close

Purwarupa Kebahagiaan Marsh Kid

marsh kid

Berkarya di luar band utama, memang sering dilakukan banyak musisi untuk mengusir apa yang disebut kejenuhan. Membiarkan proses kreatif agar terus berjalan dengan semestinya, terkadang juga dijadikan sebab musabab pembenaran. Namun, apa yang dilakukan Marsh Kid bisa jadi perbedaan.

Marsh Kid adalah entitas bersenang-senang, setidaknya itu yang dirasakan oleh Ade Paloh, Sigit Pramudita, Giovanni Rahmadeva, Billy Saleh, Gonzo, dan Binsar Tobing. Berasal dari berbagai latar belakang kancah independen, tak menyurutkan semangat mereka dalam menghasilkan kebebasan berseni. Hasilnya, sebuah album dengan tajuk Many Failings of Bugsy Moonblood dapat Anda nikmati sembari meneguk kehangatan segelas kopi.

Dan dalam sesi bincang kali ini, Marsh Kid bertutur kata tentang banyak hal. Dari ekspektasi sampai impian semua dijelaskan dengan runtut tanpa pengecualian.

marsh kid
marsh kid

 

Apa makna dari Marsh Kids buat kalian sendiri mengingat awalnya ini hanya proyek kolaborasi beberapa personel dari 4 band. SORE, Tigapagi, Polka Wars, dan Duckdive.

Dari awal kami bukan membuat proyek kolaborasi, tapi kami membuat entitas baru dengan menanggalkan embel-embel yang sudah ada sebelumnya, istilah mutakhirnya mungkin: associated acts.

Marsh Kids adalah tempat dimana hati kita berpaling sejenak dari segala kegiatan dan hiruk pikuk yang datang setiap hari. Kalau pada akhirnya toh kelompok ini dapat dikatakan sebagai proyek kolaborasi; ialah bukan hanya karena kami ber-6 yang terlibat di sini, melainkan di luar kami pun banyak sekali sahabat kami yang turut serta bermain bersama, baik secara live atau pada saat rekaman. Bisa jadi yang disebut Marsh Kids nantinya ialah semua orang yang pernah singgah di pondok tempat kami bersenang-senang secara bebas ini. Ada yang ingin ikut bergabung? Sila turut serta!
Bagaimana cara kalian memberi ruang akomodasi mengingat masing personil punya ‘band utama’ di luar Marsh Kids?

Segalanya berawal dari kami yang tidak menargetkan apa pun, apalagi menciptakan limitasi baik di band ini mau pun hal lain di luar band. Justru di sini lah ruang bagi setiap personil untuk dapat melakukan eksperimen – sehingga mereka pun dapat memiliki kompetensi baru yang dapat diterapkan di eksisten-eksisten mereka masing-masing.

Sedikit contoh misalnya: tak heran bila Gonzo (keyboard/synth) dalam seri album Duckdive berikutnya nanti akan ada sedikit perubahan dari segi tata cara produksi suara. Dan sebaliknya, di kemudian hari timbal balik dari pengalaman tersebut pasti akan dirasakan juga oleh Marsh Kids.
Singkatnya, tidak ada yang dipertaruhkan di sini, jadi kalau kami mengakomodasikan seluruh personil untuk berani bermain sepuasnya, kenapa tidak? Mungkin caranya hanya terus menerus menjadi gila sekaligus memberikan kepercayaan saja kepada sesama personil.

Ingin diteruskan dengan membuat album lagi atau hanya cukup satu album?

Kami terlanjur mencintai proses serta kebersamaan ini. Tentu saja besar harapan, kami ingin sekali membuat sebanyak-banyak album yang dapat kami hasilkan kelak. Yang kemungkinan secara tematik akan terus berbeda dalam setiap albumnya.
Berbicara album kalian The Many Failings of Bugsy Moonblood itu seperti lanskap taman bermain dan tertawa milik kalian. Apa ekspektasi kalian terhadap album itu?

