close

Prediksi Oscar 2017

oscar

 

Teks oleh Kevin Muhammad & Muhammad Faisal

Melihat daftar lengkap nominasi tahun ini, penebusan dosa sepertinya menjadi tema besar yang diusung Academy of Motion Picture Arts and Sciences (AMPAS). Keberagaman warna kulit dan gender memang sering memanaskan Oscar beberapa tahun belakangan. Namun, dengan judul kelas berat seperti Moonlight, Hidden Figures, dan tentunya 13th, setidaknya terlihat sedikit usaha AMPAS untuk memperbaiki citra. Entah nantinya menang atau tidak, itu urusan belakangan.

Terlepas dari hal tersebut, nilai gengsi dan kredibilitas Oscar sebagai salah satu penghargaan tertinggi dunia perfilman juga terus memudar. Dalam wawancara yang pernah dilansir The Hollywood Reporter, sekelompok juri anonim yang berstatus veteran mengaku selalu mengandalkan pilihan favorit cucunya untuk menentukan film animasi terbaik. Fakta menggemaskan lainnya, kebanyakan juri bahkan tidak paham perbedaan antara sound editing dan sound mixing. Ya, wawasan juri Oscar yang rata-rata adalah pria kulit putih berusia lanjut dengan “pengalaman” dalam dunia perfilman rupanya sebelas dua belas dengan sineas kacangan.

Perlu diingat kalau satu piala tak lantas menjadi solusi permasalahan sosial-politik yang telah mendarah daging selama ratusan tahun. Mereka yang pulang dengan tangan kosong juga tak perlu kecewa. Karen itu hanya berarti filmnya tidak sesuai preferensi juri yang homogen. Bukan masalah besar dan tidak akan mengganggu hajat hidup siapa-siapa. Kendati demikian, perhelatan Oscar selalu menjadi titik tumpu pembicaraan para pecinta sinema. Suka atau tidak dengan kebobrokan AMPAS, masih banyak yang penasaran melihat peruntungan La La Land dengan 14 nominasinya.

Best Picture

Arrival, Fences, Hacksaw Ridge, Hell or High Water, Hidden Figures, La La Land, Lion, Manchester by the Sea, Moonlight

Satu hal penting yang sebelumnya harus disampaikan, AMPAS tidak punya hak membela diri karena tidak menyertakan Silence dalam kategori paling bergengsi. Tidak ada alasan waras yang bisa diterima. Terlebih ketika Passengers saja bisa mendapatkan lebih banyak nominasi.

Walaupun memiliki jumlah kompetitor terbanyak, peta persaingan kategori Best Picture sejatinya dapat dikerucutkan kepada tiga film, yaitu Arrival, La La Land, dan Moonlight. Tapi perlu diingat, ada peraturan tidak tertulis di Oscar, khususnya pada kategori Best Picture. Secara kasar, peraturan menyebalkan ini menyatakan bahwa film sci-fi, aksi, komedi, dan horror akan selalu menjadi pilihan kedua. Sementara itu, riang dan gemilang La La Land agaknya cukup untuk membuai juri dan membuatnya abai pada substansi padat yang dibawakan Moonlight.

Prediksi: La La Land, walaupun kemenangan Arrival atau Moonlight akan menjadi kejutan manis.

Best Director

Denis Villeneuve (Arrival), Mel Gibson (Hacksaw Ridge), Damien Chazelle (La La Land), Kenneth Lonergan (Manchester by the Sea), Barry Jenkins (Moonlight)

Melanjutkan berang dan kecewa terhadap AMPAS, absennya Martin Scorsese dalam kategori ini juga tidak bisa diabaikan begitu saja. Tanpa mempertimbangkan perjuangan seorang legenda untuk merealisasikan passion project selama 28 tahun, jalan Damien Chazelle menuju kemenangan semakin mulus.

Memang harus diakui, jika ada satu nominasi yang paling pantas dimenangkan La La Land, maka nominasi tersebut adalah Best Director. Tidak usah bicara kelihaian teknis, fakta bahwa Chazelle mampu meyakinkan studio untuk menggarap film musikal orisinil di era franchise dan remake merupakan pencapaian tersendiri. Reaksi positif baik dari kritikus dan penonton awam semakin membuktikan daya magis yang dimiliki Damien Chazelle.

Prediksi: Damien Chazelle.

