close

[Album Review] Rabu – Renjana

rabu renjana
rabu renjana

Rabu – Renjana

Label: YesNoWave Records

Watchful Shot : 

[yasr_overall_rating size=”small”]
Otak di balik proyek genius ini adalah Wednes Mandra. Siapakah pemuda ini? Kalau mengikuti berita ICEMA AWARDS tahun 2013 pasti tidak asing dengan Asangata dan Kultivasi yang masuk dalam nominasi awards musik non mainstream Indonesia tersebut. Nah, Wednes ini juga salah satu mastermind di dua band menjanjikan tersebut, selain beraksi di solo noise-nya, Bangkai Angsa serta Liwoth, kolaborasinya bersama Ican Cangkang Serigala dan dedengkot noise jogja, Krisna Sodadosa. Pendek kata, Wednes ini pelacur band.
Satu yang membuat Rabu berbeda dengan proyekan sebelumnya adalah musiknya yang jauh lebih mudah dinikmati. Di sini Wednes memainkan neo folk dengan blues fidelitas rendah yang gloomy dan penuh gema. Meski beberapa menyebut sound Rabu di album ini terasa kasar, tapi menurut saya sound di album yang direkam di rumah sendiri ini terasa pas dengan nuansa gloomy yang ingin disampaikan. Dibandingkan album demo, nuansa Renjana jauh lebih rapi dengan gema suara vokal yang lebih listenable, tidak berlebihan seperti di demo awal.

Delapan lagu tersaji di album ini termasuk tiga lagu instrumentalia. Diawali dengan “Dru”, sebuah pembuka nirvokal yang menyapa perjalanan astral ini. “Semayam” dibuka dengan permulaan ynag cukup menghantui, dengan permainan fill in gitar Judha yang mengiringi suara bariton Wednes, mendengungkan interpretasinya mengenai cinta dan kebencian yang selama ini bersemayam di jiwa manusia.

“Di Dalam Tidur”, Wednes mencoba bercerita tentang mimpi sebagai bunga tidur yang terkadang menyelubungi cerita yang indah maupun mimpi buruk yang menyertai tidur kita. “Baung” di track selanjutnya bukanlah ‘baung’ nama ikan, tapi merujuk ke lolongan serigala yang identik sebagai binatang pengutuk siang dan pendamba gelapnya malam. Lolongan sang baung terasa mendominasi nuansa lagu ini, serasa menggidikkan bulu roma.

Nada peringatan yang biasa dimainkan di palang pintu kereta ketika kereta lewat dimainkan dengan gitar dan menjadi intro apik di track instrumental, “Kereta Terakhir”. Sementara suara wanita penjaga palang kereta api mengakhiri lagu bernuansa country-ish ini.

“Kemarau”, “Bunda dan Iblis”, “Lingkar” dan “Telaga Kasih” adalah tiga  lagu re-take demo pertama mereka yang ditaruh berurutan di sesi terakhir. Materi versi terbaru mereka tersebut terdengar lebih mencekam dengan penambahan gitar sementara vokal noir Wednes tersimak lebih flamboyan tapi sederhana. “Lingkar” dengan durasi terpanjang di album ini sukses menceritakan sejarah kelamnya peradaban sementara “Telaga Kasih” menutup salah satu album terbaik dari ranah Jogja tahun 2013 ini.

 

Review kontributor, dikirim oleh Words: Indra Menus

Tags : raburenjana
warningmagz

The author warningmagz

Leave a Response