close

Puthut EA: Sedikit Mojok Banyak Recok

puthut.dok (1)

Dari penulis langganan surat kabar dan kepustakaan, Puthut EA menolak terkubur oleh digital, dan menjadi pemilik situs kritik paling dugal di Indonesia

Puthut EA. Dok Puthutea.com
Puthut EA. Dok Puthutea.com

Wawancara oleh: Soni Triantoro & Tomi Wibisono

Warnanya merah kehitaman. Rasanya manis tipikal sirup dan bercecah asam. Sejumput aroma wangi terhirup. Namanya sirup kawista, acap disebut kola jawa. Biasanya minuman berembel-embel Jawa cenderung disajikan hangat. Sementara sirup kawista ini terteguk segar dengan air dingin. Asalnya dari buah kawis yang tergolong rumpun jeruk-jerukan, dan merupakan minuman khas Rembang. “Minuman daerahku itu,” ujar Puthut EA.

Sirup kawista adalah salah satu menu paling menarik di Angkringan Mojok, warung makan binaan Puthut yang tentu bukan jenis angkringan dorong, melainkan serupa kafe yang menyediakan makanan khas angkringan—apa ini yang disebut angkringan modern? Malam itu cukup ramai di sana, namun agaknya ada keramaian lain yang lebih menggelayuti pikirannya: ribuan pengunjung situs Mojok.co.

Barang tentu jelas ‘Mojok’ yang mana yang membuat WARN!NG—sejauh belum ganti haluan menjadi majalah kuliner—hadir di sana menemui Puthut. Namun, sebelum kami sempat menjelaskan, ia malah mendahului mewawancarai kami.

“Oh masih ada ini Death Vomit? Saya pernah mentasin ini, waktu dulu kerja EO,“ tanyanya sambil membuka-buka edisi tiga majalah WARN!NG dan menanyakan beberapa nama lain. Paling antusias ia bercakap tentang Silampukau, duo folk jempolan asal Surabaya. “Hanya ada lagunya mereka di mobilku,” ungkapnya.

Puthut ialah salah satu biang yang menanggap Silampukau di Pasuruan pada November lalu. Mereka ditonton sekitar tiga puluh orang, dan menurutnya memang lebih layak begitu, “Karakter musiknya tidak untuk banyak orang. Kecuali dia pakai orkestra sekalian. Musiknya bukan untuk open space. Karakter lagunya susah kayaknya kalau di panggung besar.” Sebuah analisis menarik kendati ia berakhir mengaku tak punya referensi dan selera musik mumpuni.

Silahkan jikalau ingin memperdebatkan asumsinya perihal Silampukau. Namun, Anda mesti lebih saksama mendengarkan apa yang terkuak darinya dalam topik perbincangannya selanjutnya, seputar media massa.

Belum genap usia kepala empat, Puthut sudah banyak makan asam garam di jagat media. Sejumlah media ia bidani, dari yang politis (Bongkar), sastra (Ajaib), alternatif (On/Off) hingga kini setidaknya ada lima situs dengan besaran konten berlainan yang dipunggawainya: Minumkopi, Pindai, Jombloo, Fandom, dan pastinya, Mojok.co.

Sepak terjangnya sebagai penulis sendiri tak kalah mentereng. Namun, seperti yang sudah-sudah, ia menghalau sebutan sastrawan. “Kalau sastrawan kan hanya menulis sastra ya. Itu bukan berarti nggak bagus. Tapi sejak dulu saya bukan hanya menulis sastra. Cuma karena saya menulis sastranya itu di Kompas, jadi lebih dikenal sebagai sastrawan. Saya itu sebenarnya peneliti sosial juga. Menulis esai juga. Dan tantangannya beda ya kalau penulis sama sastrawan kan.”

Secara kasatmata, ia memang tak tampak seperti sastrawan. Sejujurnya, penulis pun tidak terlalu. Setidaknya malam itu. Ada titik di tengah obrolan yang membuat kami mendekati lalai bahwasanya tengah bicara dengan sosok di balik novel-novel elok seperti Cinta Tak Pernah Tepat Waktu atau rentetan cerpen terpilih dalam sejumlah bunga rampai Cerpen Pilihan Kompas.

Lewat potongan dan pembawaannya, Puthut lebih memperlihatkan personanya sebagai pengusaha berwawasan luas yang tengah bersantai di kerajaannya sendiri. Entah karena topik obrolan atau memang usahanya sedang laris-larisnya.

“Sudah 44 ribu pengunjung hari ini. Mungkin akan tembus 50 ribu. Ini rekor. Active visitor-nya 326. Kita rata-rata 120. Ini tadi siang menyentuh angka 560,” terangnya, yang tentu tidak sedang bicara tentang pengunjung angkringan. “Saya sudah khawatir ini servernya jebol. Sudah beberapa kali kita jebol kan.”