 

La La Land

Best Actor

Casey Affleck (Manchester by the Sea), Andrew Garfield (Hacksaw Ridge), Ryan Gosling (La La Land), Viggo Mortensen (Captain Fantastic), Denzel Washington (Fences)

Berbeda nasib dengan abangnya yang diperlakukan kurang adil karena keterpurukan Batman v Superman, Casey Affleck kebanjiran pujian berkat performanya di Manchester by the Sea. Sebagai Lee Chandler, Affleck sebelumnya telah menerima penghargaan aktor terbaik dari Golden Globe dan BAFTA. Sehingga kemenangannya di kancah Oscar tidak akan memberi kejutan apa-apa. Namun, Denzel Washington tidak bisa begitu saja dilupakan. Ia terlebih dahulu mendapatkan penghargaan Tony Award melalui produksi Broadway Fences. Merangkap sebagai sutradara dalam adaptasi filmnya, piala Oscar ketiga bukan sekedar angan-angan bagi Denzel Washington. Sementara Ryan Gosling rasanya tidak bisa sekedar mengandalkan cipratan euforia La La Land. Seandainya ia dinominasikan untuk The Nice Guys, mungkin ceritanya akan berbeda.

Prediksi: Casey Affleck dan Denzel Washington punya kesempatan yang sama besar.

Best Actress

Isabelle Huppert (Elle), Ruth Negga (Loving), Natalie Portman (Jackie), Emma Stone (La La Land), Meryl Streep (Florence Foster Jenkins)

Harus ada perbincangan serius untuk mengganti nama kategori ini menjadi “The Meryl Streep Award.” Sejak pertama kali dinominasikan melalui The Deer Hunter, tercatat sudah ada 20 nominasi Oscar atas namanya. Tahun ini juga menjadi momentum kembalinya Natalie Portman yang sejak Black Swan justru sering terjebak memainkan karakter-karakter setengah matang. Bicara momentum, sekarang adalah waktu yang tepat bagi Emma Stone untuk menuai buah dari karirnya yang terus melejit sejak Superbad.

Namun, jika ditanya siapa aktris terbaik di kategori ini, lancang rasanya untuk membanding-bandingkan Isabelle Huppert dengan yang lain. Selain Elle, selama tahun 2016 beliau juga tampil gemilang di Things to Come, Souvenir, dan Tout de suit maintenant. Jika anda mulai kecanduan pesona seorang Isabelle Huppert, sempatkan pula untuk menonton film klasik lainnya seperti The Piano Teacher, 8 Women, dan Violette Noziere.

Prediksi: Isabelle Huppert tidak perlu piala baru untuk membuktikan kapasitasnya yang tak terukur. Maka dari itu, “The Meryl Streep Award” agaknya akan dilimpahkan kepada Emma Stone.

 

Moonlight

Best Supporting Actor

Mahershala Ali (Moonlight), Jeff Bridges (Hell or High Water), Lucas Hedges (Manchester by the Sea), Dev Patel (Lion), Michael Shannon (Nocturnal Animals)

Dari 24 nominasi Oscar tahun ini, kategori Best Supporting Actor merupakan salah satu yang paling sulit untuk diterka. Rujukan kemenangan tak terduga Mark Rylance tahun lalu juga semakin memperkeruh prediksi. Penampilan Jeff Bridges pada Hell or High Water tidak tanggung-tanggung banyak menarik persamaan dengan karakter Sheriff Ed Tom Bell dari No Country for Old Men. Michael Shannon juga sukses menambah daya tarik Nocturnal Animals. Tetapi, jika AMPAS memang istiqomah dalam menerima keberagaman, maka Mahershala Ali adalah pesaing terberat dalam kategori Best Supporting Actor. Meski berada di layar dalam waktu terbatas, karisma yang dibawanya ke dalam karakter Juan bisa terasa sepanjang film.

Prediksi: Mahershala Ali.

Best Supporting Actress

Viola Davis (Fences), Naomie Harris (Moonlight), Nicole Kidman (Lion), Octavia Spencer (Hidden Figures), Michelle Williams (Manchester by the Sea)

Melirik materi yang dimainkan masing-masing aktris, pecandu narkoba sekaligus ibu dari seorang anak dengan pergulatan batin mengenai identitas seksual memiliki beban terbesar. Dihadapi tantangan seperti ini, Naomie Harris mampu menghidupkan karakter Paula sebagai salah satu elemen penting dalam perjalanan hidup Chiron di Moonlight. Seluruh spektrum emosi bisa dirasakan lewat hubungan pelik antara ibu dan anak. Simpatik, benci, dan sayang, semuanya terbalut dalam penyesalan di ujung kehidupan. Di sisi lain, Viola Davis berhasil membangun hubungan dinamis sekaligus mengimbangi keberingasan akting Denzel Washington. Apa yang mereka berdua lakukan dalam adaptasi film Fences bukanlah sekedar repetisi atau bermain aman.

