu aja ada yang ketinggalan. Sigit dari Tigapagi mengisi gitar di “Top Gear” dan ketinggalan (ditulis). Itu banyak banget dan emang kita susah sih menstranslasikannya, apalagi kalau disuruh main akustik.

Dari beberapa sumber lain, kalian mengaku banyak dipengaruhi oleh Efek Rumah Kaca dan Sore. Dalam bentuk apa pengaruh-pengaruh itu diadaptasikan?

A: Kultural gimana conduct bandnya sih. Bukan ditranslasikan dalam bentuk musik. Ya orang juga bingung trace-nya di mana untuk dibilang Sore atau ERK.

B: Ke penghayatannya, bukan ke badannya.

A: Cara kita beroperasi dalam band ini banyak ngambil jiwanya dari sana. Kita perhatiin-perhatiin lah ini, gimana senior ngebawanya.

X: Dan sebenarnya garis merah yang paling konkrit yang bisa ditarik dan paling tebal dari kita berempat adalah kesukaan kita pada dua band itu dari dulu, dari SMA. Kita nyambung banget emang gara-gara ERK. Sampai kita undang ke prom. Waktu prom voting, dan kita menginfluens semuanya, “Efek Rumah Kaca nggak? Kalau enggak habis lo (tertawa)”. Pas prom cewek-cewek udah yang “Ini apaan sih, masak Efek Rumah Kaca”. Kan cewek-cewek maunya joget-joget gitu kan. Kita sih seneng-seneng aja. Pas prom gue nyanyi bareng Cholil (Mahmud – Vokalis ERK), belum kenal waktu itu.

Kebetulan Efek Rumah Kaca dan Sore sama-sama mengeluarkan album tahun ini. Dua-duanya jadi sorotan. Mana yang lebih dijagokan oleh kalian?

D: Kalau gue ERK sih kayaknya. Soalnya waktu itu udah denger –denger dikit, udah “Anjing! keren banget!”. Cuma kayaknya kalau album baru ERK keluar, enggak masuk list (tahunan), soalnya dirilis di ujung (tahun) banget. Kalau majalahnya udah kecetak, ERK baru ngeluarin (album baru). Katanya sih gitu.

B: Oke, kalau itu Deva pribadi. Kita semua kan dalam satu scope musisi, musisi kan membuat seni musik. Menurut gue, kalau untuk dijagokan, sangat susah diukur sih. Karena itu dua hal yang materialnya pun berbeda. Misalnya yang satu palu, satunya obeng. Lebih jago yang mana ya tergantung karena fungsinya palu untuk apa, fungsi obeng untuk apa.

A: Gini, kayak apel sama jeruk. Dua-duanya enak. Tapi mana yang lebih enak? Nggak tahu, emang enak aja dua-duanya.

B: Iya, dua-duanya punya manfaat masing-masing.

D: Kan ERK sengaja rilis di ujung. Biar enak ke semuanya. Biar enggak masuk list, tapi orang jadi,”Ah, ini harusnya masuk nih”.

X: Kalau gue belum dengerin dua-duanya, jadi nggak bisa nilai. Lebih bagus Polka Wars (tertawa).

A: Ditulis itu. Enggak cerdas jawaban lo man.

X: Bercanda itu. Gue juga belum dengerin Polka Wars kok.

#sarapanmusik

B: “Indonesia Raya”. Kalau nyetel radio jam 6 pagi pasti lagunya itu. Jadi mau enggak mau ya “Indonesia Raya”.

X: Dulu di Prambors Radio, kalau lo baru bangun subuh, lo nyalain radio, yang selalu diputer itu lagu Mew, album pertama, Frengers, track terakhir. Gue tapi lupa lagunya apa. Cuma selalu itu. Gue masih dihantuin sama lagu itu.

D:. Waktu itu alarm gue , M83 – “Oblivion (feat. Susanne Sundfør)”. Soalnya drumnya kenceng banget, jadi buat bangun pagi itu kayak…

A: Gue dengerin lagu cuma kalau di mobil sih, berangkat ke kantor, Incubus – “Morning View”.

 

Tags : Interviewpolka wars
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response