Entah juga kebetulan atau WARN!NG membawa hoki, pertemuan kami tepat di hari penting Mojok.co. Selain rekor pengunjung terbanyak, pertama kalinya juga Mojok.co menancapkan trending topic di Twitter, yang tiada lain adalah tulisan Puthut sendiri. Bertajuk Salah Apa HMI Kok Dihujat?, ia menanggapi warta yang suam-suam kuku di masyarakat ihwal cacat laku Himpunan Mahasiswa Islam (HMI). Mereka makan biaya APBD Provinsi Riau sebesar tiga miliar, memblokade jalan karena tidak mendapat fasilitas penginapan, dan makan dengan porsi 21 bis di sebuah warung tanpa mau membayar.

Cemeeh dan kecaman pada HMI sebelumnya berterbangan di sana sini. Artikel Puthut mencoba melihat ulah sensasional HMI lebih sebagai perpanjangan rasa kecewa atas pudarnya kejayaan mereka sedari era reformasi. Pamor semakin surut dan mereka menderita sekarat eksistensi yang berujung darurat caper (cari perhatian)—yang bergaris tipis dengan cari masalah. ”Saran saya mulai sekarang, berhentilah menghujat HMI. Dan mulailah menertawakannya,” kalimat pamungkas di artikel tersebut. Puluhan ribu orang membacanya. HMI mendapat perhatian—plus tertawaan—dan mesti berterimakasih pada Puthut.

“Dan itu enggak kita desain. Sebenarnya kita bisa bikin trending topic sendiri. Banyak teman. Tapi kan itu enggak kita desain. Hanya Mojok.co mempublikasikan ada tulisan baru dan lalu direspons oleh netizen kita,“ tukasnya lagi.

 

Apa yang dicapai Mojok.co diakui Puthut memang melampaui ekspetasi. Apalagi sekilas seperti tak ada yang spesial dari konsep situs Mojok.co itu sendiri. Tak terlalu mencolok dari portal sejenis yang dihidupi oleh kontribusi tulisan opini publik. Namun, bacalah dua-tiga artikel, dan Anda akan menemukan tawar pikatnya. Semua ditulis lewat gaya tutur bandel yang khas. Semacam esai-esai singkat dengan pendekatan ujaran yang ekspresif atau manasuka, tetap dalam upayanya membuka cakrawala tanpa mesti terantuk pagar-pagar ketabuan.

Idenya berawal sederhana, dari bagaimana Puthut mengamati status-status teman-temannya di Facebook. Sebuah gagasan muncul untuk mendokumentasikan dan mengembangkan budaya penulisan status-status itu ke dalam ruang tulis yang berporsi lebih. Padanannya pun ketemu tatkala aksi selancar dunia mayanya suatu kala terdampar di Malesbanget.com, sebuah portal konten humor.

Puthut EA Dok.Ist
Puthut EA Dok.Ist

“Saya lihat kalau situs Malesbanget.com dan yang lain-lain itu belum ada yang berani masuk ke tema-tema yang agak sensitif. Misalnya politik, agama, sosial. Yang agak-agak berat. Sementara di status Facebook teman saya itu banyak yang mengupas hal-hal sensitif itu dengan cara yang menarik. Jadi itu yang saya jadikan positioning dan diferensiasinya, yang kemudian jadilah Mojok.co itu.”

Maka, lahirlah situs Mojok.co pada medio 2014. Lewat slogan ‘Sedikit Nakal Banyak Akal’, Mojok.co bergegas mencuri perhatian insan-insan dunia maya. Topik tulisan yang diangkat cukup leluasa. Kadang kala sepele, namun acap kali serius. Seperti kritik sosial pada kebijakan pemerintah, ormas-ormas ‘baperan’, lika-liku komunisme, persabungan agama, hingga kedaulatan perokok. Ini berperan juga membentuk sensasi intelektualisme pada diri Mojok.co dan pembaca setianya. Semuanya dijalankan dengan sistem rilis dan publikasi yang rapi serta aktual. Artikel-artikel Mojok.co hampir tak pernah terlambat merespons isu-isu yang tengah berkembang di masyarakat.

Namun, memang peran gaya tutur yang lebih bangor dan melibatkan humor—kebanyakan satir, dan kocaknya, banyak pembaca kedapatan salah tangkap—yang kiranya membuat Mojok.co sedemikian akseptabel. Kadang ada juga seloroh-seloroh internal, saling menistakan klub sepakbola favorit atau umbar ke-jomblo-an antar nama-nama penulis reguler di dalamnya seperti Eddwards S. Kennedy, Agus Mulyadi, Arman Dhani, Iqbal Aji Daryono, hingga Candra Malik atau Muhidin M Dahlan.

Konsekuensinya, Mojok.co menjadi situs yang sensitif. Suguhan kritik sosial yang intens lagi permisif dalam konten-kontennya punya potensi los yang tinggi. Terutama pada figur-figur yang sudah menjadi bulan-bulanan atau obyek kritik bersama dari khalayak dan penulis Mojok.co, seperti Ahok, PKSpiyungan, Felix Siauw, MUI (Majelis Ulama Indonesia), Jonru, dan banyak lainnya. Ini memang rawan. Puthut yang—alih-alih owner atau CEO—menyebut dirinya sebagai Kepala Suku, wajib siap sedia turun tangan ketika segalanya kebablasan. Salah satunya ketika MUI menuntut setidaknya sepasang artikel Mojok, Karl Marx pun Mengamini Fatwa Haram BPJS dan MUI Perlu Memfatwa Haram Dirinya Sendiri atau Bikin MUI Bersyariah yang dianggap fitnah. Kedua artikel itu mengecam isu putusan MUI untuk mengharamkan layanan BPJS. Padahal, usut punya usut, MUI sendiri belum mengeluarkan fatwa haram. Namun, Puthut segera ambil langkah seribu dengan merilis permintaan maaf di situs, dan cukup direspons positif oleh publik.