Prediksi: Duel sengit antara Naomie Harris dan Viola Davis.

 

Naomie Harris

Best Original Screenplay

Taylor Sheridan (Hell or High Water), Damien Chazelle (La La Land), Yorgos Lanthimos dan Efthimis Fillipou (The Lobster), Kenneth Lonergan (Manchester by the Sea), Mike Mills (20th Century Women)

Kecemerlangan penaskahan Hell or High Water dan keunikan The Lobster bukanlah sesuatu yang sering datang. Namun, keduanya dapat dengan mudah tereliminasi karena masing-masing tak akan lepas dari label terlalu “aksi” dan terlalu “artsy.”

Damien Chazelle tidak hanya menyajikan nostalgia romantis ke era Hollywood Klasik yang serba cerah. La La Land justru hadir sebagai evolusi film musikal, berani dan sadar untuk meninggalkan tradisi atas nama penyegaran. Jika turut memperhitungkan tren dan preferensi AMPAS, dua penghargaan pribadi untuk Damien Chazelle awalnya bisa hampir dipastikan. Namun, seberapapun besarnya cinta AMPAS terhadap musikal, masih kalah dengan cintanya pada dramawan macam Kenneth Lonergan. Lewat Manchester by the Sea, kompleksitas depresi dan pengampunan diri tersampaikan layaknya tragedi yang elegan.

Prediksi: Kenneth Lonergan untuk Manchester by the Sea.

Best Adapted Screenplay

Eric Heisserer (Arrival), August Wilson (Fences), Alisson Schroeder dan Theodore Melfi (Hidden Figures), Luke Davies (Lion), Barry Jenkins dan Tarell Alvin McCraney (Moonlight)

Best Adapted Screenplay sejatinya dipengaruhi lebih banyak faktor ketimbang nominasi tetangga. Terlebih lagi, naskah adaptasi tidak pernah terlepas dari perbandingan dengan materi aslinya. Kelima naskah ini juga telah banyak memenangi penghargaan dari organisasi lain. Sekarang, hal yang mungkin tidak terlalu signifikan seperti kematian August Wilson bisa turut masuk ke dalam pertimbangan. Lion dan Hidden Figures banyak menarik perhatian penonton umum di akhir musim Oscar. Moonlight mampu berkata banyak melalui perjalanan personal seorang karakter yang melampaui segala identitas dan label yang seringnya menyesatkan. Terakhir, Arrival yang awalnya terkesan seperti film sci-fi cerebral penuh teori rupanya bisa turut mengajak penonton untuk berkontemplasi dalam taraf spiritual.

Prediksi: Arrival dan Moonlight memimpin persaingan yang masih terbuka lebar.

 

Fire at Sea

Best Documentary  – Feature

Fire at Sea (Gianfranco Rosi dan Donatella Palermo), I Am Not Your Negro (Raoul Peck, Remi Grellety, dan Hebert Peck), Life, Animated (Roger Ross Williams dan Julie Goldman), O.J.: Made in America (Ezra Edelman dan Caroline Waterlow), 13th (Ava DuVernay, Spencer Averick, dan Howard Barish)

Kehidupan anak autis yang cuma mampu berkomunikasi lewat kartun Disney dan Pixar masih kalah seksi ketimbang krisis imigran di Eropa. Kemudian ada pula kasus O.J. Simpson yang telah mengakar pada wawasan kebudayaan Amerika Serikat, sama halnya dengan sejarah rasisme terhadap kulit hitam secara umum.

Tapi, jika ingin berbicara subjek kritis yang tidak sekedar agitasi, jawabannya adalah 13th. Dalam dokumenter ini, Ava DuVernay merunut hipotesis yang cukup subversif. Intinya ia melihat perbudakan tidak begitu saja dihapuskan dengan Amandemen ke-13 dalam Konstitusi Amerika Serikat, melainkan beradaptasi ke dalam labirin sistem peradilan. Dipikir dua kali, rasanya hipotesis ini terlalu subversif dan sulit dicerna mayoritas juri Oscar yang kolot.

Prediksi: Fire at Sea sebagai pilihan paling aman, 13th jika pintu hati para juri Oscar telah terbuka.