Benar adanya jika kami bermain dan tertawa kembali layaknya anak kecil di sini. Kami pun baru menyadari bahwa perbedaan band ini dengan entitas band kami masing-masing bisa jadi ialah:

“Kami berkumpul dulu baru kemudian secara spontan membuat musik/band BUKAN membuat musik/band dulu lalu mau tidak mau wajib berkumpul secara rutin demi mencapai tujuan dalam membuat musik atau hal apapun yang terkait.”
Asal muasal visi kami berdampak pada ketiadaan akan bentuk ekspektasi apa pun, karena yang kami lalukan murni hanya bermain sembari mengikuti takdir yang sudah digariskan; mengadakan sesuatu yang sediakalanya tidak ada menjadi ada dan bernilai, setidaknya bagi kami.
Di album kalian terdapat banyak sekali genre yang dimasukkan. Indie pop, retro, jazz, funk, dan folk rock. Apakah ini dampak dari kebebasan bermain kalian di album ini?

Bisa jadi. Terus terang kami hanya bermain. Bahkan tidak ada istilah egaliter atau demokrasi di sini, karena jelas seorang anak kecil pasti belum mengenal istilah tersebut, dan sejauh ini kebebasan seperti itulah yang diperlukan (khususnya di album debut kami).

Kami membiarkan tendesi tersebut terjadi secara apa adanya, agar di dalam pun terasa rekat. Mengingat ini album pertama dan jumlah personil kami cukup banyak. Jadi output apa pun (termasuk berbagai unsur genre) yang tercipta pada akhirnya akan kami dekap dengan suka cita. Tak heran bila Alm. Denny Sakrie pernah berkata bahwa genre Marsh Kids dalam album ini ialah: “pop konsentrasi”.

Sedangkan untuk album berikutnya, kami belum tahu prosesnya akan seperti apa.

Saya mendengar pengaruh musik SORE di album kalian begitu terasa sekali. Bagaimana menurut kalian?

Sekitar 65% kerangka lagu di album ini dibuat oleh F. Paloh. Kemudian beliau sendiri juga banyak menyanyikan lagu ciptaannya dengan teknik legato & nuansa sengau yang telah menjadi ciri khasnya. Secara nyawa, pendapat tersebut tentu sangatlah relevan.

Sedangkan dari sisi aransmen, album ini kami kerjakan secara bebas tanpa acuan tertentu. Pun kami semua gemar mengacak-acak wujud/bentuk serta formula setiap karya yang terlahir dari sejak demo. Hampir seluruh lagu menjadi terasa sangat berbeda ketika sudah beranjak ‘tanak’. Proses perubahan setiap lagu sudah merupakan suatu kepuasaan tersendiri bagi kami.

Dan bagi kami sound dari Marsh Kids perlahan telah kami resapi dan maknai, sebagai bekal di album-album berikutnya nanti. Kemudian apabila masih terasa ada sebagian ‘nyawa’ dari beberapa entitas kami sebelumnya, menurut kami itu ialah hal yang sangat wajar. Kami percaya perlahan band ini akan menemukan rumusan takdirnya sendiri.
Bagaimana pembagian porsi masing-masing personil dalam pengerjaan album kalian? Apakah ada sebutan ‘frontman’ di Marsh Kids, yang sering dipandang mendominasi alur koordinasi antar personil?

Tidak ada istilah frontman apalagi sosok yang mendominasi di sini. Bahkan menjelang kelahiran album debut ini, kami mendwifungsikan personil untuk mengurus hal yang bersifat manajerial hingga teknikal seperti; mixing, design, produksi fisik album, hingga merchandising. Semua kami lakukan secara bahu-mambahu.

Setiap personil berhak mendapatkan kebebasannya secara merata di sini, dari mulai pada saat proses songwriting hingga recording dilakukan. Dalam hal decision making misalnya, kami pernah memposting (video) ulah kami di ranah socmed, ketika menentukan opsi aransemen dengan cara melakukan ‘gambreng’.

Inspirasi yang mempengaruhi warna musik Marsh Kids?

Musisi-musisi tahun 70-80an, khususnya yang berasal dari Amerika & Asia. Dan tentu saja berbagai macam film dari sana. Mungkin film-film yang berlatar pantai, highway atau gurun di seluruh pesisir California. Bisa jadi Catatan Si Boy pun juga termasuk.

Musisi indie yang berpotensi mempunyai daya ledak menurut kalian? Apakah Marsh Kids termasuk dalam kategori itu?

Belakangan kami sangat menyukai beberapa nama berikut:
-Future Collective
-Ikkubaru
-Cactus Plaza

Kami sepertinya tidak berhak bersabda apa pun mengenai pertanyaan tersebut.

wawancara oleh: Muhammad Faisal

Tags : marsh kid
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response