Syahdan, antusiasme tak sekedar dari pembaca, namun juga mereka yang ingin berkontribusi untuk dimuat karyanya di Mojok.co. Animo pengiriman naskah tulisan kian meningkat. Dari hanya butuh kurasi antar dua sampai tiga tulisan per hari, kini menanjak sepuluh hingga dua puluh tulisan per hari.

Puthut menuturkan,“Kurasi ketat karena yang ngirim banyak. Sekarang kan orang mau ngirim ke Mojok aja mikir. Itu jeleknya. Saya sering ketemu sama orang yang tanya,’Susah ya diterima oleh Mojok?’ ‘Ya mungkin susah.’ Tapi saya sering tanya juga,’Sudah pernah ngirim?’ ‘Belum’.

Ia melanjutkan,“Mereka menyensor dirinya sendiri. Karena dianggap sudah banyak penulis yang tenar. Padahal itu nggak ada jaminan. Agus Mulyadi itu engagement-nya bagus. Tapi kalau tulisannya enggak bagus menurut kami, ya enggak tayang. (Arman) Dhani ya nggak selalu naik. Sehari rata-rata sepuluh sampai dua puluh tulisan. Yang naik hanya satu.”

Malam itu, laskar badung pimpinan sang Kepala Suku tersebut tengah mengadakan rapat di ruangan lain Angkringan Mojok. Dari meja kami, tampak suasana rapat yang dinamis di ruang itu. Sementara entah siapa lagi yang sedang dirundingkan sebagai alamat akal nakal mereka, Puthut tetap meluangkan waktunya untuk meladeni pertanyaan demi pertanyaan WARN!NG dengan saksama dan tanpa berbelit-belit. Masih perihal Mojok.co, lika-liku penulisan di rezim digital, juga mengapa ia lebih menyukai Silampukau dibanding lagu Ahmad Dhani:

Apakah situs dengan konsep kontribusi terbuka seperti Mojok.co menjadi salah satu jawaban untuk era media digital hari ini?

Saya enggak tahu. Tapi ada banyak teman saya yang mengeluh. Karena misalnya, mereka meng-hire penulis yang sama dengan di Mojok. Kadang kala membayar lebih tinggi, tapi kenapa tulisannya kok tidak sebagus ketika nulis di Mojok. Mungkin karena nyaman. Enggak diedit. Kita kan nggak pernah ngedit tulisan yang kasar atau apa ya. Kalau editing kan edit bahasa. Kalau editing pemikiran dan editing diksi itu enggak pernah. Kalau orang bilang ‘taek’ ya ‘taek’ aja. Kalau di media lain, mungkin itu persoalan. Nah sehingga kadang-kadang mungkin mereka sudah mengalami swasensor sendiri. Menyensior dirinya sendiri. Kalau di Mojok, mereka nggak perlu.

Lantas sejauh mana keterlibatan Anda di redaksi?

Karena saya kepala suku, artinya saya yang harus bertanggung jawab kalau ada apa-apa di Mojok. Dan Mojok ini kan sensitif. Rentan terhadap kasus-kasus hukum karena bisa menyinggung banyak orang. Sehingga secara politis saya harus memastikan bahwa ini politically correct. Diksi dan cara berpikir enggak ada masalah, tapi yang penting politically correct. Enggak SARA misalnya. Jadi seandainya kita berurusan dengan hukum, saya ada pada jalur yang saya rasa bahwa itu benar.

Yang kedua, naskah kan diterima oleh redaktur. Besok mau naik. Kadang-kadang ada dua atau lebih tulisan yang akan naik. Nah saya memilih diantara dua atau tiga tulisan yang sudah lolos dari redaktur ini untuk siapa yang akan naik dulu. Dan apakah naskah yang lain ditolak atau dijadwalkan naik di waktu lain itu keputusannya ada di saya.

Dan ketiga, saya kadang-kadang—karena sudah terbiasa ya—bisa tahu kalau pembaca lagi jenuh. Atau redaktur sendiri juga lagi jenuh. Nah saya kemudian membikin terobosan-teroboan atau manuver-manuver penyegaran. Misalnya kayak Pekan Kuliner atau Pekan Kota (program di mana artikel-artikel Mojok mengusung topik tematik – Red). Supaya pembaca dapat penyegaran-penyegaran baru. Enggak monoton. Kemudian redakturnya juga mendapat tantangan baru. Enggak mencari naskah-naskah biasanya, tapi mencari naskah dengan topik-topik khusus. Itu kerja Kepala Suku.

bersambung ke -> Wawancara Puthut EA

Tags : puthut ea
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response