Best Cinematography

James Laxton (Moonlight), Rodrigo Prieto (Silence), Greig Fraser (Lion), Linus Sandgren (La La Land), Bradford Young (Arrival)

Kali ini nama Emmanuel Lubezki tidak terdaftar di catatan para juri. Capaian impresifnya selama tiga tahun berturut dengan preferensi gaya melebar dan detail penuh keeksotisan tergantikan oleh dalil penyegaran atas sosok Bradford Young, Linus Sandgren, James Laxton, Rodrigo Prieto, serta Greig Fraser. Deretan persona yang mewakili kualitas film penuh citra, ragam, maupun karisma. Menjanjikan visual yang elok, itu pasti. Menghidupkan jalannya narasi, barang tentu. Cukup sulit menentukan siapa yang menjadi jawara karena kapabilitas mereka bersaing secara kasat mata. Namun dibalik alasan tersebut, Bradford Young bersama ahli linguistiknya kiranya bakal keluar menggondol piala. Memberi nyawa pada letupan makhluk angkasa adalah anugerah luar biasa yang meninggalkan jauh kasus patah hati atau ekspedisi lintas benua bermotif agama.

Prediksi: Jalur kompetisi dipastikan berjalan sengit. Tapi agaknya, Bardford Young sedikit di atas angin.

 

Arrival

Best Visual Effects

Rogue One: A Star Wars Story (John Knoll, Hal Hickel, Neil Corbould), Deepwater Horizon (Craig Hammack, Burt Dalton, Jason Billington), Doctor Strange (Stephane Ceretti, Richard Bluff, Paul Corbould), The Jungle Book (Robert Legato, Dan Lemmon, Adam Valdez), Kubo and the Two Strings (Brad Schiff, Oliver Jones, Brian McLean)

Setelah Ex-Machina menghadirkan kejutan yang membuat comeback Lucasfilms terlihat tanpa guna, tahun ini rasanya sulit membayangkan hal itu terulang lagi. Lewat Rogue One: A Star Wars Story, mereka telah mempersiapkan serangan pembalasan. Sosok Princess Leia dibangkitkan kembali, kegelapan Darth Vader menyebarkan aura teramat elegan, General Tarkin muncul penuh wibawa, dan serangkaian peperangan aliansi pemberontak melawan angkuhnya Empire yang memuaskan katup fantasi. Singkatnya, dosis penambahan efek diteteskan tepat takaran. Pun ditambah penggunaan CGI yang dipoles tanpa cela membawa petualangan Jyn Erso bertaburan warna. Tapi awas, The Jungle Book bisa saja mencuri atensi dari belakang lantas mengaburkan asa yang sudah dipupuk entah sejak kapan.

Prediksi: Potensi The Jungle Book patut diwaspadai.

Best Film Editing

Tom Cross (La La Land), John Gilbert (Hacksaw Ridge), Jake Roberts (Hell or High Water), Joi McMillon (Moonlight), Joe Walker (Arrival)

Ada semacam kesepakatan tidak resmi yang mengatakan bahwa pemenang kategori Best Picture juga dipastikan menjadi jawara pada bilik Best Film Editing. Hanya prasangka belaka atau memang terdapat garis keterhubungan, tak usah dihiraukan. Tetapi yang jelas peran editing sendiri sangat krusial; memastikan kerapian dalam kepingan film terjaga dengan sistematis. Alhasil, dua pion beradu cukup sengit. La La Land yang disulap penuh gemerlap musikal serta Arrival yang mengejutkan lewat kesenyapan maupun teka-teki misteriusnya. Dibalik itu semua, Joe Walker masih berupaya keras mendapati penebusan selepas 12 Years A Slave (2013) dan Sicario (2015).

Prediksi: Joe Walker mendapatkan penebusan.

Best Animated Feature Film

Moana (John Musker, Ron Clements, Osnat Shurer), Zootopia (Byron Howard, Rich Moore, Clark Spencer), My Life as a Courgette (Claude Barras, Max Karli), The Red Turtle (Toshio Suzuki, Michaël Dudok de Wit), Kubo and the Two Strings (Travis Knight, Arianne Sutner)

Nominasi yang pertama kali muncul pada medio 2000 ini masih menyisakan banyak pertanyaan sekaligus rasa penasaran. Pamor Walt Disney yang merajai kesuksesan di lima tahun terakhir meninggalkan suatu kesan klise; tak ada kejutan berarti. Di sisi lain, muskil kiranya membayangkan prestasi Beauty and The Beast dan Toy Story yang masuk dalam jajaran terbaik kategori Best Picture di eranya terjadi untuk kali ketiga. Walaupun demikian, tak sulit bagi Zootopia merengkuh gelar kehormatan. Kekuatan cerita dan eksekusi yang brilian merapatkan pendapat keyakinan para penilai. Menyentil kiprah manusia laiknya ode Animal Farm membuat animasi besutan duo Byron Howard-Rich Moore tersebut berada di atas pesaingnya. Namun, alangkah baiknya kita sambut kehadiran lagi produksi Ghibli lewat The Red Turtle.

Prediksi: Tak ada hambatan berarti untuk Zootopia.

 

Zootopia

 

Best Original Music Score

La La Land (Justin Hurwitz), Jackie (Micachu), Lion (Dustin O’Halloran, Volker Bertelmann), Passengers (Thomas Newman), Moonlight (Nicholas Britell)

Alunan jazz yang meliuk tajam seolah mengajak larut dalam pesta perpisahan. Dengan jemari Sebastian yang menari lincah di atas rapinya tuts piano atau suara Mia yang terdengar jujur apa adanya, membuat kita tak lelah untuk senantiasa bermimpi. Tak ketinggalan cabikan contrabass yang seksi serta harmoni summertime yang aduhai menggenapkan kemeriahan kolosal nan repetitif. Semenjak Terence Fletcher mengepulkan komposisi pada big band asuhannya di masa Whiplash, sejak itu pula Justin Hurwitz tumbuh sebagai penata musik jempolan. Di usianya yang masih menginjak angka 30, prestasinya berjalan lurus menuju kiprah Hans Zimmer atau John Williams. Alasan ini juga yang semakin menebalkan kemenangan mutlak La La Land dibanding yang lainnya.

Prediksi: Selain impiannya membuka klab jazz terealisasi, Sebastian akan memandu rekannya menerima piala di Dolby Theatre.

Best Original Song

“City Of Stars” (Justin Hurwitz, Benj Pasek, Justin Paul), “The Empty Chair” (Sting, J. Ralph), “Audition (The Fools Who Dream)” (Justin Hurwitz, Benj Pasek, Justin Paul), “How Far I’ll Go” (Lin-Manuel Miranda), “Can’t Stop the Feeling!” (Justin Timberlake, Max Martin, Shellbac)

Pertanyaannya adalah lagu milik Mia atau Sebastian yang bakal jadi pemenangnya? Justin Paul, Benj Pasek, dan Justin Hurwitz menciptakan repertoir yang sama-sama ikonik. Sebuah balada yang terbalut atas irama pop dan sentuhan jazz ala Billie Holiday yang bermuram durja. Jika kegundahan Anda berada di selaput kepala, putar saja “City of Stars”. Tapi, apabila ingin bara pembuktian diri terus menyala lentera, nyanyikan “Audition (The Fools Who Dream)” agar mulut yang meremehkan mampu terbungkam seketika. Untuk kali ini, rasa syukur patut diucapkan tatkala nominasi original song pada helatan Oscars memuat karakter yang berkekuatan filosofis.

Prediksi: Meski hanya keduanya yang dijagokan kuat, namun akhir dari kisah Sebastian dan Mia tak pernah bisa berubah.

Best Foreign Language Film

Land of Mine (Martin Pieter Zandvliet), Tanna (Bentley Dean, Martin Butler), Toni Erdmann (Maren Ade), A Man Called Ove (Hannes Holm), The Salesman (Asghar Farhadi)

Toni Erdmann berjaya di pelbagai festival internasional. Dua di antaranya berupa hegemoni pada European Film Awards dan masuk pilihan Palme d’Or sebelum dikalahkan I, Daniel Blake. Dengan naskah tak terlampau rumit dan dialog-dialog sarat kritik sosial, Maren Ade membawa karyanya tersebut ke ranah pengakuan. Tanpa mengurangi rasa hormat, rasanya The Salesman berhak menerima piala. Selain cerita roman Shahab Hosseini dan Taraneh Alidoosti yang berbungkus imaji Arthur Miller lewat opium Death of A Salesman, juga karena film ini memuat peta makna yang kompleks tentang relevansi sekitar. Politik, konflik masyarakat Timur Tengah, sampai upaya merawat budaya yang kian diperkosa masa. Jika hal itu terealisasi, maka pernyataan Ashgar Farhadi pasca kemenangan akan dinanti dunia; antara Iran, Trump, dan Amerika.

Prediksi: The Salesman berkesempatan mengangkat piala di tengah polemik kebijakan Trump.

 

The Salesman
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response

This site uses Akismet to reduce spam. Learn how your comment data is processed.